(Irman Syah, Image by Miftah, Radar Bekasi)
Setiap saat kita selalu saja berhadapan dengan sesuatu yang sulit untuk diungkapkan. Persoalan kata dan hati yang kadang tak pernah bisa tenang ketika menghadapi persoalan dan tata cara.
Bukan masalah antar manusia maksudnya, tapi lebih jauh dari itu. Tentang bagaimana menuliskan karya yang lebih bermutu dari pada postingan-postingan sebelumnya. Ya, agar tak banyak lagi sengketa tentang postingan yang tak berkualitas muncul dan mengemuka.
Ada yang mengajak kita untuk segera membenahi diri, tapi dalam ruang dada selalu pula ada yang bergemuruh. Menarik kita pada jalan yang berbeda. Kebimbangan kadang menumbuhkan jalan berliku dan bersimpangan. Apalagi yang mesti ditulis? Kadang ini pulalah yang sering muncul bagi penulis-penulis kita.
Tulis saja. Tulislah Kebimbangan itu sendiri. Jangan pula asal tulis tentunya. Menulis tentang kembimbangan pun mesti juga dikemas dengan sesuatu yang bersahaja serta harus pula menarik bagi para pembaca.
Nah. Ini bagaimana? Biasa saja sesungguhnya. Biasakan saja membaca. Baca apa saja. Jika membaca telah tidak menarik bagi penulis. Ini adalah suatu yang membawa petaka. Apa yang akan ditulisnya sudah tentu tidak akan begitu menarik sama sekali bagi siapa saja.
Beda dengan yang gemar dan suka membaca. Postingan apa saja akan tetap diikutinya. Bila nanti dia selesai menulis, maka tulisannya akan selalu berhasil, menarik dan gurih untuk dibaca. Kenapa? Iyalah! Bukankah dengan membaca, otomatis sang penulis ini akan selalu berusaha untuk melahirkan karya yang luar biasa. Ya, sudah pasti dia akan memposting karya yang jelas-jelas ada patokan dan nilai tambahnya.
Dengan begitu, karya yang ditulis sesudahnya sudah pasti akan berada di atas nilai rata-rata karya yang telah dibacanya. Bukankah menghasilkan karya dengan patokan serta perkembangan yang selalu diikutinya akan membuatnya mampu menelorkan sebuah karya yang luar biasa.
Tulisan ini hanyalah aba-aba. Sebuah kabar sederhana saja tentang bagaimana celakanya malas membaca. Takkan terbayangkan, contohnya juga tak jauh dari siklus dan prosesi yang ada dalam diri. Bagaimana tubuh menjalankan tugasnya pada sebuah perkembangan anatominya. Umpamanya saja berak tanpa makan. Apa yang bisa dikeluarkan kalau protein dan vitamin yang masuk tidak ada. Darah jalang barangkali yang akan menjelma.
Barangkali inilah yang bisa saya tuliskan ketika maraknya bahasa tentang kualitas karya yang dianggap buruk akhir-akhir ini pada platform ini. Kebetulan saja, ketika saya singgah di postingan dua hari yang lalu saya berkomentar untuk menulisnya. Tapi saya tidak menjawabnya dengan data sebagaimana mestinya, melainkan dengan cara lain, atau dengan kesiapan serta antisipasi yang seperlunya.
Bekasi, 11 Juni 2018