"Gue akan terus berjalan dan loe masih tertarik, loe pasti akan senang mendengar cerita-cerita gue. Karena gue sering cerita orang-orang akan merasa akrab dan bila tiba saatnya gue mati gantian orang-orang yang akan cerita tentang gue". (Norman Edwin)
Pendaki gunung es mulai bertambah dan semakin ramai belakangan ini. Mengingatkan aku pada dua orang legendaris pendaki Gunung dari Indonesia. Ya- Norman Edwin dan Didiek Samsu. Mungkin yang lahir setelah tahun 90-an tidak mengenalnya, tapi bagi orang yang menyukai olah raga alam bebas dan pendaki gunung pasti mengenalnya.
Mereka berdua adalah anggota Mapala UI, pendaki gunung Nusantara di era 1980an-1990an. Keinginan mereka mensejajarkan bangsa Indonesia dengan bangsa lain di dunia pendakian gunung dan bermimpi untuk mengibarkan Merah Putih di tujuh puncak tertinggi di tujuh benua (Seven Summits).
Gagal diupaya pendakian pertama pada Gunung Aconcagua bersama seluruh rekannya. Norman dan Didiek memutuskan kembali melakukan percobaan kedua walau kondisi Norman telah kehilangan satu ruas jari di pendakian yang pertama. Namun Yang Maha Kuasa berkehendak lain. Perjuangan Norman dan Didiek akhirnya harus meregang nyawa menghadapi El Viento Blanco (angin putih) di sekitar puncak Aconcagua.
Hari ini, 26 Tahun yang lalu, tepatnya 23 Maret 1992, jenazah Didiek Samsu ditemukan di dalam sleeping bag (kantong tidur) di Refugio Independenzia, pada ketinggian 6.400 meter.
Sementara tubuh Norman Edwin ditemukan oleh tim militer Argentina di awal April pada ketinggian 6.600 meter, hanya sekitar 300 meter dari Puncak Aconcagua. Ia telungkup menghadap ke puncak, dalam posisi masih mendaki. Di tangannya juga masih tergenggam kapak es, dan di punggungnya masih menggendong ransel. Diduga ketika hendak mengapai puncak, badai salju menimpanya.
Norman adalah petualang paling top saat itu. Mereka berdua adalah wartawan senior, Norman diharian Kompas, sementara Didiek adalah wartawan Jakarta.
Walau telah tiada, mereka pantas dikenal
dan dikenang, bahkan semangatnya telah diwariskan pada generasi selanjutnya. Keduanya tetap menjadi legenda dalam dunia penjelajahan Indonesia.