SUMBER
Siang itu saat aku memikirkan bahwa setiap itu pasti memiliki do’a yang mampu menghapus dosa yang begitu ruah, bahwa aku yakin disetiap do’a juga menjadi panutan tersendiri. Sekian waktu aku memikirkan atas dosa yang ku perbuat, bahkan akhirat pun bukan masalah bagiku karena ku mementingkan dunia. Seiring ku memikirkan itu aku tak menyangka dalam benakku terbesik bahwa aku ingin belajar menuntut ilmu akhirat di balik umurku yang 23 tahun ini, aku akan pergunakan sebaik mungkin.
Mengingat usiaku semakin merambas bau tanah, aku tetap saja masih merindukan judi yang setiap hari menemaniku untuk mendapatkan rezeki dari barang harap itu, setiap waktu yang terlintas hanyalah dunia yang tersisih di pikiranku yang hampir renta ini.
Tiba suatu hari aku menaiki tangga mesjid bersahaya untuk mencuri kotak amal.
“ah, gak ada hidup tanpa uang”
Tak salah lagi achan langsung medongkrak dan berusaha mengambil sedekah para insan yang telah ikhlas untuk di gunakan sebagai pembangunan mesjid. Setiap saat achan yang selalu mencari uang hanya untuk merelakan berjudi sepanjang malam.
“ ayoo achan berapa kau berani”( jerat firman anak pak kodim)
Ia menantang achan yang sedang menghitung uang hasil curian hari itu, achan hanya mengangguk kepala ia hanya mencemaskana kekalahan seperti dulu lagi, hingga rumahnya pun menjadi taruhan. Achan merasa begitu bingung dan mempersulit waktu untuk benar-benar ia yakin bahwa achan lah pemenangnya.
“ aku berani 50.000 untuk malam ini”
“ haha, tidak biasanya?”
“ cepat kau taruh”(achan membentak)
Semua telah tertata dengan rapi hanya sebuah kartu dan selebar uang 50.000 achan yang terus memikirkan kekalahan itu. Permainan terus berlanjut hingga jam 3 pagi semua sudah mengantuk hanya achan dan firman yang siap menantang satu sama lain achan yang memiliki uang hanya 40.000 lagi kian menyiutkan firman pun tak segan-segan menghabiskan permainan haram ini walaupun jumlah nya sedikit lebih dari achan.
“ achan kau berani berapa”?( firman meyakini bhwa ia akan menang)
“ ah, kau semua ku taruhkan”(achan pun tak kingin kalah)
Saat permainan yang mereka taruhkan uang achan telah habis hingga yang keluar sebagai juara adalah achan hingga jam 5 pagi telahtiba saat azan subuh tiba acahan sangat beruntung hari ini ia sangat berharap untuk bisa mencuri lagi kotak amal itu.
“ bagaimana bisa, aku mencurinya?”(pikiran achan terus berlabuh
Suara reranting yang terhampas hampir fajar sadek menjulang achan terus mengincar para jama’ah mesjid itu ia tidak punya pilihan lagi untuk menyiapkan kemenangan malam ini rasanya ingin tiap-tiap malam ia merasakan kemengan itu, ia menunggu di bawah pohon pelapah meria di belakang mesjid tersebut. Keinginannya itu tidak bisa diganggu gugat lagi selain kotak amal itu berada di tangan nya.
Tiba-tiba achan pura- pura berwudhuk di dekat mesjid itu dan menjadi bilal hanya demi kotak amal itu. Kopiah pinto aceh telah ia pakai untuk menunjukan bahwa dirinya orang yang beranjak ke mesjid. Pertama kalinya achan memakai peci yang indah ini, hingga achan tertarik untuk mencuri topi ini juga.
Ia pun sudah dekat dengan kotak amal, dan ia sudah berada di sebelah kirinya. Ia pun berpura pura menggulungkan mushalla yang telah di rapikan billal sebelumnya. Ia terus memantau orang yang berada di mesjid tersebut semua sedang melakukan zikir. Achan pun berpura-pura lagi untuk membersih toilet yang telah di bersihkan juga oleh bilal.
