Sepiring kecil kangkung tumis hambar, diberi harga 12.000/porsi. Bila rajin menghitung, Anda akan menemukan fakta bahwa hanya empat batang saja kangkung itu. Tapi kita tak melakukan protes. Karena tahu di warung itu, harga yang ditetapkan demikian. Tak ada peluang untuk protes. Satu-satunya jalan untuk melakukan "perlawanan" yaitu dengan cara tidak memesan. Tapi apakah Anda yakin tidak memesan cah kangkung, padahal lauk nasi putih hangat itu adalah ayam potong goreng sambal hijau.
Di sebuah resto cepat saji, untuk mendapatkan. Empat porsi ayam goreng dan nasi putih, Kuta harus menebus hingga nyaris 200.000 ribu. Di sana, air mineral yang biasanya kita beli dengan harga Rp. 3000, harus ditebus dengan angka 8.000/botol.
Mau protes? Tidak ada jalan. Satu-satunya cara adalah dengan tidak masuk ke warung yang dipenuhi dengan pramusaji yang memiliki senyum menawan tapi berbayar mahal itu.
Di warung kecil dekat sebuah toko, sepotong pisang goreng dijual 1000 perak/potong. Wajah penjualnya kusut Masai, dengan senyum yang sangat jarang. Ketika melayani pembeli, ia selalu berusaha untuk terlihat kelelahan. Tak ada basa-basi, apalagi senyum. Bilapun ditawar, dia hanya menggeleng dengan mimik tak bersahabat.
Di waktu lain, saya pernah menegur seorang warga kampung yang sedang pulang dari kebun sembari membawa beban. Karena upaya beramah tamah itulah, saya sempat dimaki. "Kurang ajar, tak tahu kau aku sedang ngapain?" Katanya.
Pada kesempatan lain, saya bertemu dengan seorang lelaki seberang pulau yang sedang bekerja di pinggir jalan. Peluhnya bercucuran saking lelahnya. Ketika saya menyapa sembari tersenyum, dia mengangguk sembari membalas sapaan.
Teman, kita mungkin lupa para pelaku ekonomi selalu belajar dari dunia. Tiap lelaku manusia selalu dijadikan sebagai ilmu pengetahuan. Lelaku itu, oleh analisator pasar, dipelajari sebagai bagian dari ilmu marketing.
Dulu, ikan teri, ikan mujair, udang kecil, merupakan komoditi laut yang dikonsumsi oleh kelas bawah. Kini, ikan-ikan itu merupakan bahan makanan yang mewah dan dijual dengan harga yang tinggi. Satu kilogram ikan mujair bisa tembus 40.000. Teri kering bahkan 80.000/ kg. Demikian juga udang kecil.
Siapa yang mengubah harga? Pebisnis ikan. Hanya dengan mempelajari ilmu kemasyarakatan, mereka pun mengubah image produk yang berharga rendah sehingga menjadi mahal. Sedangkan yang sudah mahal dari dulu, tidak akan pernah menjadi rendah.
Kangkung di pasar tradisional satu ikat besar bisa ditebus dengan uang 5000. Di swalayan? Satu ikat kecil dan dibungkus plastik, harga per piece mencapai 10.000.
Demikian juga dengan pelayanan sektor jasa. Ketika kita datang ke tukang pangkas bertarif murah, pelayanan mereka ogah-ogahan. Komunikasi mereka buruk. Senyum merupakan barang yang sulit sekali. Tapi coba datang ke barber shop. Begitu Anda menjenguk lewat pintu, mereka segera menyambut dengan senyum ramah. Penampilan Meraka yang rapi, serta kondisi ruang pangkas yang bersih, membuat Anda nyaman dan memercayakan potongan rambut kepada mereka. Bahkan Anda tidak akan dakwa-dakwi bila harga pangkas di sana mencapai lima kali lipat dari rumah pangkas biasa.
Warung cepat saji memiliki pramusaji yang supel, ramah, cekatan, wangi, rapi, serta selalu.minta maaf dengan senyum manis, bila kebetulan telah membuat pengunjung "tidak nyaman". Cara Meraka menawarkan produk pun sangat luar biasa. Jikalau saja kita tidak pintar mengatur keuangan, sebaiknya datang saja dengan uang pas. Karena mereka akan selalu menawarkan paket di luar yang ingin kita pesan. Dengan gaya komunikasi yang luar biasa, biasanya mereka sukses membuat Kuta mengikuti "saran" dari mereka.
Teman, hidup tidak boleh "alamiah". Hidup membutuhkan pengetahuan yang memadai. Harga-harga tidak lahir begitu saja. Seorang tukang batu yang berbiaya mahal, lahir dari usahanya sendiri belajar keras agar kompeten di bidangnya. Seorang engineer yang berpendapatan puluhan bahkan ratusan juta, diawali dari kerja keras.
Pun demikian, harga selalu bersisian dengan kualitas. Terkadang juga tidak memiliki hubungan sama sekali. Karena di antara keduanya ada satu hal lain yaitu citra alias "kemasan". Pencitraan menjadi penting dalam membangun persepsi. Seorang engineer lulusan universitas ternama kerap mendapatkan bayaran lebih mahal, ketimbang yang lulus dari universitas kecil. Ini tentang prestise. Pasar membutuhkan. Prestise.
Untuk itu, mari bangkit, mari isi diri dengan Kebagusan pengetahuan, serta keteladanan dalam bersikap. Pintar dan jujur seharusnya menjadi satu kesatuan. Bila ia bisa menyatu, maka harga manusia itu tentu akan mahal. []