Pada pileg 2014, seorang anak muda progresif nan alim serta bermasyarakat, maju sebagai salah satu caleg dari partai Gerindra. Semenjak namanya muncul di baliho, orang -orang kampung mulai mencibir. Bahwa dia tidak cocok di parlemen. Yang lain bergumam bahwa dia cocoknya mengajar ngaji saja. Sedangkan beberapa orang lainnya mengatakan bahwa dia salah partai. Tak mungkin orang Aceh mendukung caleg Gerindra, karena masih ada partai lokal.
Ketika penghitungan suara, ia hanya mendapatkan 30-an suara dari total 800 hak pilih di gampong itu. Di gampong sekitar ia juga tidak mendapat dukungan yang menggembirakan. Akhirnya ia kalah dan ditertawakan.
Seorang teman lainnya, yang juga memiliki integritas bagus, aktivis dan tokoh muda potensial, yang berencana maju di pileg, juga dibully habis-habisan oleh warga kampungnya. Mereka menolak mendukung,karena selama ini si teman jarang pulang kampung dan jarang ngumpul dengan warga sekampung.
Bagi si teman, ngumpul setiap hari dengan warga tentu sesuatu yang mustahil. Karena ia bersekolah di kota yang berjarak puluhan kilometer dengan kampung halamannya. Lagian, sehari-hari ia memang bekerja di lembaga di kota. Dia pulang hanya ketika musim libur.
Bagi orang-orang desa,kedua lelaki harapan masa depan itu sungguh tidak baik. Mereka tidak peduli bahwa keduanya memiliki integritas yang bagus, visioner serta memiliki pergaulan yang luas.
Suara rakyat di desa mereka kemudian justru jatuh kepada orang luar yang tidak memiliki sangkut paut dengan gampong tersebut. Warga dengan bangga mengatakan bahwa telah berhasil memenangkan "tamu" dan berhasil merusak "marwah" putra daerah mereka sendiri.
Mereka tentu disanjung, sebagai warga yang kosmopolit, tidak kampungan serta mampu berpandangan luas. Tapi segala kebanggaan itu hanya sementara saja. Lambat laun, kebanggaan itu pudar dan berubah menjadi sumpah serapah. Karena setelah memenangkan orang luar, kehidupan mereka tak pernah berubah. Bilapun orang luar itu menjenguk sesekali, itu sekedar agar tidak disebut sebagai pengkhianat. Itupun hanya datang membagi-bagikan sedikit uang minum. Orang kampung pun seumpama pengemis lapar. Selebihnya,kampung itu tetap terbelakang.
Orang Aceh adalah tipikal bangsa yang tidak tahu menghargai dirinya sendiri. Mereka cenderung bertipikal seperti India, yaitu selalu cemburu bila mengetahui orang dekat rumahnya maju. Bila ada tetangga yang kaya dengan kerja keras, mayoritas akan mencibir dengan harapan -di dalam hati-- nikmat yang didapatkan oleh saudaranya agar segera dicabut oleh Tuhan.
Bila sudah berhadapan dengan saudaranya, orang Aceh akan mengajukan syarat menyetarakan malaikat. Bila sedikit saja ada cela, maka akan diumpat setiap hari, dengan tujuan agar anak bangsanya itu tetap tidak mendapat dukungan, konon lagi penghormatan.
Maka tidak heran bila banyak orang Aceh yang sukses di luar negeri, enggan untuk pulang. Bahkan --bila membawa luka ketika merantau-- mereka justru akan melihat orang Aceh dengan sebuah mata.
Saya pernah beberapa kali bertemu dengan orang Aceh di luar. Dari cerita-cerita mereka, banyak yang memiliki pengalaman tidak mengenakkan di kampung halaman. "Kalau kamu tak percaya, silahkan kamu uji," kata salah seorang di antara mereka.
Hal itu pernah saya uji, ketika berpura-pura hendak maju pada pileg 2014. Dari semua kenalan di kampung yang sempat saya hubungi, hanya beberapa orang menyambut positif. Selebihnya menggeleng. Benar saja, syarat yang harus saya penuhi terlalu berat. Saya tentu tidak punya kemampuan menyerupai malaikat.
Walau itu sekedar uji publik (tes the water) saya pun mengubah cara pandang terhadap mereka. Bila sebelumnya saya sangat aktif mengadvokasi setiap masalah yang mereka alami, kini sudah tidak begitu saya pedulikan. Bahkan pernah saya menolak membantu menyelesaikan persoalan hukum Mereka, padahal Meraka sudah menghiba.
Dengan suara berat saya menolak. Saya mengatakan: "Saudara tidak membutuhkan saya. Percayalah bahwa saya bukan orang yang bisa menyelesaikan persoalan Anda. Saya tidak mau melibatkan diri, karena memang tidak memiliki kemampuan. "
"Saya tahu kamu punya kemampuannya," katanya mendesak.
"Setahun lalu Anda semua tidak percaya bahwa saya mampu. Sehingga menolak untuk mendukung saya maju di pileg 2014. Jadi, aneh bila saat ini Anda sangat yakin saya mampu," jawab saya sembari mohon diri karena masih ada hal yang harus saya kerjakan.
Saya teringat dengan pernyataan Rektor Unsyiah Prof. Samsul Rizal, pada sebuah seminar. Beliau mengatakan bahwa orang Aceh seperti kepiting dalam keranjang, yang saling menjatuhkan satu sama lainnya.
Sebagisn orang Aceh juga bertabiat seperti orang Asia Selatan, yaitu mereka akan bersedih bila mengetahui ada saudaranya yang mengalami musibah. Tapi mereka akan lebih bersedih bila mengetahui bila saudaranya telah sukses. []