Pertemuan dua bukit itu menyerupai tubuh manusia telentang dengan kedua sisi kakinya merenggang, terkuak serupa selangkang perempuan. Sebab, di seluk situ tak ada gumpalan, melainkan lubang. Persis di selangkang bukit itulah rumah-rumah beton mungil bercat kapir menumpuk, saling berdesakan, terkesan seperti sedang berlomba-lomba hendak memasuki liang.
Dari balai ini jelas terlihat gambaran itu, yang merupakan pemandangan di seputar kawasan komplek perumahan pensiunan tentara(Lampuki*Arafat Nur)
Enam tahun yang lalu aku tidak mengerti ketika membaca novel ini, saat itu hanya sekedar baca saja, dan kagum pada kedetilan serta diksi-diksinya. Sekarang aku baca lagi, baru paham. Sementara Tempat Paling Sunyi dan Burung Terbang di Kelam Malam, mudah aku pahami. Dalam Lampuki ini memakai sudut pandang tokoh AKU, seorang guru ngaji yang mengajari anak-anak mengaji. Novel Lampuki sedang dalam proses penerjemahan ke dalam beberapa asing di Belgia, setidaknya ke dalam 20 bahasa, tahap pertama ke dalam 5 bahasa dulu. Penulisnya tidak ambil pusing tentang karyanya itu, ia asik mencangkul di sawahnya. "Pidar, ayo kita buat kolam di sawah ini, kita pelihara ikan," ajaknya beberapa kali.
"Aku harus menjaga ladangku dari penjarahan monyet," jawabku.
Tunggulah tahun ini bakal terbit Surga Tanah Merah.