“ woi... ini ada orang”
Huh... hampir saja dicambuknya padahal achan tidak bermaksud mengganggu orang yang buang air kecil itu. Hampir saja terkena pencretannya untung saja laki-laki jika tidak bisa tamat riwayat ini.
“ susah benar curi kotak amal ini”
Achan pun keluar tanpa kotak amal yang dimaksud itu ia malah kesal tak terduga hingga pohon pisang yang rindang di depannya itu ia tendang hingga terkena pula kepala achan.
“hahahah.. achan, achan,,,?
Sunan yang terbahak-bahak tertawa yang kian rumit memahami acahan yang begini rupa. Sunan pun meninggalkan achan yang keskitan kepalanya karena pohon pisang rindang ia pun berjanji pada pohon pisang itu untuk membalas nya.
Ia langsung menuju ketempat firman.
“ kenapa kau ?”
“ah gak usah banyak tanya”(achan yng menginginkan satu jawaban firiman)
“begini saja kau curi barang dagangannya bi inah itukan mahal emas semua”(saran firman meyakinkan)
Terlintas di pikiran achan... malam ini tidak berjudi melainkan mencuri barang dagangan bu inah yang tajir itu.
Tiba di rumah bu inah ia langsung menaiki pagar besi yang runcing itu membuat rumah bu inah yang sunyi ini pada saat spertiga malam. Bu inah pun langsung kebangun bukan untk melihat siapa yang berada di luar sana melainkan ia langsung berwudhuk untuk shalat tahajud supaya barang dagangannya dijaga oleh allah.
“gila ni pagar sampai 2 jam masih saja pagar ini”
Acahan yang terus berusaha yang kadua kalinya untuk mencuri tetapi tidak ada seorang pun yang tahu bahwa achan bukan hanya seorang penjudi melaikan juga seorang pencuri. Sekedar namanya tidak sama tapi hukumnya sam-sama haram.
Setelah ia menaiki pagar lanjutlah gerbang utama yaitu mobil pick-up yang sangat ia incar-incar dari dulu ... ia pun berusaha untuk membobolkan pintu msauk dapur yang kianbesar dan ruah ia sangat terta’kjub melihat rumah semewah istana yang tak pernah ia bayangkan.
Sebelumnya ia tidak mengambil apapun dari rumah ini melainkan ia hanay mengincar barang dagangan itu yang di hasut oleh firman tadi, ia taka sabar mengambilnya. Maju ke pintu yang tiga, bu inah sengaja membangun anak laki-lakinya yang berumur 7 tahun itu bu inah dan anak nya itu sengaja melantunkan ayat- ayat alquran yang lenyap sejenak kenekatan acahan untyk mencuri dagangan bu inah.tetapi hati nya selalu berbisik bahwa kali ini tidak boleh gagal.
Suara ayunan daun angsana yang berada di sebelah rumah megah itu semakin membuat tulang-tulang itu kedinginan, sampai saat ini achan menginginkan tidur di sebuah rumah mewah ini ia selalu memikirkan uang- uang dan uang hanya dengan tu ia bisa bertahan hidup pikir acahan lanjut, bak merindang malam yang suana rebah dari panas dingin yang menghigau.
SUMBER
Suara lantunan itu sunyi melainkan ia hanya mendengar bisikan-bisikan kecil yang mencirikan orang sedang berdoa.
“ ia berdoa apa ya ?”
Kehangatan dalam qalbu sebijak hitam yang membuat ia berhasrat terus membobolkan kamr anak itu untuk mencuri barang yang telah ia rencakan dengan hatinya sejak kemarin . bu inah dan anak nya tak segan- segan berdoa agar tetangganya itu sadar akan harta. Achan tak kuasa hingga ia duduk di depan pintu dan menangis di hadapan allah.
Achan pun mendengarkan doa yang di lantunkan oleh bu inah dan anaknya itu yang gerbunyi:
Rabbana atina fiddunya hasanah wafil akhirati hasanatau waqina a’zabannar.
Di kenal do’a ini dengan do’a sapu jagat karena banyak orang yang melantunkan doa ini untuk keselamatan dunia akhirat.
Itulah doa yang setiap hari achan pikirkan untyuk menghapus dosanya, akhir cerita achan meninggal tepat di depan pintu kamar bu inah.
Aceh, 17 ramadhan