Seorang teman bertanya; "Berapa lama kau mulai menggunakan Steemit, dan apa keuntungan yang kau dapati?"

Screenshots
"Aku sudah berada di Steemit selama 174 hari dan memposting sebanyak 183 konten ditambah 3.601 komentar, jadi total keseluruhan 3784 kali pengeposan. Mengenai keuntungan, aku belum pernah menikmati uang satu rupiah pun hasil dari Steemit. Maka jika dikalkulasikan dari segi waktu dan untung rugi secara ekonomi, aku malah dirugikan. Sekali lagi, saya termasuk orang yang merugi berada di Steemit, baik ditinjau dari segi waktu, biaya paket data, dan tingkat kepusingan dalam menulis. Sungguh, jerih payah yang saya dapati tidak sebanding dengan usaha/kerja keras saya selama ini. Saya justru mendapati diri saya dalam keadaan terbebani."
Screenshots
Temanku yang berniat mendaftarkan akun Steemit untuk meraup dollar, akhirnya menepis niatnya untuk mendaftar. Sangatlah wajar, ketika yang menjadi motivasi utamanya adalah untung rugi secara ekonomi.
Berapa banyak orang yang karena ingin mendapatkan reward berupa SBD/steem berada di Steemit pada akhirnya menuai kekecewaan dan sekarang akunnya nyaris tidak digunakan lagi. Andai saya memberi gambaran kepada seseorang dalam bentuk $, maka saya harus bersiap-siap menanggung keluh-kesah dan kekecewaan orang lain. Jika harapan yang dibangun semata-mata karena reward, tetapi tanpa dibarengi dengan semangat lain seperti; belajar menulis, mengarsipkan ide, berkarya dan motivasi lainnya. Maka bisa dipastikan seseorang tidak akan bertahan lama.

Sumber gambar
Lantas kenapa juga saya bertahan di Steemit? Jawaban saya dengan jawaban orang lain tentu akan berbeda, meski sesungguhnya kita semua punya tujuan yang sama. Saya tidak mau memberikan jawaban yang mengandung kamuflase disini dan terus-terusan bersembunyi di sebalik dialektika. Saya harus lebih jujur dengan diri saya sendiri. Jika saya menjawab: "Berada di Steemit untuk berkarya dan memberi manfaat kepada banyak orang lewat tulisan-tulisan", maka jawaban itu tidak jauh berbeda dengan jawaban seorang petani dan nelayan yang berkata; "Tujuan saya menanam padi adalah untuk memastikan agar masyarakat tetap masih bisa menikmati beras_tujuan saya melaut untuk memastikan agar orang-orang masih tetap bisa menikmati ikan."Jawaban yang mengandung kamuflase biasanya akan terdengar lebih indah, karena telah menempatkan tujuannya pada kebutuhan orang lain. Namun apakah itu logis? Bagiku tidak, tujuan utama seseorang pada dasarnya ingin memuaskan diri sendiri, walaupun harus diakui terkadang secara bersamaan memberikan manfaat kepada orang lain.
Sumber gambar
Jawaban dari kenapa saya sampai sekarang bertahan di Steemit? Karena saya mendapatkan kesenangan di sini. Saya senang ketika teman-teman mengapresiasi karya saya. Saya senang ketika reputasi semakin meningkat. Saya senang tatkala kenal dengan banyak orang disini. Saya senang ketika semakin lancar menulis untuk menuangkan ide. Saya senang tatkala melihat angka upvote berderet 10%... 20%...0.6%...30...100% dan seterusnya.
Bukankah untuk mendapatkan kesenangan kita harus membayar mahal untuk itu? Kesenangan mau menonton bola secara langsung di Stadion misalnya, tentu kita harus berkendara menuju kesana, membeli tiket masuk, dan belum lagi waktu yang tersita. Kita rela melakukan hal itu demi mendapati yang namanya kesenangan, walaupun terkadang harus pulang dengan perasaan kecewa karena tim kesayangan kita kalah. Katakanlah tim kesayangan kita yang memang, namun secara keuangan kita tetap berada pada posisi dirugikan karena menghabiskan biaya untuk menonton bola. Lalu, mengapa kita tidak hitung-hitungan dalam hal itu?

Screenshots
Selama ini saya lebih banyak membayar dari pada dibayar. Toh saya bukan pengangguran yang mencari pekerjaan di Steemit sehingga harus menghitung untung rugi secara ekonomi. Yang saya tahu, selama saya bergabung di Steemit, pikiran saya tidak lagi menganggur. Jika pun saya berhenti sampai disini, dan pergi ketempat lain, belum tentu juga di sana akan dibayar. Lantas, mengapa juga harus menuntut lebih jika kesenangan bisa saya dapati di sini. Soal puas, tentu saya tak akan pernah terpuaskan, dan orang-orang di sini pun tidak berkewajiban memuaskan saya.
Screenshots
Jika kita melihat konten-konten orang luar negeri, di ujung kalimat biasanya ada kata-kata; "Mari Bersenang-Senang", "Saya Senang Jika Anda Menyukainya", "Saya Senang Bisa Membahagiakan Anda", Namun jika ada yang merasa kesal dengan apa yang diperoleh orang lain, mereka menanggapinya dengan santai: "Apa yang saya raih itu berkat konstribusi dan kerja keras. Jadi, mohon maaf telah membuat anda prustasi" hehe. Dan kurator kita
juga sangat femiliar dengan kalimat "Jangan Lupa Bahagia".
Dalam kesempatan ini, saya ingin berterimakasih kepada Kurator Indonesia
dan
, para suhu, para senior dan kepada semua teman-teman yang telah ikut membantu membuat saya senang. Meski teman-teman tidak berharap balasan, namun saya tetap meminta maaf karena belum punya kesanggupan untuk membalasnya. Dan dengan sepenuhnya saya menyadari bahwa saya akan selalu membutuhkan bimbingan serta perhatian dari teman-teman semuanya. Semoga Allah melimpahi kepada kita semua kedamaian hati dan keteduhan pikiran... Amin
Posted from my blog with SteemPress : https://munawarpasilhok87.000webhostapp.com/2018/07/saya-merasa-rugi-berada-di-steemit