menurut saya, sebenarnya banyak sekali tokoh-tokoh hebat di steemit yang punya wawasan elite terkait pemahaman apa itu konten pada kacamata STEEMIT sendiri. tapi saya ingin berikan beberapa nama dan ulasannya terkait konten. yang pertama adalah seorang Steem Ambassador dari kota juang sekaligus ketua KSI Chapter Bireuen, beliau adalah . nah menurut beliau sebuah konten tercipta dengan syarat konten itu berisi tulisan minimal 300 karakter atau lebih, kemudian isi konten tersebut haruslah orisinil, artinya murni dari hasil pengamatan dan karya sendiri. tentunya diselipkan beberapa ilustrasi seperti tiga buah foto atau lebih. yang kedua konten tidaklah harus berupa tulisan saja, steemit sendiri mengakomodir banyak karya seperti tutorial, fotografi, bahkan live streaming. nah! terpujilah orang-orang yang kreatif dan memiliki banyak ide juga keberanian yang top markotop untuk unjuk gigi di dunia steemit.
kemudian beliau juga mengumpamakan steemit sebagai sebuah universitas. nah! ini yang menarik menurut saya. steemit adalah universitas, setiap universitas tentulah punya sistem pemerintahannya sendiri dong? ini adalah pernyataan sederhana dari beliau PLUS sangat cepat ditangkap oleh steemian pemula seperti saya.
jika steemit sebagai universitas, maka utopian-io kita umpamakan sebagai prodi ilmu komputer, dan Dlive, Dtube sebagai prodi kesenian,dan lain sebagainya.
yang kedua adalah , beliau berkata, konten itu tidak harus isinya seperti tulisan seorang profesor, konten itu sendiri merupakan cerminan dari diri kita, artinya hikmah dan intisari dari petuah beliau adalah, Be yourself. juga tak lupa beliau selipkan semangat dan komitmen yang kuat dalam menjadi seorang steemian. jangan pernah terpengaruh dengan harga steem/sbd turun. karena sejatinya hasil tidak akan pernah mengkhianati hasil.
usut punya usut, kita semua adalah kurator konten, TAPI ada yang membedakan kita satu dengan yang lain. apasih yaang membedakan kita? bukannya kita sama-sama kurator?
hal pertama adalah pengetahuan terkait steemit, kedua adalah seberapa lama dan seperapa luas relasi yang sudah kita bangun selama ini, yang ketiga adalah. bagaimana kita me-manage ego kita dalam menjadi seorang steemian. keempat adalah se-orisinil apa tulisan kita.
nah! menurut saya keempat hal tersebutlah yang dapat menjawab seberapa pantas kita memvonis seseorang layak atau tidak sebagai seorang kurator konten itu.
nah! terkait pertanyaan kedua tentang seberapa adilkah platform ini?
saya kira keadilan itu sendiri bersifat relatif. di manapun, tak terkecuali di dunia nyata dan media sosial manapun, termasuk steemit.
tapi begini, saya beri satu contoh yang paling sederhana. ada dua orang yang butuh pertolongan, yang pertama adalah orang yang belum begitu anda kenal, beliau meminta pertolongan dengan meminjam uang sebesar Rp. 1.000.000, dan yang kedua adalah orang dekat sekaligus sahabat anda selama katakanlah 15 tahun , nah dia juga meminjam uang sebesar Rp.1.000.000.
pertanyaan adalah orang mana yang terlebih dulu anda tolong?
menurut paradigma saya, pastilah sahabat dekat tersebutlah yang kita prioritaskan. setelah itu jika punya rezeki lebih, barulah kita tolong orang yang tidak begitu kita kenal tersebut. benar bukan keadilan itu bersifat relativ?.
sekarang begini deh, kita hanya butuh komitmen dan kegigihan ekstra di steemit, mereka yang hanya punya mental tempe pastilah tersungkur jauh ke dasar lautan tak bertepi dan kemudia tewas di impit rasa menyerah.
saran saya adalah teruslah membuat konten semenarik mungkin tanpa terhalang oleh apapun. hindari plagiarisme, ujaran kebencian dan terlebih janga pernah rasis. itu saja!
singkat cerita, aplikasikanlah kata kata Kurt Cobain berikut ini:
Lebih baik di benci karena jadi dirimu sendiri daripada kamu disukai karena menjadi orang lain.
salam kuah plik dari saya. , pelaku seni asongan dari kota juang 🤘🤘🤘
RE: Kurator Konten dan Keadilan