Puisi tumbuh. Istilah apa pula itu? Ini hanya istilah saya untuk menyebut puisi yang terus berubah sesuai dengan suasana dan kebutuhan. Saya pertama menulis teks dasar puisi itu, lalu seiring waktu puisi itu berubah, untuk merespon suasana, kondisi, dan situasi terkini.
Salah satu puisi tumbuh yang saya tulis berjudul "Tak Ada Puisi Hari Ini". Puisi ini beberapa kali saya bacakan, baik sendiri maupun dengan teman-teman lain, di berbagai forum. Teks dasar puisi ini adalah sebagai berikut:
TAK ADA PUISI HARI INItak ada puisi hari ini, selain suara kereta
dan lenguh peron yang ditinggal pergiaku menulis satu tambah satu sambil membayangkan
mulutmu gugup untuk mengucapkan jumlahnya duaKatamu,
"Itu bisa saja tiga, empat, lima, enam, tujuh..."ketika dua kereta berhenti bersamaan
dari arah berbeda, kau pun mendengkur:"Ya, ada kalanya satu tambah satu itu dua.
Tapi angka-angka bisa berlompatan sesukanya."katamu lagi, sambil menyisir sepanjang kereta,
"kau lihat ada berapa gerbong jumlahnya?"tak ada puisi hari ini, selain suara lonceng
yang dipukul berkali-kali
oleh petugas stasiun
sebelum bunyi rel berdecit oleh kereta yang tibaaku hanya menemukan orang-orang
terkantuk-kantuk menunggu pacarnya entah di mana
dari jauh, sekerat puisi mengerjab-ngerjab
seperti pokemon yang habis disergaplalu kau melompat dalam kereta
sambil mengayun belatimemburu sunyi yang pergi
mengejar sesepuisi yang jadi-jadisungguh, tak ada puisi hari ini
tak ada lagi yang bisa dipanggil puisiDepok, 11 Agustus 2016
MUSTAFA ISMAIL
Puisi itu dimuat dalam buku puisi "Matahari Cinta, Samudra Kata" yang disusun dan dikuratori oleh sastrawan/budayawan Rida K. Liamsi dan diterbitkan pada 2016. Setahu saya, ini buku puisi modern Indonesia tertebal saaa ini, dengan jumlah halaman romawi 2016 halaman, sesuai tahun terbit dan menandai Hari Puisi Indonesia 2016.
Namun puisi #TakAdaPuisiHariIni itu terus berubah. Anda bisa simak puisi yang saya bacakan pada Jambore Sastra Jawa Barat dalam video yang direkam oleh Willy Ana . Video itu diunggah ke akun Youtube penyair asal Bengkulu itu, yang bisa disimak di sini:
Teman-teman juga bisa menyimak video pembacaan puisi saya bersama dan Iwan Kurniawan
(bersama kelompok Sihir Puitika) pada "Malam Puisi untuk Indonesia Bertoleransi" kerjasama Festival Sasta Bengkulu (FSB) 2019 dengan LPP RRI
di Bengkulu, pada 14 September 2019. Pembacaan puisi sejumlah penyair Indonesia itu disiarkan secara live di RRINet
. Simak video itu pada durasi ke 1.48.21.
Puisi itu dengan mudah menyesuaikan diri dan merespon situasi apa pun. Juga bisa dibacakan di mana pun. Tapi, tentu, hanya penulisnya yang bisa mengubah-ubah puisi itu sesuai kebutuhan. Lainnya tidak.
MI
190420
#puisimi
#takadapuisihariini
#poetryreading
#sihirpuitika
#poem
#poetry
Posted from my blog with SteemPress : http://musismail.com/puisi-tumbuh/