Seragam Real Madrid
Sebagai anak desa, bermain bola di lampoh soh (tempat kosong) menjadi keseharian dalam berolahraga pada waktu sore, begitu juga saya kecil. Hampir tiada hari tanpa bermain sepakbola bersama kawan-kawan.
Namun beda dengan saya remaja dan dewasa, menjadikan hobi untuk cabang olahraga paling diminati penduduk bumi itu dengan cara lain. Maklum, saya remaja sekitar tahun 2000-an bertepatan dengan konflik bersenjata di Aceh, apalagi daerah saya ditetapkan sebagai kawasan hitam, sebutan TNI kepada daerah basis GAM waktu itu.
Nah, masa remaja inilah kesempatan menyepak si kulit bundar itu tergerus oleh situasi mencekam dengan letusan senjata api di mana-mana. Maka kesempatan ini banyak saya gunakan menonton sepakbola di televisi ketimbang bermain sepakbola di lapangan.
Saya masih ingat betul, ketika saya kelas IV SD, saat itu bertepatan dengan Piala Dunia 1998 di Perancis. Penampilan sosok Marcelo Salas, membuat saya gila bola sampai saya dewasa. Namanya dengan nomor punggung 11 begitu terpatri dalam kegilaan bola saya sampai hari ini.
Pria berjuluk El Matador ini adalah penyerang timnas Cili, kelahiran 24 Desember 1974 dan telah membela negaranya selama 14 tahun (1994-2007). Sementara di klub berkarir di Universidad de Chile (1993-1996), River Plate (1996-1998), Lazio (1998-2001), Juventus (2001-2003), River Plate (2003-2005), dan Universidad De Chile (2005-2008).
Ketika Piala Dunia 1998 bergulir, Salas adalah pencetak gol pertama yang saya tonton saat bersua dengan Italia di grup B tanggal 11 Juni 1998 pukul 22:30 WIB. Gol Salas pada menit 45 berhasil menyamakan kedudukan 1-1 di babak pertama. Usai gol Salas, saya pun menyudahi laga bergengsi itu, karena tidak sanggup bergadang, maklum masih kecil.
Usai laga ini, saya pun tidak begitu tertarik mengikuti pertandingan sepakbola, namun nama Salas selalu hadir dalam ingatan saya ketika menonton sekilas pertadingan sepakbola. Sekadar catatan, Cili hanya mampu lolos ke babak kedua karena digilas Brasil 4-1 dalam perebutan tiket perempat final. Sementara Salas mampu mencetak sebanyak 4 gol.
Hobi menonton sepakbola kembali hadir pada Piala Dunia 2002 saat dihelat di Korea dan Jepang. Saya selalu mengikuti berita seputar piala dunia dan mengintip akan disebut nama Salas. Maklum, waktu itu belum ada akses internet dan koran pun jarang masuk desa. Namun sayang, Cili tidak lolos ke piala dunia pertama di Asia ini.
Sejak piala dunia ini, hobi saya menonton siaran langsung sepakbola semakin menjadi-jadi, seiring usia masuk ke masa remaja atau SMA. Ketika masa ini, tidak hanya piala dunia membuat saya bergadang di rumah kawan dan mencatat skor dan siapa pencetak gol di secarik kertas, tapi semua liga papan atas Eropa tidak saya lewatkan begitu saja, bahkan sampai jam 5 pagi saya mampu melawan ngantuk.
Ketika masih masa SMA sudah mengidolakan Real Madrid
Saat itu saya hafal betul satu per satu pemain top sepakbola dunia dan Asia. Bahkan, saya tulis dengan rapi dalam buku sepakbola saya, mulai timnas, klub, jenis piala antar klub, antar negara, karir pemain, prestasi timnas, federasi sepakbola, julukan-julukan tim, dll. Lalu, poster-poster tim favorit, pemain idola saya tempelkan di dinding kamar pribadi.
Catatan di buku saya, sebanyak 58 dari 78 negara yang sudah berpartisipasi di piala dunia serta prestasi
Kebiasaan ini bertahan hingga di bangku kuliah meski tidak seketat saat di bangku SMA. Ketika saya kuliah, kebiasaan menonton sepakbola di layar kaca masih bertahan hingga pukul 01.00 atau pukul 02.00 WIB dini hari. Namun, berita sepakbola selalu saya perbaharui seiring berkembang pesat internet dan media cetak.
Nah, ketika saya usai kuliah dan kini telah berumah tangga, hobi nonton siaran langsung sepakbola edisi Benua Biru--Eropa kian meredup. Bahkan, laga Real Madrid dan timnas Jerman (selangkah lagi lolos ke Piala Dunia 2018), dua tim favorit saya saat ini kerap terlewatkan. Apalagi siaran langsungnya dihelat dini hari WIB.
Berseragam timnas Jerman ketika menjuarai Piala Dunia 2016 di Brasil
Namun highlight news melalui Youtube, berita di media online, media sosial, menjadi konsumsi saya setiap hari. Tidak hanya seputar Real Madrid, Ronaldo (kandidat pemain terbaik dunia 2017), dan timnas Jerman, tapi semua liga top Eropa, liga champions, piala dunia, piala Eropa, piala Asia, timnas Indonesia semua usia, apalagi terdapat anak Aceh di sana.
Begitu juga liga Indonesia terutama terdapat putra-putra Aceh. Di Liga 1 semisal Ismed Sofyan dan Fitra Ridwan Salam (Persija Jakarta), Hendra Sandi Gunawan (Persiba Balikpapan), Miftahul Hamidi dan Syakir Sulaiman (Bali United), Zulfiandi dan Teuku Muhammad Ichsan (Bhayangkara FC), dan Zikri Akbar (Mitra Kukar).
Kemudian terdapat tim Aceh, semisal di Liga 2 kemarin, Persiraja Banda Aceh (sedang play-off Liga 2) dan PSBL Langsa (tergredasi ke Liga 3). Selanjutnya di Liga 3 kemarin, ada Kuala Nanggroe Banda Aceh (juara Regional Aceh), Aceh United (juara dua), PSLS Lhokseumawe (semifinal), Persada Abdya (semifinal), PSBL Langsa, PSAP Pidie, PSSB Bireuen, PSGL Gayo Lues, dan lainnya.