Lelaki yang memiliki karakter berbeda itu duduk terdiam di Halte Parang IX seperti roh yang hilang dari dirinya. Sesekali terlihat air mata berjatuhan di telapak tangannya . Umar demikian namanya, dia yang sedang sedih tersebut tiba-tiba bergegas pulang menemui ibu dan keluarganya karena teringat tentang pesan ibunya untuk segera cepat pulang.
Sebagai seorang yang mengidap autis, sudah sewajarnya Umar berhenti sekolah, walaupun ia sangat ingin sekolah dan menggapai cita-citanya dan membantu ibunya jualan timpan di sekitar keude Matangkuli.
“Langit tidak selamanya cerah melainkan ia gelap dan mendung pada musimnya namun langit juga terasa indah saat malam menjamu dengan bintang yang berkelap-kelip dan bulan yang mengeluarkan sinarnya itulah yang membuat langit terasa indah. “Seperti aku yang pasti bisa membahagiakan ibuku karna ibu yang selalu mendoakan untuk kebahagiaanku dan aku tetap berusaha ”. Ungkapan perasaanya Umar anak autis yang kadang kala otak kecilnya itu dapat menyegukkan kata-kata indah bagi dirinya.
Jati diri Umar yang menggebu-gebu berkehendaknya untuk pergi menemui teman-teman Teuku dan nabon di sekolah hari yang begitu terik memancarkan panas menusuk kulit badan menelusuri jalan.
Persimpangan perjalanan terdengar suara motor menderum-derum dan terlihat bayang-bayang seperti dikenal dari Keude Matangkuli. Kemudian, Umar menghampirinya ternyata cik Taleb.
“Cik Taleb” kata umar menghampiri cik Taleb. “umar ngapain kamu ke Keude Matangkuli jalan kaki?” tanya cik Taleb
“Aku ingin ke sekolahku tolong antarin aku cik Taleb” seru Umar. yaampun umar cik Taleb mau ke Panton antarin kerupuk mulieng pesanan orang. Tolong lah cik emang cik tega lihat aku jalan kaki .
Dengan rasa iba teriknya percikan sinar matahari cik taleb mau mengantar Umar untuk samapai ke sekolahnya .
“ Baiklah pegangan yang kuat ya, cik Taleb ngebut ni karna buru-buru, emang jauh sekolah mu?” tanya cik Taleb
“Tidak cik, “ cik jangan buru-buru kali dong bikin badanku pingin terbang”. Kata Umar. “Santai saja!” jawab pak cik dengan gurau sambil mengocok tarikan gas. “Dimana sekolahmu anak pintar?” tanya pak cik.
”Itu cik,langsung belok kanan ya”, jawab Umar.”
Sesampainya di sekolah berdiri Umar di pintu gerbang sekolah sambil memandang lama sudah Umar meninggalkan sekolahnya yang begitu ia cintai terkadang hampir putus harapan saat itu.
Dan umar dengan ringan hatinya masuk perkarangan sekolahnya berdiri di jendela samping luar kelas. Siswa terdiam rapi mendengarkan pelajaran PKN ditegaskan Guru Sadiah.
“TNI merupakan alat pertahanan negara tanpa TNI negara akan tidak aman sekarang indonesia sudah memperkuat militer, berbanggalah kepada TNI indonesia mereka rela berkorban harta jiwa raga untuk bangsa dan negara.” Guru Sadiah sedang mengajar dikelas Nabon dan Teuku.
“Wah hebat banget jadi seorang TNI, negara kuat dan aman karna adanya TNI tapi”, lantas dalam hati Umar yang sedang berdiri di jendela samping luar kelas sedang mendengar pelajaran dari guru Sadiah.
“Baik anak-anak ada yang ingin bertanya tentang pelajaran kita sekarang?” kata guru Sadiah . “Kalau orang bodoh bisa jadi TNI bu?” semua siswa kelas XII tercengang termasuk guru Sadiah, karna mendengar pertanyaan dari anak di luar kelas.
“Umar!” kata Nabon dan Teuku dengan terkejut.
Kemudian siswa lainnya menertawakan pertanyaaan Umar sambil mengejeknya
“Mana mungkin sosok autis bisa jadi TNI mempertahankan negara malah bangsa akan jadi bodoh mampus deh negeri ini!! ” kebanyakan mereka mengenal Umar dengan keadaan Umar seorang yang autis hanya Nabon dan Teuku saja yang tidak menertawakan Umar.
“Ssstttt diam semua!!!”, hujat guru Sadiah dan keluar dari kelas menjumpai Umar diluar dan berbincang dengan Umar.
“Nama kamu siapa?” tanya guru Sadiah dengan lemah lembut.
“Nama aku Umar bu aku tinggal di ds. Teupin keubeu”. Jawab Umar dengan lantang. “Nama yang bagus ya seperti nama Teuku Umar pahlawan perjuangan aceh”. Kata guru Sadiah.
”Bagaimana dengan pertanyaanku bu, aku sangat suka jadi TNI bu?” Umar kembali menanyakan yang sama kepada guru Sadiah.
“Anak yang mengidap autis seperti Umar sangat berpotensi kecil menjadi seorang TNI mengabdi kepada negara!” kata hati guru Sadiah. Sebenarnya guru Sadiah sudah mengetahui kondisi Umar yang autis dari Nabon dan Teuku.
