Bagi orang bijak, pujian merupakan racun sedangkan hinaan adalah obat bagi kesombongan diri. Tapi sungguh ironis, pada saat ini pujian sudah menjadi berhala baru bagi manusia. Kita serasa tidak menemukan kepuasan hakiki jika tidak mendapatkan pujian dari orang lain. Sehingga jalan hidup yang harus kita tempuh hanya bagaimana caranya agar bisa mendapatkan sebuah pujian.
Dalam hal berkarya, mungkin seringkali kita mendapat pujian dari teman-teman, baik pujian yang tulus maupun sekadar sanjungan memotivasi. Secara tak langsung pujian tersebut memberikan efek stimulus atau menambah gairah untuk terus berkarya. Pujian yang demikian bagaikan madu yang begitu menyegarkan dan memberikan energi untuk melahirkan ide dan menguatkan jemari untuk terus menari-nari memahat kata demi kata. Oleh karenanya, jangan sungkan-sungkan memberikan apresiasi kepada orang lain secara tulus dan proposional.
Sebaliknya, pujian itu kadangkala dapat melenakan banyak orang dan bagaikan racun yang mematikan. Tersebab dipuji, kita menjadi puas dan berbangga diri. Kemudian terjebak dalam keakuan, congkak, angkuh dan sombong. Bisa ditebak, ketika pujian tak lagi dituai, maka yang terjadi kemudian adalah berhenti berkarya.
Pada saat yang bersamaan, seseorang bisa terjangkit virus narsisisme, yakni mencintai diri sendiri secara berlebihan dan selalu menganggap orang lain satu tingkat berada di bawah kita dalam hal apapun. Dan pada akhirnya, tiada detik, tiap menit, dan bahkan setiap waktu selalu melakukan upaya pembenaran dan pengakuan atas diri sendiri di tengah eksistensi-eksistensi yang lain.
Mendapatkan pujian yang tidak realistis harusnya membuat diri merinding kegelian. Betapa tidak, selama filter di hati masih berfungsi, selama itu pula diri ini masih bisa membedakan mana pemberian madu dan yang mana suntikan racun. Boleh-boleh saja menikmati sebuah pujian, asal jangan lupa untuk tetap mawas diri terhadap sesuatu yang tampak seperti madu, namun ternyata hal itulah yang tanpa disadari justru meracuni diri. Ya, pujian yang melenakan itu sama halnya seperti racun yang berlumuran madu.