Postingan ini adalah jawaban dari kontes yang diadakan oleh Kurator Indonesia. Dan alhamdulilah komentar ini terpilih menjadi juara. Agar tak lupa bahagia, saya coba share kembali kepada kawan-kawan semuanya.
Salam Pembuka.
Pertanyaan sederhana terkadang justru membuat rumit sebuah jawaban.
Andai saja sang pembuat kontes meminta jawaban dalam bentuk pilihan, maka dengan sangat gampang kita akan menjawab, A atau B, benar atau salah, ya atau tidak. Namun Sang penyelengara tidak mengisyarakat akan hal itu. Artinya kebebasan untuk menjawab, sepenuhnya diberikan peluang kepada peserta. Untuk itu, dalam kesempatan ini saya akan berusaha menjawab pertanyaan tersebut sesuai pandangan subjektifitas saya pribadi dengan mengikutsertakan teori argumentasi.
Landasan Teoritis
KURATOR
Secara etimologi bahasa, Kurator disebut sebagai orang yang mengkurasi atau menangani sebuah pekerjaan yang berhubungan dengan memelihara, memperhatikan, menjaga, membenahi, sampai menyuguhkan kembali sesuatu objek.
KONTEN
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), Konten berarti informasi yang tersedia melalui media atau produk elektronik.
Apakah di steemit ini ada seseorang yang memahami betul sebuah konten sehingga dia layak disebut seorang kurator konten?
Menela'ah dari isi pertanyaan, disini kita bisa berdialektika bahwa, yang layak di sebut sebagai kurator konten di Steemit indikatornya adalah seseorang yang sudah memahami betul sebuah konten.
Uji kelayakan
Adakah orangnya? Jika jawabannya ada, siapa orangnya? Berapa bab FAQ yang sudah ia khatam? Konten apa saja yang ia kurasi? Dalam ruang lingkup mana saja yang menjadi wewenangnya? Sungguh, saya pribadi belum bisa menunjukkan secara pasti siapa orangnya. Atau barangkali saya yang kurang mengikuti perkembangan informasi, alias tidak update, sehingga hal itu terlewatkan dalam memori ingatan saya.
Analogi sederhana, Jika seluruh kopral bersepakat untuk mengangkat salah seorang diantara mereka menjadi jendral, tentu ini bisa dilakukan, namun hal itu tidaklah sah, tidak diakui alias ilegal secara ketentuan hukum. Karena yang berhak mengangkatnya adalah orang yang lebih tinggi jabatannya dari seorang jenderal.
Begitu pula halnya dengan menyematkan posisi seorang kurator konten, lagi-lagi akan menimbulkan tanda tanya, siapa yang diangkat, dan apa yang ditugaskan? Siapa yang mengangkat dan siapa yang menugaskan? Barulah kita bisa memberi jawaban konkrit akan siapa sesungguhnya kurator konten.
Banyak orang berujar; “kita semua adalah kurator, karena setiap kita berhak mengkurasi sebuah konten”. Itu benar adanya, namun itu baru bahagian atau salah satu dari fungsi kurator, namun bukan berarti sah disebut sebagai kurator.
Ibarat sebuah kalimat; “setiap kita adalah pemimpin atau raja, terutama raja atas diri dan pemimpin atas keluarga”. Itu benar adanya, namun substansinya bukanlah raja atau pemimpin sturktural seperti yang kita maksud. Begitu pula dengan kalimat tutup usia, tewas, wafat, dan meninggal, hal tersebut menunjukkan makna sama-sama sudah mati, namun penempatan bahasa inilah yang menghubungkan nilai sekaligus merubah makna.
Proses pemaknaan tersebut yang terkadang keliru, mana yang disebut kurator konten dan mana yang disebut kreator/pemilik konten.
Sesuai dengan landasan teori terkait tentang kurator dan konten yang sudah dipaparkan sebelumnya, dalam kontes kali ini, sang penyelenggara abangda layak disebut sebagai kurator komentar. Sebab, beliau punya hak preogatif untuk mengkurasi komentar mana yang layak tampil menjadi jawara. Hanya saja ruang lingkupnya dibatasi pada komentar kontes ini saja, bukan berarti layak disebut sebagai kurator komentar yang secara komprehensif semua komentar-komentar di postingan orang lain yang ada di Steemit.
