FAKTA YANG MEMILUKAN DAN MEMALUKAN
- Hasil survey Unesco menunjukkan bahwa Indonesia sebagai negara dengan minat baca masyarakat paling rendah di Asean.
- Berdasarkan studi lima tahunan yang dikeluarkan oleh Progress in International Reading Literacy Study (PIRLS) pada tahun 2006, yang melibatkan siswa sekolah dasar (SD), hanya menempatkan Indonesia pada posisi 36 dari 40 negara yang dijadikan sampel penelitian. Posisi Indonesia itu lebih baik dari Qatar, Kuwait, Maroko, dan Afrika Selatan.
- Penelitian Human Development Index (HDI) yang dikeluarkan oleh UNDP untuk melek huruf pada 2002 menempatkan Indonesia pada posisi 110 dari 173 negara. Posisi tersebut kemudian turun satu tingkat menjadi 111 di tahun 2009.
- Berdasarkan data CSM, yang lebih menyedihkan lagi perbandingan jumlah buku yang dibaca siswa SMA di 13 negara, termasuk Indonesia. Di Amerika Serikat, jumlah buku yang wajib dibaca sebanyak 32 judul buku, Belanda 30 buku, Prancis 30 buku, Jepang 22 buku, Swiss 15 buku, Kanada 13 buku, Rusia 12 buku, Brunei 7 buku, Singapura 6 buku, Thailand 5 buku, dan Indonesia 0 buku.
- Organisasi Pengembangan Kerja sama Ekonomi (OECD): Budaya baca masyarakat Indonesia menempati posisi terendah dari 52 negara di kawasan Asia Timur . OECD juga mencatat 34,5 persen masyarakat Indonesia masih buta huruf.
Membaca fakta-fakta yang tersaji diatas, tentu membuat kita miris dan merasa malu sebagai sebuah bangsa. Ini di sebabkan oleh beberapa hal seperti uraian dibawah ini:
1. Kurangnya kesadaran diri akan pentingnya membaca
Kesadaran ini biasanya mulai ditanamkan sejak usia dini dirumah oleh orang tua. Keluarga adalah madrasul ula bagi seorang anak, dan anak-anak biasanya akan mengikuti kebiasaan orang tua. Oleh karena itu, peran orang tua dalam mengajarkan kebiasaan membaca menjadi penting untuk meningkatkan minat baca atau menumbuhkan kesadaran akan pentingnya membaca, sehingga ketika si anak beranjak dewasa kemauan tersebut muncul atas kesadaran diri tanpa harus dipaksa.
"Banyak baca banyak lupa", sebuah kalimat yang seakan menjadi alasan bagi setiap orang supaya tidak perlu membaca. Padahal, sesuatu yang terlupa masih ada peluang untuk diingat kembali, akan tetapi jika tidak membaca, lantas mau mengingat apa? Membaca tentang fisika, ekonomi, filsafat, agama, sosial, budaya, agama, dan sebagainya, semuanya bisa saja terlupa, namun ketika seseorang berhadapan dengan sebuah persoalan yang menyangkut dengan salah satu ilmu pengetahuan yang ia baca (katakanlah tentang filsafat) maka yang tadinya terlupa, sistem saraf akan bekerja memutar kembali memori ingatan, selanjutnya disuguhkan kembali menjadi pengetahuan si pembaca, atau dengan kata lain, ilmu filfasat di kepala akan meminta izin kepada ilmu-ilmu lainnya untuk berdiri di garda terdepan guna menjawab masalah yang sedang dihadapi.
Bicara kesadaran, membaca disini bukan lagi sebuah hobi, namun sebuah kebutuhan dan kewajiban. Sebab, ruang bagi sebuah hobi hanya terbatas pada sesuatu yang disukai, berarti jika tidak disukai, seseorang punya cukup alasan untuk tidak menekuni. Paradigma inilah yang harus dirubah.
2. Teman pergaulan
Saya teringat dengan sebuah syair arab, "Jangan tanyakan siapa dia, cukup lihat saya siapa temannya, pasti ia berwatak sama seperti temannya". Artinya, teman pengaulan akan sangat berpengaruh membentuk kepribadian dan kebiasaan seseorang. Hal ini bisa kita tinjau, bagaimana dua orang bisa dengan mudah menyatu atau bersahabat dekat, umumnya karena memiliki kebiasaan atau rutinitas yang sama.
