Belalang yang satu ini disebut daruet jen dalam bahasa Aceh. Bila diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia menjadi belalang setan. Memiliki warna yang serupa dengan daun. Bentuk sayapnya dua lapis dengan dua antena yang panjang.
Mengapa disebut darut jen?
Menurut salah satu narasumber yang enggan disebutkan namanya. Penamaan ini berkaitan dengan cerita rakyat. Darut jen yang sering muncul di rumah warga ketika malam hari, memiliki tampilan yang berbeda dari jenis belalang lainnya. Darut jen dideskripsikan secara seram dan membahayakan kepada anak-anak.
Kehadirannya dianggap ampuh dalam upaya menakuti-nakuti anak-anak yang masih berkeliaran di luar rumah jelang malam hari. Tidak hanya itu, seorang anak yang menangis tanpa henti-hentinya di saat malam, darut jen akan diperlihatkan kepada si anak tersebut agar ia segera berhenti menangis.
Cerita rakyat lebih hebat dari senjata. Untuk mencegah seseorang, untuk melarang sesuatu hal, tidak harus dengan pukulan dan kekerasan. Sore tadi, seekor darut jen bertamu ke rumah. Ibu berusaha mengusirnya.