Saya mengamini sebuah pepatah lama yang mengatakan; "hujan emas di negeri orang, hujan batu di negeri sendiri" ini bermakna, cari sebanyak-banyaknya emas di negeri orang lalu bawa pulang ke negeri sendiri. Emas yang dimaksud disini tidak hanya berbentuk logam mullia, tetapi juga berbentuk wawasan, pengetahuan, dan pengalaman yang bisa dibawa pulang ke kampung halaman.
Inilah yang terkesan pada saat kegiatan silaturrahmi dan gotong royong bersama "Aneuk Rantoe Saweu Gampong" (Anak Perantauan Pulang Kampung) yang sedang berlangsung di Desa Krueng Dhoe, Kecamatan Kembang Tanjong, Kabupaten Pidie, Propinsi Aceh.
Penananam Pohon
Selain melakukan gotong royong bersama, juga dilakukannya penanaman pohon di area halaman Mesjid. Yang memakai topi berbaju kuning, merupakan putra asli Krueng Dhoe yang saat ini menjabat sebagai wakil Bupati Kabupaten Bireun. Penanam pohon ini dilakukan sebagai simbol kepedulian terhadap generasi penerus.
Ceramah Dari Para Sesepuh Krueng Dhoe
Bentuk silaturrahmi dilakukan dalam bentuk caramah dan tanya jawab antar warga menyangkut sejarah berdirinya Desa dan juga mengenang tokoh-tokoh yang telah berjasa membangun Desa. Kegiatan Ceramah dan tanya jawab tersebut di moderatori oleh pria berjambang memakai kaos merah, beliau adalah ketua KSI Chapter Pidie yang juga menjabat sebagai anggota Tuha Teut (Badan Permusyawarahan Desa).
Makan Bersama
Setiap warga mengambil perannya masing-masing, bapak-bapak bertugas melakukan kegiatan bersih-bersih dan penanaman pohon, sementara kaum ibu-ibu sibuk mempersiapkan "kuah beulangong" menu makanan untuk disantap usai acara.
Kepala Desa dan Perantau
Yang berdiri ditengah memegang sapu lidi, beliau menjabat sebagai kepala Desa Krueng Dhoe, tapi Bukan putra asli dari desa itu, ia hanya seorang pendatang, namun ia memiliki akhlak mulia. Sehingga beliau dipercaya untuk memimpin warga. disini tidak berlaku lagi pepatah lama; "buya krueng teudongdong, buya tamoeng meuraseuki" (orang setempat hanya melihat-lihat tanpa mendapatkan apa-apa, sementara pendatang yang justru mengambil keuntungan). Yang berlaku disini papatah terbalik; "buya krueng meucarong-carong, buya tamoeng membawa rezeki"( orang setempat harus berpintar-pintar, orang pendatang bawa rezeki).
Jempol warga dan para perantau untuk Stemian yang telah menginisiasi kegiatan ini dapat berlangsung. Semoga terus berjaya dan menelurkan lebih banyak lagi manfaat positif untuk masyarakat sekitar.
#Indonesia tidak akan terang jika hanya mengandalkan suluh yang besar dari ibukota, tetapi Indonesia justru akan terang walau dengan lilin-lilin kecil dari Desa.