Setiap tahun, tepatnya pada hari raya Idul Fitri, di Desa tempat Yanis bernaung, terdapat fenomena yang memperlihatkan bukti sikap kebersamaan warga yang melebur menjadi satu keluarga. Hari raya yang biasanya menjadi momentum untuk berkumpul dengan keluarga, terutama ayah, ibu dan anak menjadi hal yang tidak mungkin diwujudkan oleh anak-anak yatim yang ada di desa Yanis. Ketika anak yatim melihat momentum bahagia yang terjadi pada teman-temannya yang masih lengkap memiliki orang tua, agar tidak larut dalam kesedihan, masyarakat di desa Yanis secara cepat merespon kerinduan yang dirasakan anak yatim kepada orang tuanya. Hal inilah yang menjadi dasar mengapa hari raya anak yatim ini digalakan. Respon ini merupakan refleksi dari wujud kasih sayang warga desa dengan seluruh warga desa lainnya.
Selain itu perayaan hari raya anak yatim juga menjadi media keaktifan masyarakat desa, terutama para pemuda. Sebelum acara tersebut di mulai Pemuda-Pemudi di Desa sibuk bergerilya mengumpulkan dana untuk dikumpulkan dan kemudian dari dana yang terkumpul akan digunakan untuk perayaan hari raya anak yatim. Mereka di koordinasi oleh ninik mamak untuk menyebar ke seluruh desa dan ke tempat warga desa yang ada di perantauan. Bagi daerah perantauan yang masih dapat dijangkau dengan waktu yang tidak lama, pemuda akan menghampiri ke rumah warga desa yang ada di perantauan tersebut. Bagi yang lokasi daerah perantauannya tidak bisa dijangkau dalam waktu dekat dilibatkan dengan menggunakan metode komunikasi via surat elektronik.
Yanis salah satu pemuda di desa, kebagian tugas mengumpulkan dana ke kota dekat desa, Tujuan lokasi penggalangan dana yang ditugaskan ke Yanis, salah satunya yaitu pengusaha warung makan yang bernama Pak Am yang telah lama merantau dan menetap tinggal di kota. Tepatnya hari Minggu, Yanis pergi menuju kota dimana tempat pak Am tinggal. Yanis dengan semangat mengendarai sepeda motor bapaknya yang jadul. Dengan menggunakan helm fullface, celana levis, sendal kulit sintetik, jaket dengan logo salah satu tim sepak bola lokal dan sarung tangan membuat Yanis dan motor bapaknya tampak tidak serasi. Walau telah diprotes ibuknya tentang kejanggalan penampilannya tersebut, Yanis tetap percaya diri dan pamit untuk segera menuju kota.
Yanis dengan gesit mengendarai sepeda motornya menyalip satu demi satu kendaraan yang ada di depannya. hingga suatu ketika Yanis mengurangi kecepatannya dan berhenti untuk melihat pertikaian antara supir mobil angkutan sembako dengan mobil pribadi. Mobil angkutan merupakan mobil pickup L300 dan mobil pribadi merupakan mobil Toyota Fortuner. Harga mobil dan kekayaan pengendara kedua mobil tersebut perbedaan kuantitasnya terlihat jelas bagaikan langit dan bumi. Yanis yang penasaran, akhirnya berjalan mendekati keramaian untuk mencari informasi apa sebenarnya yang terjadi. Kenapa body kit belakang toyota fortuner itu lecet dan apa yang menyebabkan sang pengemudi mobil Toyota Fortuner itu memaki dengan sekuat tenaga kepada supir angkutan barang. "Apa ada korban jiwa di kejadian ini" ungkap Yanis dengan penasaran ke salah satu warga. Warga menjawab " Enggak ada dek, "Kronologinya seperti apa ini pak, kok bisa terjadi kecelakaan", tanya Yanis. Singkatnya warga menjelaskan kronologinya, "Supir L300 itu tidak sengaja menyundul bagian belakang body kit mobil Toyota Fortuner dikarenakan sang pengemudi ngantuk karena dari tadi malam hingga siang ini sang supir belum sempat tidur". " Itu orang beneran kaya gak ya pak?, masa lecet kecil gitu aja, harga dirinya digadaikan di depan orang-orang banyak? logikanya lecet itu kalau dibenerin kan harganya tidak seberapa ya pak, kan orang kaya" Yanis menanggapi. "Ya kalau tidak seperti ini orang itu mungkin tidak bisa kaya dek" jawab si Bapak "iya juga ya Pak" sahut Yanis. "ini amukan orang kayanya mau dibiarkan aja atau seperti apa Pak, nanti berujung kekerasan gimana Pak?" "Tenang aja dek insya Allah aman" jawab si Bapak. "Yaudah Pak saya lanjut dulu ya Pak perjalanan saya" Yanis pamit.
