Qiuu... Selamat sore kawan. Apa kabarmu?
Tulisanku selalu ku awali dengan menanyakan kabarmu, tapi kenapa tidak pernah kau balas di kolom komentarku? Apa kau sudah lupa? Tapi aku yakin kau tidak akan pernah lupa kawan.
Apa mungkin kau belum punya akun steemit? Hari gini belum punya akun steemit? "Ahh.. payah bener kamu", kata bg mus.
Kau pasti masih ingat ketika suatu kali kau bangun pagi-pagi sekali dan menendang jauh-jauh rasa kantuk karena semalam kita tidak tidur di awal waktu. Kau paksa mesin motormu yang enggan menyala, mungkin motormu terkejut, tak seharusnya kau membawanya se-pagi ini.
Ketika teman-teman seumuranmu lebih memilih diam di rumah dan bangun disiang hari, memilih liburan bersama keluarga, atau menghabiskan waktu bersama pasangannya dan mengadu syahwat kebinatangannya. Tapi kau malah dengan anehnya bangun pagi-pagi, kau berkeras diri, kau arahkan laju sepeda motormu, menjemput kawanmu yang kupikir sama gilanya dengan kau. Bergegas tergesa-gesa karena jarum pendek jam sudah menunjuk angka delapan.
Bodoh, gumamku dalam hati, kalian tidak akan dipecat siapa-siapa, kenapa mesti buru-buru gilaa?
Panti asuhan, kolong jembatan -- Kalian menghabiskan akhir pekan di sana, buang-buang waktu saja pikir orang-orang. Tapi kau dengan tenang menuangkan sedikit air sungai pengetahuan dari sungai yang kalian punya, berharap tempayan-tempayan mereka bisa terisi penuh. Sungaimu tentu akan kosong bila yang mempunyai otoritas menanam sawit di sekitar sungai mu. Inilah resikonya, kau mesti mengisi sungaimu kembali, mungkin dengan sedikit perlawanan - bukan dengan duduk manis di gudang kekinian.
Kau tentu juga tidak akan lupa, ketika kita lebih memilih untuk diskusi semalam suntuk, gila, membicarakan hal-hal paling tidak penting untuk orang-orang seumuran kita waktu itu.
Yang lebih parahnya lagi, obrolan kita lakukan di rumah kontrakanmu sepetak yang pengap. Akupun tidak bisa berhenti membakar dan menghisap rokok buatan ku sendiri, mengharuskanmu untuk mengerti aku dan kau memilih menikmatinya (kor-as).
Tapi, kau bersikeras untuk bertahan, karena obrolan kita soal siapa yang akan memulai revolusi dan bagaimana memantiknya belum selesai-selesai. Begitu pula dengan obrolan tentang makna hidup, atau bahkan soal hubungan asmaramu yang makin memburuk. Kau dan aku tahu pasti, obrolan kita takkan pernah terhenti, takkan pernah kehabisan tema, dan juga takkan pernah terselesaikan. Begitu pula dengan setiap perdebatannya.
Aku ingat betul di suatu malam pukul tiga dini hari, ketika kau membantah jargon seorang kawan yang menurutku abstrak "manusia harus memanusiakan manusia lainnya". Dia menghajarmu habis-habisan dengan jawaban-jawaban dogmatisnya, kemudian aku memilih untuk tertawa dan tidur karena matahari sudah mulai mengintip dari selah-selah jerjak. Dia baru terbangun, sedang kita baru akan tidur.
Kau pasti ingatkan?. Sudahlah, jangan melupakan ini seperti kau melupakan mantan pacarmu. Sekarang aku baru paham bahwa semua perdebatan teoretis yang sengit tentu sangat tidak berguna kalau tidak dibarengi dengan gerakan dan perlawanan nyata yang sengit pula.
Semoga kau masih ingat kawan. Walaupun kini kau telah memihak kepada mereka.