** Minggu Steemian...**
Sepakat tidak kalau saya katakan sekolah tidak membuat kita berpengetahuan?
Sepakat tidak kalau sekolah juga tidak membuat kita berpikir?
Jangan emosi dulu, saya cuma mau mencari kesepakatan. Kalau memang tidak sepakat, saya juga tidak. Yang penting jangan langsung marah dah mengatakan saya gila lah. biasa aja.
Anggap saja jawaban kalian tidak sepakat, ya - saya pun langsung tidak sepakat dengan itu. Enak aja mengatakan sekolah membuat kita tidak berpengetahuan dan tidak membuat kita berpikir. Kalau tidak berpikir dan berpengetahuan bagaimana mungkin kita bisa menyelesaikan bangku sekolah dengan nilai memuaskan?
Bagaimana pula kita bisa melanjutkan kuliah dan sekarang bekerja sebagai pe en es dan di perusahaan-perusahaan ternama.
Enak aja dia ngatain sekolah membuat kita tidak menjadi berpengetahuan atau pun tidak berpikir.
Tapi sepakat tidak kalau pengetahuan dan pemikiran kita semasa sekolah hanya sebatas pada kurikulum atau pun buku-buku pelajaran sekolah yang di cetak oleh beberapa penerbit buku yang telah bekerja sama dengan kemendikbud?
Saya sepakat soal ini, terserah kalian mau sepakat apa gak. Maaf kawan, ini soal perasaan, saya gak mau berbagi perasaan ini dengan kalian. Ha ha
Hari-hari sekolah kita lewati dengan matematika, bahasa indonesia, PR, hafalan, tugas, baris-berbaris, dsbnya. Gak tanggung-tanggung, belasan tahun kita habisi waktu untuk itu. Ironis ya.
Saya jadi teringat lirik lagu bg Iwan,
Anak sekecil itu berkelahi dengan waktu
Demi satu impian yang kerap ganggu tidurmu.
Anak sekecil itu tak sempat nikmati waktu
Dipaksa pecahkan karang, lemas jarimu terkepal.
Tragis kawan!!! (Padahal ini hanya impian ibu-bapaknya saja)
Satu kali, saya melihat anak kerabat saya pulang dari sekolah, dengan menyandang beban berat dipundaknya. Bukan, bukan beratnya tas ransel di bahunya, berat juga perjuangannya menghabiskan waktu kecilnya untuk satu keinginan orang tuanya agar menjadi bla bla bla kelak ketika dia dewasa.
Kalian tau pelajaran di sekolah kita sekarang? semakin lama, semakin menggila-gila.
Anak kerabat saya ini masih kelas 3 SD, dia sempat menunjukkan PRnya saat selesai dia berganti pakaian sekolah dan makan.
Om liat ni PR Ara, iya nama panjangnya Arakate. Sama seperti kucing kami di
.
Mataku langsung berair, hidungku mimisan, bajuku basah, tenggorokan kering, bibir pecah-pecah, dan susah buang air besar.
Gilaa.. aku menggerutu dalam hati.
Untuk apa ini? Setelah ini mau di bawa kemana pertanyaan-pertanyaan itu?
Tapi aku tetap memberinya jawaban dari guru terbaikku googling. Ha ha..
Padahal hidup ini tidak sebatas pada buku atau pun kurikulum saja, kan? Auk akh gelap
Sudah, sudah, gak usah kalian pikirkan kali tulisan di atas tadi. Saya cuma mau mengantarkan kalian pada sebuah kisah tentang dua orang besar yang sampai saat ini masih di menjadi figur terkenal di dunai Sains.
Thomas Alva Edison (TAE) dan Albert Einstein (AE)
Kalian pasti tidak kenal dengan mereka kan? Tapi saya yakin kalian pasti tau siapa mereka bukan?
TAE adalah seorang penemu lampu pijar pertama sebagai temuan terhebatnya. Penyihir Menlo Park julukannya. Dia memegang 1.093 paten atas namanya. Dia juga penemu pertama yang menerapkan prinsip produksi massal pada setiap penemuannya, sehingga menjadikannya seorang pebisnis handal.
Ternyata dia adalah orang yang di keluarkan dari sekolah saat dia duduk di kelas 3 SD karena selalu mendapat nilai buruk. Cerita lain juga menyebutkan karena dia selalu mendapat nilai buruk di sekolah, ibunya memberhentikannya dari sekolah dan mengajarnya sendiri dirumah.
Di rumah dia sangat bebas, bisa membaca semua buku-buku ilmiah dewasa yang di berikan oleh ibunya, sementara di sekolah dia hanya di perbolehkan membaca buku terbitan Ermangga dan sekawanan buah lainnya.
Di umur 12 tahun dia bekerja sebagai penjual koran, dan penjual aqua kacang, aqua kacang di kereta api. Disanalah dimulai kehidupannya tanpa sekolah.
Cari saja buku atau search saja di google, ketik Thomas Alva Edison. Semua cerita tentang hidupnya ada disana. Dan bacalah!
Lalu,
AE adalah seorang fisikawan yang sangat brilian. Teori nya tentang relativitas waktu, dan rumus yang di temukanya "E=MC2", betul-betul telah merubah pandangan fisika dalam melihat dunia.
Siapa sangka, di balik kejeniusannya - rupanya AE sosok yang pernah tidak lulus-lulus sekolah. Tidak lulus tingkat esempe dan esem a tapi dia tetap bisa melanjutkan kuliah.
AE cerderung sebagai anak yang bermasalah dan suka membangkang waktu di sekolah. Dia hanya mau mengerjakan apa yang dia mau, jika dipaksakan dia cenderung akan melawan atau menghindar. Tapi dia sangat fokus dan serius untuk mencapai apa yang dia mau, hingga pada abad 20 dia menjadi Ilmuwan besar dunia.
Gimana? Masih mau sekolah?
Sementara banyak ilmu penting tentang kehidupan yang berguna dalam hidup, tidak pernah kita jumpai di sekolah. Bukan berarti juga sekolah itu salah kaprah - tetapi memang sistem, aturan, dan pembelajarannya sudah tidak relevan dan bahkan kadaluarsa akud. Faktanya pun sudah terbukti dari hasil riset Youth Corps Indonesia bahwa Indonesia adalah salah satu negara dengan sistem pendidikan terburuk di dunia. Kasian anak kita ya..
Namun jangan juga bersedih dan langsung bunuh diri, karena ternyata murid-murid di Indonesia memiliki tingkat kebahagiaan yang paling tinggi di dunia.
Maka jangan heran ketika banyak orang yang kalau di tanya “jika kalian bisa kembali ke masa lalu, mau kembali ke masa apa?”, pasti jawabnya adalah Masa-masa di Sekolah. Wallahu a'lam..