Dengan agak waspada Yanis mulai mengurangi kecepatan motornya mengingat kejadian yang disaksikannya tadi cukup mengguncang mental Yanis untuk memacu kendaraannya diatas 60 km/jam. tingkat kewaspadaannya semakin tinggi terutama ketika berpapasan dengan mobil mewah orang-orang kaya. Satu setengah jam berkendara, Yanis akhirnya tiba di warung makan Pak Am. Dengan sopan Yanis pamit ke pegawai rumah makan kalau Yanis ingin menemui Pak Am. Mengetahui dari desa ada yang mencari dirinya, Pak Am segera turun dengan antusias dan menyambut Yanis dengan ramah. ketika Yanis ingin menceritakan maksud dan tujuanya Pak Am memotong pembicaraan Yanis, "Nis Makan dulu lah Nis, santai dulu, kamu mau kopi apa teh es (es teh kalau di jawa), makan rendang dulu ya" Pak Am mengajak. "Wah Pak, tidak usah repot-repot Pak" Yanis Basa basi, "Udah Pokoknya kamu makan dulu ya, Hasbi, tolong nasi rendang satu porsi ya, sama teh es y" Pak Am meminta tolong kepada pegawainya. ”Kalau kamu terburu-buru sambil makan nanti kita ngobrolnya Nis" Bujuk Pak Am. ”Kalau gitu iya Pak, terima kasih loh Pak nasi rendangnya" Jawab Yanis tersipu malu.
"Jadi kapan Nis, acara hari raya anak yatim di kampung?," tanya Pak Am, "10 hari lagi Pak. tepatnya hari jumat minggu depan Pak." jawab Yanis "Nis, kamu tau gak nis. dulu Bapak juga kayak kamu gini. kita keluar kampung mengumpulkan dana untuk acara tahunan di kampung. Bapak bersyukur Nis sampai sekarang tradisi ini masih dilakukan" tambah Pak Am. "Iya Pak, kalau acara hari Raya Anak Yatim ndak ada Pak, sepi Pak di desa." respon Yanis.” Itulah Nis kenapa kamu yang muda seperti kamu harus melanjutkan adat isitiadat kita Nis” Imbuh Pak Am. ”Insya Allah Pak”, Jawab Yanis. Yanis melanjutkan ”Pak saya mau nanya pak terkait adat istiadat Pak?, kenapa di desa itu banyak aturan-aturan adat tapi itu tidak ada di Al-quran maupun Hadist, misalnya ya Pak, tidak boleh menikah sesuku, tidak boleh membuat usaha ayam potong dimana kandang ayam tersebut dibawahnya ada kolam ikan, itu kenapa ya Pak? atas dasar apa ya Pak ada aturan itu, dan bagaimana Pak saya ketika berbentur dengan aturan itu Pak?.” ”Owalah ternyata kamu kritis juga Ya Nis orangnya”, tambah Pak Am. “Bapak jawab seadanya ya semoga bisa menjawab rasa penasaranmu itu ya. Jadi gini Nis jauh sebelum Islam masuk ke Desa kita, bentar Ya Nis bapak bayari pemasok gula warung Bapak dulu ya, kasihan dia nunggu lama nanti” Jawab Pak Am. ”Silahkan Pak” jawab Yanis. Pak Am memiliki langganan pemasok gula, garam, sayuran dan segala macam kebutuhan pokok warung makannya. Masing-masing kebutuhan itu sengaja Pak Am tidak menggunakan satu pemasok saja.
Sembari menunggu Pak Am bertransaksi dengan pemasok gula, nasi rendang telah disajikan di meja tempat Yanis duduk. ”Makan dulu Bang nasinya” Hasbi menawarkan, ”Ya Bang, makasih Bang” jawab Yanis. Dengan ragu-ragu Yanis memikirkan apa aku makan dulu ya atau nunggu Pak Am dulu”* Yanis menimbang-nimbang ”Makan aja Nis kata sosok lain Yanis yang ada di dalam diri Yanis, tidak masalah kok, kamu takut dianggap tamu yang gak sopan dan rakus ya Nis hahaha?” Ejek sosok lain dari Yanis. Karena Pak Am cukup lama transaksinya akhirnya Yanis perlahan-lahan mulai memakan nasi rendangnya. “Nah gitu Nis jangan Jaim kamu jadi orang Nis” Sosok lain diri Yanis mengejek lagi. ”Udah kamu jangan sok tau aku ini lagi nguji Pak Am, apakah dia kaku dalam bertata karma atau malah sebaliknya” Yanis membantah sosok lainnya. "Alah paling itu pembenaran kamu aja Nis, bilang aja kamu memang tak bisa menahan nafsu makanmu itu”. Bantah sosok lain Yanis. Ditengah perdebatan Yanis dengan Yanis lainnya akhirnya Pak Am menghampiri. ”Nah gitu Nis jangan sungkan-sungkan kalau di warung saya ya Nis”. Pak Am memuji Yanis. "Maaf ya Pak saya tadi tak bisa nahan Pak, aroma lezat nasi rendangnya Pak”. Yanis menjelaskan. ”Hahahaha udah lama Bapak tidak ketemu orang seperti kamu Nis. Santai aja Nis” kata Pak Am. ”Iya Pak hehee” Yanis lega
