
Beberapa minggu ini langit Aceh selalu mendung tak karuan. Hujan turun membasahi hampir setiap daerah di Tanah Serambi Mekah. Beberapa daerah bahkan banjir besar dan menelan korban terjadi. Kota Lhokseumawe, tempat saya tinggal bahkan beberapa sekolah tutup karena banjir.
Setelah hampir sebulan banjir membuat resah dan hujan merendam rumah-rumah penduduk, hari ini banjir mulai surut. Matahari pun kembali tersenyum. Langit tadi siang benar-benar membawa lega dan bahagia bagi saya dan juga masyarakat Kota Lhokseumawe. Setidaknya itu yang saya rasakan.

Ini sangat berbeda dengan beberapa hari lalu. Genangan air ada dimana-mana. Di sekolah, lorong-lorong hingga di ruas jalan pun ada genangan air yang cukup membuat suasana lesu. Jujur, entah kenapa saya merasa ada yang terkekang saat banjir melanda. Kita malas untuk beraktivitas dan sebagainya.
Mungkin ini cuma pikiran saya. Tapi itulah kejujuran. Selama musim hujan belakangan ini, rasa-rasanya saya kehilangan energi untuk memberi ilmu pengetahuan pada murid-murid saya di sekolah. Saya nyaris kehabisan ide untuk membakar semangat anak didik. Mungkin banjir telah menyerap energi tersebut. Entahlah..

Bagi saya, banjir adalah bencana yang melumpuhkan. Ia bisa membuat jalanan terhenti total. Banjir juga bisa membuat proses belajar mengajar di sekolah tertunda. Ini saya alami sendiri. Sebagai seorang tenaga pendidik di salah satu sekolah di Lhokseumawe, saya lihat banjir kali ini tergolong parah.
Sekolah kami nyaris lumpuh total karena banyaknya air yang berhenti di halaman sekolah. Air bahkan juga masuk ke dalam ruang kelas dan kantor guru. Air berwarna coklat ada di mana-mana. Otomatis keadaan seperti ini membuat semangat siswa pudar. Guru pun ikut lesu.

Keadaan bahkan lebih gawat dan pelik dengan membaca berita di media masa. Di beberapa daerah banjir malah sudah menelan korban jiwa. Kabupaten Aceh Utara adalah salah satu daerah yang paling parah dilanda banjir. Dari tahun ke tahun kabupaten tetangga saya itu memang langganan banjir.
Pemerintahnya kemana? Tak ambil sikap? Apa mereka tak belajar dari banjir-banjir sebelumnya?
Saya kira tidak. Dan untuk lebih jelasnya tanyakan pertanyaan itu pada masyarakat Aceh Utara. Saya yakin hampir 100% masyarakat Aceh Utara sudah paham kalau pemerintah mereka itu tak bisa diharapkan apa-apa.

Ah, biarkan itu menjadi kekecewaan masyarakat Aceh Utara. Toh, pemerintah Lhokseumawe pun tak bagus-bagus amat menjalankan roda pemerintahan. Tetapi, apapun itu, saya sangat bersyukur karena hari ini banjir di Lhokseumawe mulai surut dan matahari pun sudah tersenyum seperti sedia kala. Inilah celotehan saya malam ini. Saya yakin teman-teman eSteemian memahami apa yang saya rasakan sekarang.