Bagaimana rasanya bercinta tanpa cinta?
Kurasa tak ada rasa, tawar kurang gula, hambar kurang garam. Tapi kalau lapar melanda ya sikat juga. Tidak peduli hambar, keasinan, kurang micin, yang penting bercinta. Melampiaskan cinta tanpa cinta, kurasa bagai klimaks yang di paksa, begitu tersiksa jiwa dan raga.
Tanpa cinta tapi bercinta, hanya karena lapar menghalalkan segala cara. Ironis!!!
Ini kurasa sama hal nya dengan menulis di Steemit bila menganggap -- yang penting saya sudah posting hari ini, (inilah bentuk klimak yang dipaksa).
Tanpa berusaha membuat tulisan yang bermakna, hanya melepas klimaks dengan membabi buta. Jangan harapkan ending dengan hasil yang luar biasa, bila rasa cinta itu saja kita tak punya.
Memang tidak ada yang salah dengan itu, silahkan saja bercinta tanpa cinta, bisa jadi cinta itu datang karena sering bercinta. Tapi bagiku, bila bercinta tidak dilandasi dengan cinta biasanya akan berakhir dilema.
Menulis, posting, belajar menulis, menulis, posting, belajar menulis, menulis dan posting.
Tidak ada upvote itu biasa, yang penting cinta itu ada. Anggap saja sedang belajar dan membangun cinta. Karena bercinta dengan rasa cinta akan menghasilkan Klimaks yang luar biasa dan terasa lebih bahagia.
Dan, ketika cinta itu sudah melekat, postingan apa saja akan di sambut bahagia oleh para pembaca.
Ingat!! Para kurator Indonesia dan siap membantu kita. Semua kontribusi, pertanyaan, dan kritik akan disambut dengan baik dan akan diperhatikan..