Sebagai seorang istri, kita menginginkan dijadi sebagai perempuan yang paling di nomor satu-kan. Sungguh suatu yang wajar karena kita beranggapan bahwa suami telah berikrar untuk hidup bersama.
Selama ini seluruh sisa hidup kita telah kita serahkan padanya agar tercipta hubungan yang harmonis. Meskipun demikian, sangat tidak mungkin bila kita istri di nomor satu-kan di hati suami.
Secantik apapun kita, setulus apapun kita, sebaik apapun kita, suami takkan pernah menjadikan kita sebagai orang nomor satu dihatinya. Tetapi ada perempuan lain yang telah duluan hadir dalam hidupnya.
Kita bukanlah sosok perempuan pertama yang mengisi hatinya. Kita juga belum tentu menjadi orang yang sangat berjasa untuknya, pun demikian kita terus berusaha untuk itu.
Perempuan yang paling nomor satu di hati suami kita adalah ibunya. Ibunya adalah yang sangat berjasa menjadikan ia seperti sekarang ini. Ibunya pula yang menjaga dan merawatnya sehingga dia bisa bersama serumah dengan kita hari ini.
Jangan pernah kita mencemburui ibunya. Jangan pula kita menjadikan ibunya sebagai saingan. Tanpa ibunya, kita takkan pernah mendapatkan suami kita seperti saat ini.
Makanya sangat wajar, bila perempuan yang paling dinomor satu-kan oleh suami kita bukanlah kita tapi ibu. Semoga saja, tidak ada perempuan selain ibunya dihati suami kita.