TEORI KEADILAN
Secara harfiah, keadilan/justice terbagi atas dua makna, yaitu makna justice secara atribut dan makna justice secara tindakan. Makna justice secara atribut adalah suatu kuasalitas yang fair atau adil. Sedangkan makna justice secara tindakan adalah tindakan menjalankan dan menentukan hak atau hukuman. Keadilan berasal dari bahasa Arab yaitu adil. Kata adil berarti tengah, adapun pengertian adil adalah memberikan apa saja sesuai dengan haknya. Keadilan berarti tidak berat sebelah, menempatkan sesuatu ditengah-tengah, tidak memihak, berpihak kepada yang benar, tidak sewenang-wenang.
Selama bermain steemit, apakah ada keadilan di steemit ini? Tafsirkan dengan baik.
Jawabannya multi tafsir, bagi yang bernasib baik, kita mungkin akan berkata sangat adil, bagi yang belum beruntung, mungkin saja akan menilai sebaliknya. Pada saat bergabung di Steemit, kemudian langsung ada ikatan kontrak dengan pihak-pihak tertentu, lalu kitapun memenuhi segala kewajiban yang ditugaskan, tentu kita berhak menuntut keadilan atas janji-janji yang pernah diberi. Lantas siapa yang menghendaki kita berada di Steemit, kurator kah? kah? Atau siapa? Siapa yang menjanjikan upvote bernilai? Sehingga kita dengan lantang berani menuntut keadilan!
Saya tidak akan panjang lebar mengupas tentang keadilan, karena toh keadilan itu sendiri tidak sama dengan pemerataan. Menurut hemat saya, di Steemit ini agak lucu kalau bicara soal keadilan, namun lebih tepatnya bicara tentang suka dan tidak suka. Suka dengan karya, suka dengan kegigihan, suka dengan komunikasi dan silaturrahmi, suka dengan konsistentensi, suka dengan konstribusi, dan pada intinya ialah disukai, maka beruntunglah bagi yang disukai. Nah, bagaimana andai belum disukai ataupun tidak disukai, maka usahakan lagi.
Ingat jangankan di steemit di dunia nyata saja keadilan sulit ditemukan sekarang ini.
Seandainya keadilan dimuka bumi ini benar-benar bisa terjamin, maka sungguh tidak diperlukan lagi yang namanya pengadilan akhirat. Konon lagi hanya di Steemit, jika keadilan yang kita cari disini, saya khawatir, pada akhirnya kita sendiri yang bertindak sebagai hakim penentu keadilan, menafsirkan, dan memutuskan makna keadilan sesuai selera kita masing-masing. Tolak ukurnya ada pada diri pribadi dan seraya menginsafi, mampukah kita berlaku adil?
Lantas apa korelasinya antara Kurator konten dengan Keadilan?
Kedua kalimat yang sebetulnya tidak relevan untuk dihubungkan, namun cukup menarik untuk dicermati. Betapa tidak, sebagian kalangan menganggap, bahwa dengan adanya kurator konten, seakan menjadi sebuah solusi baru agar keadilan itu dapat tercipta. Saya ingin menantang, Ayoo tunjuk tangan, siapa yang bisa memberi jaminan/lisensi keadilan!!! Saya yakin tidak ada yang berani. Tegasnya, tidak ada keadilan muthlak.
Saya sepenuhnya menyadari bahwa, Ketika orisinalitas dalam beargumentasi masih lemah, maka sudah sepatut beropini berlandaskan teori, mungkin dengan begitu setiap pendapat punya referensi sebagai bahan rujukan. Karena bagi saya pribadi, kebenaran sebuah pendapat, ukurannya bukanlah pada opini kebanyakan orang, akan tetapi kebenaran autentik, barometernya ada pada referensi yang valid.
Akhir kata, menang adalah sebuah harapan, namun ada hal yang sudah menjadi kenyataan, yaitu kita telah ikut berkonstibusi memberi pandangan, tanggapan, ide maupun gagasan, dan hal itulah yang paling membanggakan.
Untung baik dan untung jahat adalah salah satu pondasi keimanan yang tak boleh pudar. Semoga kita semua di ilhami keberuntungan. Allahumma amin ya rabbal 'alamin, amin amin ya mujibassailin. Jangan lupa bahagia dan senantiasa bersyukur. Yakin Usaha Sampai…Bismillah..klik post.