Suatu hari, seorang teman datang menemuiku. Temanku itu meminta beberapa saran dariku terhadap kondisi yang sedang dialaminya. Secara singkat saya menjawab, "Saya hanya akan mengatakan satu hal: khusus untuk kamu, dilarang mengeluh."

Sumber gambar
Sumber gambar
Temanku itu berkata, "Mengapa Anda menganggap keluhan itu seperti sesuatu yang sangat buruk, bukankah setiap kita pernah mengeluh? Bukankah mengeluh itu juga sisi manusiawi?"
Saya menjawab, “'Budaya keluhan' adalah budaya Setan. Orang yang pertama kali menciptakan 'budaya keluhan' adalah kepala iblis. Dia telah mengeluh kepada Tuhan: "Engkau telah mencipta seorang makhluk yang lebih rendah dariku, tetapi dia justru Engkau muliakan. Dia akan menentang-Mu, membuat kerusakan di muka bumi, dan menumpahkan darah. Engkau Telah menghinaku dihadapannya, padahal dia belum pernah menyembah-Mu. Sementara aku telah menyembah-Mu dalam bentuk yang tidak bisa digambarkan oleh siapapun. Mengapa bisa demikian?"
Anak cucu Iblis yang diberi nama Setan merupakan musuh terbesar bagi manusia. Bagaimana cara Setan menjalankan misi permusuhannya terhadap manusia? Metodenya adalah melihat ke sekeliling untuk mendapati orang mana yang telah mengembangkan keluhan dan kemudian dia mulai lebih jauh mencetuskan keluhan itu di dalam dirinya. Setan mengambil jiwa keluhan ini dengan sedemikian rupa sehingga orang itu menjadi dikuasai oleh keluhan. Mengeluh menjadi karakter yang paling menonjol pada diri si pengeluh.
Jika Anda menaruh suatu benda di rumah Anda, benda itu akan tetap sama seperti sekarang bahkan puluhan tahun kemudian. Namun berbeda dengan mengeluh. Keluhan selalu tumbuh dan terus meningkat. Mengeluh adalah salah satu akar dari semua kejahatan. Setelah mengeluh berakar, kemudian berubah menjadi kebencian, lalu mengaktualisasikannya dalam bentuk balas dendam dan semakin diperparah lagi dijalankan dalam bentuk tindakan, seperti yang telah dilakukan Iblis.
Mengeluh adalah permulaan dari sebuah kejahatan, mengeluh tidak hanya semakin bertumbuh, namun juga berubah wujud menjadi caci-maki, iri-dengki dan mencari kambing hitam untuk disalahkan. Masihkah anda menyepelekan keluhan?

Sumber gambar
Hidup itu tidak sempurna. Tidak pernah dan tidak akan pernah sempurna. Namun Ini bukanlah sebuah berita buruk. Karena faktanya, begitu kita mulai menerima kenyataan, kita akan menyambut lebih banyak kemungkinan untuk menikmati hidup dan lebih bahagia. Hidup tidak pernah sempurna, dan kita tahu bahwa kenyataan ini sangat benar.
Sumber gambar
Lantas, mengapa kita terus mengeluh tentang ketidaksempurnaannya?
Kita mengeluh tentang cuaca, lalu lintas, dan makanan yang tidak sesuai selera. Kita mengeluh tentang teman yang tidak tahu terima kasih, pacar kurang pengertian, kesetiaan pasangan, pekerjaan yang menumpuk, dan banyak keluhan lainnya yang terkadang dipicu oleh persoalan sepele. Kita telah menjadi masyarakat yang terlalu cepat mengeluh. Ini akan memupuk sikap negatif. Mengeluh menarik perhatian kita pada aspek-aspek negatif dan keadaan di sekitar kita. Dan karena kita selalu berfokus pada hal-hal negatif, ini akan membawa negativitas yang lebih besar. Mengeluh tidak pernah menghasilkan sukacita, namun justru membuat kita semakin tenggelam dalam kesengsaraan. Parahnya lagi, hal ini akan berdampak negatif pada orang-orang di sekitar kita. Keluhan menyebarkan negativitas. Dengan berfokus dan menarik perhatian pada masalah dan ketidaknyamanan di sekitar kita, sama saja kita telah mengarahkan orang lain ke arah itu juga...!Sumber gambar
Posted from my blog with SteemPress : https://munawarpasilhok87.000webhostapp.com/2018/07/sudahlah-jangan-mengeluh