SAYA sudah lama tidak bertemu dengan Drs Abdul Mutaleb Ahmad. Dia pensiunan amtenar di Pemerintah Kota Banda Aceh. Pegawai biasa yang ikhlas bekerja. Bukan hanya bekerja untuk tuannya, tapi juga untuk lingkungan.
Foto dokumen ini menunjukkan Pak Ama (kiri) dan Johan Muhammad, pengurus Yayasan Bustanulsalatin, beberapa tahun lalu.
Nama Abdul Mutaleb Ahmad tentu tak setenar --pada masa itu-- walikotanya. Apalagi jika disandingkan dengan walikota sekarang. Maka pria yang punya nama panggilan Ama ini bukan siapa-siapa. Saya sudah lama tidak bertemu laki ini. Dia adalah meraih penghargaan pengabdi lingkungan pada 2008. Kalpataru diperoleh karena dinilai berperan besar dalam pemulihan dan rehabilitasi lingkungan di Banda Aceh.
Dia tanpa berkoar-koar terus bekerja untuk kota tempat tinggalnya. Pak Ama sendiri tinggal di Kelurahan Peuniti, Kecamatan Baiturrahman. Awalnya dia sebagai petugas kebersihan kota. Pernah ditugaskan pada Intalasi Pengelolaan Lumpur Tinja dan pengelola tempat pembuangan akhir. Lalu dia masuk ke pertamanan Kota Banda Aceh.
Saya bertemu dengannya sudah cukup lama. Di awal-awal pembukaan Hutan Kota BNI di sudut Gampong Tibang. Saat orang-orang tak yakin, lahan bekas tsunami itu bisa ditumbuhi pepohonan. Pak Ama adalah orang pertama yang punya optimisme tingkat tinggi. Akhirnya, kerja kerasnya membuahkan hasil.
Lelaki bertangan dingin
Karena keseringan bertemu lelaki ini, saya mendapatkan banyak cerita dari dia. Terutama soal tanaman. "Pohoh itu juga seperti manusia, dia butuh kasih sayang. Dengan merawat dia, menyiram akan membuat kita panjang umur, karena dia juga akan mendoakan tuannya," ulas Pak Ama.
Pada kesempatan lain, dia menyebutkan, pernah bereksperimen pada dua pohon mangga. Pada salah satu pohon dia memasang sebuah spiker radio. Pada pohon yang lain tidak. "Kamu tahu hasilnya," tanya dia membuat saya penasaran.
"Ternyata yang saya pasang radio, daun-daunnya lebih lebih mengkilat dibandingkan pohon pertama yang terlihat kusam. Itu buktinya, pohon itu juga 'hidup' dan mengerti atau menerima kasih sayang manusia,"
Banyak pengalaman lain yang dia bagikan pada saya. Dia juga memberi beberapa trik dalam menamam pohon yang bergetah serta yang lainnya. Kebetulan dia juga tahu, saya senang bercocok tanam. Sehingga Pak Ama pun tidak pelit berbagi ilmu, mungkin karena dia berpikir sudah bertemu orang yang punya selera merawat pohon.
Karena itu, saya acap menjulukinya, lelaki bertangan dingin. Tamsilan bertangan dingin ini dikhususkan kepada orang-orang yang punya sentuhan midas. Sebab setiap benda yang ditanamnya selalu tumbuh, atau minimal punya 85 persen potensi bertunas dan lainnya.
Janda Merana
Pada kesempatan yang lain dia mengajak saya bertemu 'janda'. Awalnya saya kaget. Katanya, janda-janda itu sudah berderi berjejer di jalan masuk. "Itu dia janda merana," tukasnya menunjuk pada sederet pohon sebelah kiri bahu jalan setapak. Jalan ini tak jauh dari pondok tempat pengelola Hutan Kota berkumpul.
"Bibitnya saya ambil di kawasan Seutui. Di rumah orang Cina. Awalnya, saya tak punya alasan meminta bibit pada si empunya pohon. Jadi saya cari alasan. Waktu itu karena pohonnya sudah bikin semak pinggir jalan, kami dari dinas kebersihan kota memangkas dahan-dahannya. Dahan itulah yang saya tanam, sehingga tumbuh seperti sekarang," ujar dia terkekeh.
