Suatu hari, seorang penyair yang tengah patah hati menulis syair yang amat menyedihkan di blog pribadinya.
Kemudian saya mengambil puisi itu, memosting di akun Steemit saya sendiri, dengan tujuan ingin mengaduk-aduk sekaligus mengeksplorasi potensi kesedihan di hati orang-orang dalam jejaring pertemanan saya di Steemit.
Membaca syair yang amat menyentuh itu, seorang perempuan (followers Steemit) jatuh cinta pada saya. Lalu kami bertemu di dunia nyata. Tiada lama kemudian, kami menikah.
Merasa berjasa pada si penyair, suatu malam saya mengirim chat, “Maaf, syair Anda telah saya ambil. Dan berkat syair itu saya mendapatkan jodoh saya.”
Penyair itu membalas, “Oh, saya amat terharu. Jika demikian, saya akan segera mendelete syair itu di laman blog saya agar Anda tidak terindikasi plagiat. Dengan demikian, syair itu sah disematkan nama Anda sebagai pengarangnya. Saya ikhlas.”
Beberapa bulan kemudian, saat istri saya tahu bahwa saya sama sekali tidak bisa menulis syair, dia menggugat cerai dan, kami pun berpisah. Untung kami belum punya anak.
Perceraian yang terjadi di saat saya sudah amat mencintai istri saya, tentu ini amat menyedihkan. Kesedihan itulah yang akhirnya membuat saya benar-benar lancar menulis syair.
Kini syair saya bertabur di Steemit. Orang-orang mengambilnya. Saya tak peduli, tak terganggu, karena saya ikhlas. Cuma masalahnya, siapa yang mengambilnya untuk modal mencari jodoh, kasihan, mereka mungkin akan bercerai beberapa bulan setelah menikah—seperti yang terjadi pada saya. Dan, itu pula yang terjadi pada penyair yang syairnya saya plagiat dulu.