3. Lingkungan
Lingkungan paling berperan dalam membentuk sebuah kebiasaan gemar membaca. Jika kita ingin mengambil contoh negara mana yang masyarakatnya gemar membaca, sudah tentu kita akan menolehnya ke Jepang. Menurut data, rata-rata pembaca koran di Jepang adalah 1:2 sampai 1:3, artinya tiap dua atau tiga penduduk Jepang satu diantaranya membaca koran. (Ben S Galus,2011).
Kegemaran membaca orang Jepang bisa didapati dengan melihat apa yang sering mereka lakukan di kereta api, ruang tunggu, taman, bahkan di jalanan, tidak jarang kita akan melihat orang yang lagi asyik membaca entah itu koran, majalah atau buku tanpa memperdulikan orang disekitarnya. Ya, itulah kelebihan orang Jepang yang menjadikan membaca sebagai budaya.
Di Indonesia, Ketersedian buku diruang publik sangat jarang dijumpai, ini menandakan bahwa, buku belum menjadi kebutuhan masyarakatnya. Konon lagi di Aceh, orang-orang menghabiskan waktu di warung kopi, namun hampir tidak kita temukan warung kopi yang menyediakan buku. Yang tersaji hanya menu minuman/makanaan. Kalau pun ada sebagian orang yang mencoba mengisi waktunya dikala berada diruang publik dengan membaca buku, maka akan tampak aneh dan bahkan membuat si pembaca merasa malu.
4. Sistem Negara
Penerapan sistem pendidikan di Indonesia sampai hari ini formulanya masih menjadi bahan perdebatan banyak pihak, seperti pemberlakuan ujian nasional. Belum lagi masalah lain yang sampai sekarang belum tuntas; akses ke fasilitas pendidikan belum merata dan minimnya kualitas sarana pendidikan. Adalah sebuah fakta bahwa kita masih melihat banyak anak yang putus sekolah, sarana pendidikan yang tidak mendukung kegiatan belajar mengajar, kualitas guru, sistem belajar mengajar pun belum berjalan sesuai harapan, lemahya penerapan wajib baca, dan juga panjangnya rantai birokrasi dalam dunia pendidikan. Hal inilah yang secara tidak langsung menghambat perkembangan kualitas budaya baca di Indonesia.
Menulis
Tidak hanya membaca, menulis juga tak kalah penting. Kata orang, "Dengan menulis, Dongeng bisa jadi fakta, namun jika tidak mau menulis, fakta bisa menjadi dogeng. Ini terbukti, ketika orang tua bercerita sesuatu tentang kejadian masa lalu, seakan terdengar seperti tahayul belaka karena tidak tercatat dalam sejarah.
Menulis adalah senjata melawan lupa
Ilmu ibarat hewan liar, dan tali pengikatnya adalah dengan mencatat. Sebelumnya kita sudah membahas menyangkut tentang "banyak baca banyak lupa", nah, satu-satu senjata untuk melawan lupa tentu dengan mencatat, agar sewaktu-waktu bisa dibuka kembali untuk di ingat. Oleh karenanya, Steemit ini merupakan lemari arsip pemikiran yang bisa disimpan dan sewaktu-waktu bisa di buka kembali.Menulis adalah wujud eksistensi
Seratus tahun kemudian siapa yang akan tahu bahwa kita pernah berada disini jika kita tidak meninggal jejak bagi generasi berikutnya. Nama kita tidak akan tercatat dalam sejarah jika tidak memberikan kontribusi apa-apa terhadap peradaban. Maka menulislah agar namamu ditulis. Katakan sesuatu, meski hanya.. huuff, agar kami tahu bahwa anda ada diantara kami. Nama seseorang akan tetap bertahta sepanjang masa dengan sebab andilnya dalam berkarya.
- Menulis merapikan bilik pikiran
Pernahkahkah kita mendapati seseorang mengulang cerita yang sama pada waktu yang berbeda? orang yang demikian tentu banyak. Dan lucunya lagi, terkadang yang ia ceritakan justru sumber ceritanya berasal dari kita. Ini akibat pemikiran yang tak terlatih karena tidak mau menulis.
Menulis, pasti harus berurut dan sistematis, artinya paragraf yang sudah tertera diatas tidak mungkin kita ulangi lagi di paragraf berikutnya. Seseorang yang sudah terbiasa menulis, ia akan terlatih berpikir secara sistematis.
Salam Literasi.