
Hari ini keluarga besar saya berduka. Salah satu anggota keluarga telah menepati janji hidupnya. Ia telah pergi ke alam yang abadi. Mati hanya jalan menuju keabadian. Dan kita semua akan ada di posisinya suatu hari yang tak diketahui. Tapi yang pasti kita semua akan mati.
Tak ada yang menarik dari sebuah kematian. Ia adalah duka yang datang mendadak. Ia datang seketika dan nemutus semua relasi kita dengan dunia. Ikatan suami istri bubar. Hubungan ayah anak lepas. Begitu juga hubungan keluarga lainnya. Semua diputus oleh sebuah tragedi hidup yang tak bisa ditolak bernama kematian.
Anggota keluarga saya yang meninggal hari ini cukup dekat dengan saya. Beberapa kali kami berdiskusi dan ngopi saat dia sehat dulu. Namun belakangan, penyakit dalam menggerogotinya. Memang, itu adalah jalan Allah mengakhiri hidupnya. Semua telah tertakdir bahkan jauh sebelum ia lahir. Dan hari ini Allah memanggilnya pulang.

Saya pikir tak ada orang yang bisa berdamai dengan kematian. Pun demikian yang saya rasakan hari ini. Setiap kematian hanya pelajaran untuk kita yang masih hidup. Dari kematian kita belajar, bahwa hidup utu tak terlalu lama. Tak ada hidup yang abadi hingga kita mengejarnya dan luput memupuk jiwa untuk beribadah. Kita sering menomorduakan ibadah demi membuat hidup sempurna.
Itu adalah kesalahan umum yang dilakukan oleh setiap manusia. Kita selalu berjuang menggapai apapun yang bisa membuat hidup nyaman. Melakukan usaha apapun agar hidup baik-baik saja. Adapun tentang kematian dan kehidupan yang abadi esok hari sering terlupakan. Padahal, Allah dengan kekuatan-Nya dengan mudah mematikan kita.
Barangkali, kita tak ingin seperti ini. Kita tak ingin terlalu memuji kehidupan hingga lalai menata masa depan di hari yang kekal nanti. Tapi kita terlalu lemah untuk tak terpedaya oleh setan-setan yang selalu menyesatkan. Selalu ada cara setan menjerumuskan kita ke dalam kubangan dosa. Dan setiap kali kita jatuh kedalamnya, kita selalu kesusahan merangkak lagi.

Kita semua harus mengakui, bahwa, kita belum cukup tangguh menampik segala usikan setan. Kadangkala kita bisa berbuat baik dengan mengajari orang-orang tentang kebaikan. Tapi esok lusa, kita luput dan menyebabkan beberapa orang tersakiti. Kita semua berusaha hidup sebaik-baiknya. Sehormatnya. Dan yang bisa kita lakukan adalah terus memperbaiki diri hingga ajal datang mengetuk.
Saya dan Anda mungkin sudah melihat beberapa kematian. Dan setiap kali melihatnya, kita akan luluh dan mencoba menerimanya baik-baik saja. Tapi, kita adalah manusia yang pada titik dan derajat tertentu mengingat hal-hal yang terlalu pedih dan luka-luka yang belum bisa diterima dengan hati lapang. Namun, kita harus menyakini satu hal, bahwa, akan selalu ada kematian yang membuat kita sadar, betapa fananya hidup, betapa sekejapnya waktu.