'Kecerdikan' itulah yang membuatnya sukses memboyong janda merana ke hutan kota. Pohon ini punya daun yang kecil serta ranting-ranting mungi yang menjuntai ke bawah. Bila tak dipangkas, juntaiannya bisa menyentuh tanah.
Meski Hutan Kota terasa dekat, tapi sepertinya sudah hampir tiga tahun saya tidak laga berdiwana ke sana. Tentu sekarang sudah cukup banyak perubahan dibandingkan sebelumnya. Saya masih ingat di kawasan itu juga 'menyimpan' sejumlah pohon langka. Tanaman lokal yang kini jarang ditemui di kampung-kampung Aceh, mulai dibudidayakan lagi.
Hutan Kota juga mengoleksi tanaman dari 98 daerah di Indonesia. Ternyata kawasan yang berada di Desa Tibang, Kecamatan Syiah Kuala, juga merawat pohon Tin dari Yordania. Itu satu-satu tanaman dari luar negeri. Di lahan seluas 7,15 hektare itu, Hutan Kota dikelola Yayasan Bustanussalatin, hasil kerja sama antara BNI, Pemerintah Kota Banda Aceh.
Seperti saya jelaskan tadi, yang menarik adalah area hutan kota BNI merupakan bekas tambak dan areal yang pernah dihantam gelombang tsunami tahun 2004. Pada saat itu, lahan dan kawasan disekitarnya rata tersapu ombak gergasi tsunami.
Kala itu, Pak Ama bercerita di Hutan Kota terdapat 3.400 batang pohon dari 140 jenis tanaman. Mungkin sekarang sudah jauh bertambah. Koleksi ribuan batang pohon itu terdiri dari jenis tanaman kayu keras berupa, jati, trembesi, mahoni, cempaka, jabon dan lain-lain. "Kita punya pohon-pohon yang sudah mulai langka. Di sini kami tanam dan rawat untuk melestarikannya," katanya kala itu.
Ia menambahkan, pohon-pohon yang sudah mulai langka di Aceh juga terdapat di Hutan Kota antara lain *jempe, geureumbang, seumira, keulayu, keumeukuh, seulanga, jeumpa, bak barat daya, kleue, tui, cawardi, keupula, seureuba, delima merekah, seutui *(sentul-kecapi), *siku *(sawo siku), tampui, kruet mameh dan bak mane.
Selain pepohonan, saya ingat Pak Ama pernah menjelaskan, Hutan Kota juga berisi aneka tanaman bunga yang terawat dengan baik. Kemudian, 98 walikota se Indonesia juga ikut menanam pohon asal daerah masing-masing di kawasan tersebut, beberapa tahun lalu.
Kawasan itu, bukan hanya menjadi arena tanam pohon. Di Hutan kota juga lahan praktikum mahasiswa, lahan budidaya dan pemberdayaan masyarakat. "Hutan Kota ini juga jadi sarana belajar untuk masyarakat, yang berfungsi sosial, ekologis dan ekonomis," sebut dia.
Dalam beberapa tahun belakangan, hutan kota makin digemari masyarakat. Di sana bukan saja ajang belajar, juga menjadi tempat swafoto, prewedding, jogging, atau sekadar jalan-jalan. Masyarakat diizin keluar masuk untuk tujuan yang positif sembari menjaga lingkungan serta ikut merawat pohon-pohon yang ada kian berserak di sana. "Ini semua milik kita, dan mari kita rawat bersama," tutur lelaki bertangan dingin ini.
Setelah sekian lama tak bersua, saya putus hubungan komunikasi dengan Pak Ama. Saya berharap, dia dalam kondisi sehat wal afiat. Saya juga ingin mendengar kebanggaan dirinya, yang pada 5 Juni. "Bukankah 5 Juni dikenal sebagai hari Lingkungan Hidup?' tanya dia pada suatu senja.
Dan kini, saya ingin sekali mendengar wejangan, petuahnya dan meminta ilmu dalam merawat pohon. Tapi ada daya, nomor kontak sudah tiada. Semoga ada steemians yang kenal dan punya nomor kontaknya bisa berbagi di sini.
Solusi lain, tentu saja saya harus kembali ke Hutan Kota! Selain ingin mendapatkan nomor kontak lelaki asal Pidie itu, tentu saja saya ingin menjenguk kembali sederet janda merana. he-he...