Aku merasakan nuasa mistik dalam lagu Liza Aulia, judulnya Rihôn Meulambông(rindu mengambang). Sama halnya seperti lagunya sebelumnya, Kutidhieng(mantra memanggil harimau), lagu bernuansa realisme magis. Musik etnik khas Aceh yang dipadukan dengan rock(metal), tentu saja musik metal dapat mempengaruhi DNA menjadi negatif. Jika rapa-i ditabuhkan di suatu desa suaranya akan menggema jauh hingga ke beberapa desa lainnya, krustal di dalam air akan buram, mengerikan sekali. Sementara 70 persen tubuh manusia adalah air, tapi inilah musik Aceh yang sesungguhnya. Seingatku, perintis musik etnik Aceh pertama kalinya dimulai saat meletus konflik dulu sekitar tahun 2000an, oleh Nyawong, dengan lagunya Panglima Prang(panglima perang), Harô Hara(rusuh), Saleum(salam). Setelah itu dilanjutkan oleh Rafly Kande, Seulanga(kenanga) dan kini oleh Liza Aulia. Sebelum menemukan identitasnya musik Aceh adalah dangdut dengan kebanyakan irama jiplakan. Saat aku masih di Banda Aceh dulu, musik lain yang sangat populer adalah Reggae.
Di sana aku sering berkumpul dengan anak FKIP kesenian di sore hari, mereka membawa bag, isinya gitar klasik, biola, flute dengan notasi baloknya. Dibimbing oleh pak Ari, alumni S-2 Hawai spesialisasi gitar klasik. Sore yang menyenangkan dengan petikan romance de amor, assuturias, recuerdos de la Al hambra atau juga sesekali lagu Doraemon. Selebihnya aku sering berkumpul di Al-Kahfi, tempat dimana relawan-relawan asing yang depresi dalam kerjaanya sehingga memutuskan untuk mengajar bahasa asing di Al-kahfi, Inggris, Jepang, Spanyol, Perancis.
Atau juga sesekali tercengang melihat seorang penderita skizofrenia di seputaran lapangan tegu dan jalan Inong Balèë(wanita janda), rambutnya gimbal seperti musisi reggae. Ia hanya memakat sehelai handuk dekil di tubuhnya, ia dipanggil Wak Alu, kami menyebutnya Bob Marley. Ia seiing duduk atau jongkok ketika merokok, sehingga revolvernya dengan gamblang bisa terlihat mengarah tanpa tujuan atau bidikan. Beberapa ukhti IAIN Ar- Raniry, menjerit-jerit ketika melihat revolver Wak Alu, walau akhirnya tersenyum kecil. Hanya Wak Alu yang kebal hukum di kota pelajar itu, ia bebas membawanya kemana saja rovolver-nya itu, walau pelurunya cuma dua. Gila dengan logika hanya beda tipis, setipis kondom.