Orang yang bergembira berseri-seri wajahnya, sehingga ia lebih cepat memperoleh simpati dibandingkan dengan orang yang bersedih. Karena kegembiraan dapat membuka hati dan menyenangkan pikiran.
Berhadapan dengan orang-orang yang gembira, laksana mendengar musik dalam irama mars; biarpun hati sedang kecut namun kaki merentak juga. Dan kalau kaki sudah merentak, tanganpun bergerak, maka peredaran darah jadi stabil dan rasa kecut terbenam jauh kebawah_sadar.
Menurut penelitian James Wilson, hanya 1% manusia di permukaan bumi ini yang tidak menyukai kegembiraan, dan 99% lainnya, meskipun ada yang tidak pandai memperlihatkan kegembiraan namun semuanya terbuka terhadap kegembiraan. Orang sakitpun menghendaki kegembiraan, lebih-lebih yang mengalami sakit rohani.
Terlihat pula bukti yang cukup; orang yang gembira sukar dihinggapi penyakit, baik penyakit jasmani maupun penyakit rohani. Dan andaikata mendapat penyakit, maka iapun akan sembuh lebih cepat dari orang yang suka bersedih.
Dua orang yang bersamaan usia, bersamaan karir dan bersamaan tingkat penghidupan, akan kelihatan sangat berbeda; bila yang satu bergembira dan yang lainnya doyan bersedih, maka yang pertama akan kelihatan lebih muda dibandingkan dengan yang lainnya.
Kenyataan itu juga terlihat di dunia hewan. Kuda berumur 20 tahun kelihatan lebih muda dari kerbau berusia 15 Tahun. Kuda tampak lebih muda sebab suka bergembira, sehingga kalau tak dapat "tersenyum" iapun "nyengir" juga. sebaliknya, kerbau hampir tak pernah memperlihatkan kegembiraan sehingga waktu makanpun muram juga. Dan, karena tidak pernah tersenyum, maka "senyum" kerbau membuat orang ketakutakan. hehe
Dalam dunia ceramah, kenyataan itu makin jelas kelihatan. Penceramah yang pandai mengembirakan pendengar, akan membuat menarik ceramahnya dan mudah seperti orang memahaminya. Sedangkan ceramah yang suka menceritakan kesusasahan, hambar ceramahnya dan jemu orang yang mendengarnya.
Oleh sebab itu, tidak berlebihan ketika ada yang mengatakan bahwa salah satu jalan sukses adalah dengan memiliki rasa humor. Ia memberikan manfaat timbal balik. Kepada pemiliknya, rasa humor menimbulkan kegembiraan dan melenyapkan muram durja dan sekaligus merentangkan "tali penghubung" kepada pihak yang mendengar. Dan kepada pendengar; rasa humor menimbulkan kenyamanan dan ketentraman sehingga iapun "senang dimasuki"
Tetesan air saja mampu melubangi batu, bagaimana mungkin guyuran nasehat tak mampu melunakkan hatiku yang beku.
Created by: @munawar87/Munawar Iskandar
Sungguh indah, kita dipertemukan dan dipersatukan dalam komunitas yang saling mengingatkan dalam kebenaran dan kesabaran.
Salam Kompak Komunitas Steemit Indonesia
Semoga Tali Silaturrahmi Ini Terajut Menjadi Sebuah Ikatan Persaudaraan Yang Saling Memberdayakan