Menyeberang dengan tali sling
Pagi itu, matahari naik sehasta dari kaki langit. Sinar hangatnya menyuluh permukaan bumi, pertanda hawa panasnya akan dimuntahkan pada siang hari. Namun, kenyataan tidak. Apalagi ketika memasuki lokasi wisata alam di pangkal Taman Nasional Gunung Leuser (TNGL).
Lokasi ini letaknya di kawasan wisata Bukit Lawang, Kecamatan Bahorok, Kabupaten Langkat, Provinsi Sumatera Utara. Lokasi ini juga masuk dalam kawasan TNGL yang membentang dari Aceh bagian tenggara sampai ke barat laut Sumatera Utara.
Saya rasa umumnya warga Indonesia mengenal dan pernah mendengar TNGL, bahkan masyarakat dunia sekalipun. Baru-baru ini, akhir Maret 2016, aktor hollywood Leonardo Dicaprio, secara diam-diam menyambangi sebuah kawasan yang dikenal dengan paru-paru dunia ini, tepatnya kawasan Ketambe, Kabupaten Aceh Tenggara dan Serbajadi, Kabupaten Aceh Timur.
Dikenal dengan paru-paru dunia, wajar TNGL ini benar-benar menjadi magnet dunia, terutama bagi aktivis lingkungan hidup. Di dalam negeri sendiri, keberadaanya sangat sensitif, baik dari segi aktivitas perambahan hutan terlarang, perburuan satwa dilindungi, dan kebersihan lingkungan.
Saya begitu tercengang soal kebersihan di TNGL ini saat berkunjung ke sana baru-baru ini. Di mana ini menjadi pelajaran berharga bagi saya dan bagi masyarakat luas tentunya. Kejadian yang menimpa teman saya ini masih membekas dalam ingatan saya hingga kini.
Dalam perjalanan di bawah rimbunan pohon dan riuhnya suara burung, serta naik-turunnya bukit di tebing sungai menemani kami menuju penginapan di Hotel Back to Nature. Hotel berlantai dua terbuat dari kayu dan beratap seng itu terletak di tengah-tengah belantara hutan persis di sisi Sungai Bahorok.
Waktu perjalanan sekitar 45 menit di sisi sungai itu tidak terasa beratnya medan menuju hotel. Di tengah perjalanan saat menyebrang Sungai Bahorok, kami terpaksa naik tali sling dipandu para guide (pemandu) atau gaet, karena tidak bisa menyebrang langsung sebab derasnya air.
Para pemandu membawa barang
Setibanya di seberang, terus kami berjalan dalam sungai karena airnya tidak dalam. Tiba-tiba salah seorang teman kami membuang satu botol air mineral kosong bekas minuman ke dalam air jernih tersebut.
Tidak lama setelah itu, salah seorang guide bercelana pendek dengan rambut acak warna sedikit menguning itu menegur kami secara tidak langsung. Nama guide itu Umar. “Imam, tolong ambil botol di air itu,” perintah Umar kepada guide lainnya.
Mendengar perintah Umar kepada Imam, hati kecil saya tersentak penasaran. Saya pun menanyakan kepada Umar. “Kenapa bang dengan botol bekas air mineral itu”. Dia menjawab. “Di sini bang, sangat diutamakan adalah kebersihan. Ini bagian dari upaya perlestarian lingkungan. Lingkungan tetap hijau, tidak boleh dikotori oleh tangan manusia,” jawabnya menjelaskan.
Berfoto di depan hotel
Pantas saja, sepanjang perjalanan kami tidak menemukan sampah bekas makanan dan minuman apa-apa, kecuali ranting-ranting pepohonan, daun-daun yang lepas dari dahannya, serta semak belukar nan hijau.
Tidak cukup di situ. Ketika tiba di hotel kembali terulang hal yang sama. Di hotel dialami oleh teman lain yang tidak serombongan dengan kami. Salah seorang teman kami membuang puntung rokok ke lantai berkerikil itu.
Bersihnya kerikil sebagai lantai dasar hotel
Lagi-lagi, kami ditegur dengan sangat santun oleh pemilik hotel banyak turis tersebut. Akhirnya, kami perhatikan, memang benar tidak ada sampah apapun bekas makanan atau lainnya di seputaran hotel dan dekat hutan lindung itu.
Kata Acha, laki-laki berambut gondrong, berkumis lebat dan berpakaian seadanya itu, selain kesadaran pengelola lokasi wisata Bukit Lawang ini dalam menjaga kebersihan, tiap hotel setahun sekali diharuskan mengikuti lomba kebersihan dan pelestarian lingkungan. Per hotel dibandrol uang pendaftaran Rp 12 juta. Sedangkan jumlah hotel tidak kurang dari 50 unit di kawasan itu.
Inilah satu sisi kebersihan lokasi wisata Bukit Lawang di kawasan TNGL. Tentunya juga menjadi sebuah pelajaran berharga bagi kita semua dalam menjaga lingkungan.