Apakah yang membuat sebuah organisasi secara pelan tapi pasti mengalami sakaratul maut, dan mati secara meyakinkan?
Tak ada yang sungguh-sungguh mengetahui apa sebab dibalik dari almarhumnya sebuah organisasi, sekalipun orang-orang dalam organisasi itu sendiri. Bisa jadi mereka tau, hanya saja tak ingin membahasnya agar tak menjadi tersangka dari fenomena kematian mengenaskan itu.
Yang jelas, begitu banyak organisasi bermunculan, dibangun dengan semangat berkobar, berharap panjang umur namun akhirnya tewas mengenaskan, bergentayangan dan menjadi arwah penasaran. Ujung-ujungnya, tinggal nama dan kenangan.
Organisasi memang cukup mudah lahir dengan berbagai latar belakang dan bidang konsentrasi, apakah itu yang berlatar sosial politik,hobi, budaya, kesukuan, agama, seni, ekonomi, teknologi, hukum. Namun mudah pula bagi organisasi tutup usia, baik itu skala kecil setingkat komunitas, sampai skala besar setingkat Partai, yang tiba-tiba bubar tanpa kabar. Bahkan ada yang mati saat belum sempat dewasa, alias masih balita.
Bagi yg suka berorganisasi (Organisasi internal kampus misalnya) pasti pernah merasakan "Indahnya bersama" di awal-awal baru berdiri, atau katakanlah baru saja pelantikan. Saat itupun bermunculan kesimpulan , "Ini rumah saya." Semangat pun menyala membumbung tinggi, menyentuh langit.
Tapi satu dua bulan berjalan, tiga empat bulan bersama, aneka persoalan datang menerpa. Kondisi yang terjadi kemudian adalah, "Rumah" terguncang oleh berbagai cobaan, kosongnya ide dan gagasan, bertabrakannya jalur pikiran dan sudut pandang, pupusnya komitmen dan tanggungjawab, menghilangnya figur kepemimpinan.
Tanpa harus dikomando, kondisi inipun membuat satu persatu penghuni berpamitan. Siapa yang akan bertahan di tengah ketidakpastian? Siapa yang akan setia dengan kondisi memprihatinkan? Saat- saat itulah terlihat bahwa seleksi alam ternyata mulai bekerja. Rumah akhirnya kosong, ditinggal satu persatu penghuninya. Rumahkah ini, atau hanya sekadar rumah singgah?
Kita Bukan Organisasi, Tapi Kita Keluarga
Mengapa seseorang perlu berorganisasi?
Aristoteles membedakan manusia dan hewan dengan kata "Politicon." Ya, karena manusia adalah zoon politicon (bukan sekadar zoon; hewan), yaitu makhluk sosial yang tak bisa hidup sendiri, membutuhkan hidup bermasyarakat dan berserikat untuk meraih kehidupan yang stabil dan harmonis. Dan organisasi, adalah salah satu jalan menuju kesana.
Hal paling mengasyikkan dari berorganisasi adalah menemukan keluarga. Keluarga tak sedarah (non biologis) tapi keluarga ideologis, yang dipersatukan oleh rasa memiliki dan semangat, semangat berjuang bersama untuk meraih tujuan bersama.
Jika idealnya organisasi harus dianggap keluarga, maka adakah keluarga yang dengan sengaja ingin dipisahkan satu dan lainnya? Adakah seorang anak yang ingin berpisah dari orangtuanya? Atau adakah seorang kakak yang ingin jauh dari adiknya?
Yang paling menakutkan dari keberlanjutan sebuah organisasi bukanlah ketiadaan program, minim kegiatan atau bahkan krisis dana. Bisa jadi, keterbatasan dana maupun rancangan program yang sekalipun tidak disusun secara baik kemana arah tujuannya, bahkan hal ini masih bisa membuat organisasi terselamatkan.
Program, kegiatan, dana, hanyalah pelengkap derita. Tapi apakah yang utama bahkan melebihi pentingnya hal itu semua? Itu adalah semangat dan rasa saling membutuhkan antara para anggota di dalamnya.
Setiap organisasi menawarkan hawa dan iklim yang berbeda-beda. Meriah di awal tak menjadi jaminan organisasi berumur panjang. Ada fase yang akan ditemui oleh semua orgnisasi yakni fase "Panas-Panas Taik Ayam." Bahkan di tengah jalan, siklus yang terjadi kerapkali bermula "Panas-Dingin-Beku." Fase membeku, adalah gejela-gejala menuju kematian.
Memanjangkan umur sebuah organisasi memang tak mudah. Bahkan semakin sulit ketika satu persatu orang-orang mulai pergi di tengah kondisi-kondisi tersulit. Saat itu, alam memberitahukan dengan sendirinya, siapa figur petarung sejati yang tersisa dari dahsyatnya peperangan. Figur yang tak akan meninggalkan medan perang sebelum usai memenangkan perang.
Menjalankan sebuah organisasi, bagai menakhkodai sebuah kapal. Siapapun nahkodanya,jangan sampai kapal itu oleng ! Jangan sampai ia tenggelam. Jangan sampai, please..
Survive ord died? Seleksi alam boleh jadi adalah keniscayaan. Namun menjaga semangat dan kesetiaan, adalah kewajiban.