” Kenapa ibu tidak menjawab pertanyaan saya bu? apakah ibu berfikir karna aku seorang autis yang tidak bisa apa-apa aku tidak bisa jadi seorang TNI ya buk,” “tidak nak tapi seorang autis itu sangat sulit untuk bisa mengabdi kepada negeri dengan sepenuhnya”. Jawab guru Sadiah dengan hati yang resah.
“Tidak ada yang mungkin bu, aku ingin ingin membanggakan daerah untuk negeriku seperti pahlawan Teuku Umar bu, pahlawan Aceh”.
“Kok Umar tahu nak”, guru Sadiah terkejut dengan perkataan Umar.
“ Tadi baru saja ibu katakan bahwa namaku seperti nama pahlawan Teuku Umar “ jawab Umar.
“subhanallah iq Umar sangat cepat terekam dengan perkataan saya” kata hati guru Sadiah.
“Umar kamu anak yang luar biasa ibu sangat termotivasi dengan semangat mu nak, oh iya kamu kelas berapa nak? Kenapa tidak masuk kelas ?” Umar sudah berhenti sekolah bu, saya tidak punya lagi biaya untuk sekolah karna faktor ekonomi keluarga “. Masya Allah guru Sadiah Umar kembali tersentuh dengan ucapan Umar.
“Yasudah kamu boleh masuk ke kelas XII ya, ibu yakin kamu sanggup duduk di kelas ini” kata guru sadiah.
Beneran bu, yeee”. sorakan Umar dengan lantang dan semangat.
Usia Umar beranjak 17 tahun, Umar lulus SMA dengan murni, diantara lima siswa lainnya, karena tekun ia belajar dan doa dari ibunya dan langsung diterima di militer indonesia yang akan dimulai tes pertamanya di Lhoksukon.
Pada acara perpisahan di sekolahnya Umar kesenangan Umar juga bercampur luka karna harus berpisah dengan sahabatnya Teuku dan Nabon . Teuku harus melanjutkan universitasnya ke UIN Arraniry di Banda Aceh dan Nabon ke universitas politeknik di Bireun.
Bagaimana tidak sedih? Teuku dan Nabon sahabat yang selalu mendukung kesuksesan Umar sekarang harus rela berpisah, sedangkan Umar masih mengikuti karantina di Lhoksukon.
“Jangan lelah untuk bermimpi Umar, kami yakin kamu akan bisa menggapai cita-citamu” . kata semangat dari Nabon dan Teuku.
“Terimakasih sobat”. kata Umar sambil menepuk bahu Nabon dan Teuku
Setelah enam bulan mengikuti karantina di Lhoksukon, Umar dipercayakan karna kemampuannya utuk mengikuti karantina di lhoksumawe selama tiga bulan hingga Umar meraih pangkat pertamanya dan sukses menjadi seorang TNI di sabang. Di sabang Umar memiliki banyak teman-teman barunya ada dari Riau, NTT, Merauke dan daerah lainnya.
Seorang yang mengidap autis namun memiliki otak yang cerdas fisik kuat dia tidak pernah menyangka dirinya bisa sesukses ini dan namanya sangat diagungkan di Sabang. setelah genap setahun (365 hari), Umar kembali ke daerahnya Matangkuli karna begitu rindunya kepada sang ibu ia sempat menangis tersedu-sedu bagai hujan yang deras. Oleh karena itu umar pulang dan membawa kawannya dari merauke yang bernama Yolmen untuk memperkenalkan kepada ibunya.
Namun firasat tersebut berbeda,sesampainya disana, sepanjang kecamatan Matangkuli telihat sunyi, pertumpahan darah dimana-mana dan paling mencengangkan lagi rumah Umar di bakar oleh penjajah Jepang.
“Ibu, mana ibuku?” teriak Umar dengan keras . “sabar Umar kau tak boleh begitu ini daerah kau belum aman” kata Yohanes. Padahal semua penduduk desa Teupin keubeu sudah mengungsi ke darerah tanjong karna sudah tidak aman lagi.
Terdengar suara tembakan keras dari kejauhan yang hampir mendekat. “Sepertinya itu suara tembakan” kata Yohanes. “Iya benar” kata Umar. Suara tembakan itu semakin mendekat dan Umar memberanikan diri untuk menghadapi musuh itu.
“Berani kau hancurkan kampungku apakah ada harta nenek moyangmu disini?” bentak Umar kepada mereka.
“Tembak dia” kata zionis penjajah. Namun mereka kalah Umar lebih dulu menembak pemimpin zionis dengan tembakan yang keras hingga menewaskan pemimpin zionis tersebut dan para penjajah yang lain melarikan diri entah kemana tidak lagi muncul.
Semua warga menyaksikan kejadian itu merujuk bahagia terharu karena anak pengidap autis bisa melumpuhkan penjajah Jepang yang begitu sadis.
“Umar!!” teriakan ibu Umar yang berlari menemui Umar yang sudah setahun tidak melihat wajah buah hatinya.
Terimakasih nak kami bangga padamu, kami senang punya Umar. Tutur pak geusyik teupin keubeu.
365 hari impian Umar berhasil menjadi seorang TNI yang mengabdi pada negeri dan berhasil mengusir penjajah dari kampung nya, inilah cita-cita terbesar Umar dalam otak kecilnya . “Begitulah cerintanya dik. Bagus banget kak, adik terinspirasi” aku menyelesaikan cerita pada dia, kelas usai bel berbunyi dan aku kembali menelusuri jalan setapak pinggiran bising kendaraan. Dulu, aku juga pernah berada di sini dan saat ini adalah waktunya mengenang.