Judul ini kutemukan ketika memuat sebuah gambar yang kujadikan caption di status WA semalam. Status itu dikomentari oleh seorang stemian Barsela yang tentunya sudah tidak asing di pendengaran kita. Iya, dia adalah Pak . Beliau memintaku untuk menyulap caption sederhana itu menjadi sebuah tulisan. Baiklah, sebelumnya aku akan menampilkan gambar mana yang sedang kubicarakan.
Sahabat Stemian, apa yang Anda lihat ketika memperhatikan fotoku? Aku yakin hal pertama yang terlintas di matamu adalah senyuman. Senyum selalu identik dengan kata bahagia. Lalu bagaimana dengan gambarku? Sudahkah aku memenuhi kriteria itu? Apakah semua terlihat baik-baik saja? Jika jawabannya iya, itu artinya aku sudah berhasil menutupi sesuatu yang ingin kusembunyi.
Aku mengulum senyum sebaik mungkin agar semua terlihat baik-baik saja, agar mereka tidak menerka tentang luka, agar aku terlihat begitu bahagia. Lalu, bagaimana dengan mata? Aaah! aku lupa jika mata tak bisa diajak bekerja sama. Ia tetap memancarkan kelelahan, kesedihan yang mendalam.
Satu kata paling tepat menggambarkan judul dan foto di atas, yaitu kepura-puraan. Hal itu sering terjadi pada beberapa wanita yang terlihat begitu ceria. Ketika perasaannya tidak singkron dengan logika, tersenyum adalah caranya menciptakan bahagia. Senyum sering dijadikan pilihan untuk menutupi buncahan yang tak terkendali di dada. Ketika sayatan-sayatan luka menghiasi hatinya ia tersenyum untuk menyamarkan luka dari pandangan beberapa orang di sekitarnya. Ketika hatinya dihunus dengan sembilu tersenyum adalah penawar pilu.
Jadi tidak semua senyum itu adalah bahagia. Namun, tersenyum adalah langkah awal untuk bahagia. Seberapa pun sakitnya, separah apa pun lukanya tersenyum mampu meleburnya. Meskipun ia tidak bisa menyelesaikan masalah-masalahmu tetapi ia bisa menguatkanmu menghadapi setiap persoalan yang menyergapmu.