”Lanjut ke rasa penasaran kamu tadi Nis kenapa adat istiadat itu harus dilakukan dan dijalankan oleh Ninik mamak (tokoh adat) kita Nis. Mungkin tadi kamu bisa melihat Nis apa yang Bapak lakukan ketika Bapak tidak membeli kebutuhan pokok warung hanya dari satu pemasok saja Nis. Itu ada hubungannya dengan aturan kenapa tidak boleh usaha ayam potong sekaligus membuat kolam ikan di bawah kandangnya. Atau kalau Bapak jelaskan seperti ini. Tidak boleh membuat usaha yang mana usaha tersebut di darat juga di lakukan di air juga dilakukan atau bisa disingkat dengan istilah monopoli suatu usaha Nis. Gimana Nis sudah paham kan maksud Bapak tentang monopoli usaha”. Pak Am memancing Yanis. ”Jadi maksudnya gini ya Pak. Dalam membuat usaha janganlah serakah hingga-hingga semuanya ingin di kuasai”. Respon Yanis. “Nah betul Nis kira-kira seperti itu. Kalau misalnya bapak hanya mengambil satu pemasok untuk memenuhi kebutuhan warung bapak, hal ini nantinya bisa menjadikan ketidakmerataan ekonomi Nis. Begitu juga dengan aturan adat isitiadat kita tentang kandang ayam yang tidak boleh dibawahnya dibikin kolam ikan. Seperti bapak bilang dari awal Nis sebelum islam masuk ke kampung kita. Peradaban yang harmonis telah lahir Nis di Desa kita, aturan-aturan yang menjaga keseimbangan ekonomi telah disusun dengan baik oleh nenek moyang kita. Keserakahan pengusaha yang ingin melakukan upaya monopoli dulu telah muncul pada zaman nenek moyang kita Nis dan itupun terbukti merusak keseimbangan sosial, ekonomi dan lingkungan. Jadi makanya ada aturan adat isitiadat itu Nis."
"Terlepas dari Agama monoteisme yang sekarang ada di semesta ini aturan adat isitiadat kalau kita kaji lebih dalam sebenarnya tidaklah menyimpang dari Al-Quran dan Hadist. Apa mungkin aturan sekompleks ini, sedalam ini dan menghasilkan hal-hal membawa kebaikan sumbernya bukan dari Sang Pencipta”. Pak Am menjelaskan.
Pak Am melanjutkan ”Memang Nis secara kontekstual aturan adat isitiadat kita tidak ditemukan persis dalam teks yang dituangkan Al-Quran dan Hadist. Namun aturan adat istiadat yang disusun oleh nenek moyang itu memiliki nilai-nilai yang dihasilkan persis sama dengan Al-Quran dan Hadist”. ”Iya Pak saya baru sadar sekarang Pak”. Jawab Yanis, Pak Am menambahkan “Kalau Bapak simpulkan tujuan aturan melarang monopoli itu, untuk mengajak orang di desa kita jangan berlomba-lomba mengumpulkan kekayaan. Karena kekayaan itu merupakan alat katalisator yang paling ampuh untuk mematikan sisi manusia yang dicintai oleh Sang Pencipta Nis. Carilah rezeki yang dihamparkan Sang Pencipta untuk memenuhi kebutuhan pokok yang terdiri dari kebutuhan menutupi aurat (sandang), kebutuhan kebutuhan mengobati rasa lapar (pangan) dan untuk mempunyai hunian (mapan). Kalau kita kaya, takutnya kita lupa Nis dan akhirnya mencari rezeki bukan untuk memenuhi kebutuhan pokok lagi, malah untuk memenuhi kebutuhan sekunder bahkan tersier yang mana itu perlahan-lahan dapat menghijab akal, sehingga jalan kita dan hati kita jauh dari rasa cinta kita kepada Sang Pencipta” Yanis mengangguk serius ”Iya Pak, saya sekarang paham Pak, bahwa hukum adat istiadat itu tidaklah bid’ah”
”Kemudian bagaimana dengan larangan pernikahan sesuku Pak?” tanya Yanis. Pak Am menjawab dengan tersenyum “Pernikahan sesuku itu kalau kita runtut sejarahnya masing-masing suku itu antara sesama suku memiliki hubungan ikatan darah Nis. Itu merupakan salah satu kehati-hatian nenek moyang kita dalam menghindari pernikahan sesama ibu sepersusuan dan pernikahan se-darah. Di islam kan ada Nis aturan tidak boleh menikah dengan anak ibu sepersusuan dan ada juga aturan yang melarang kalau pernikahan antara se-darah. Seperti pernikahan antara kamu dengan anak pamanmu. Karena nasab di desa kita tidak dicatat sedetail mungkin seperti yang dilakukan oleh peradaban Arab maupun jawa maka di daerah kita dianjurkan jangan menikah dengan orang sesuku dengan kita. Takutnya kalau pernikahan sesuku tetap dilakukan tanpa mengetahui nasab keluarga, nanti akan menjadikan hal yang tidak baik bagi yang menikah. Karena larangan nikah se-darah dengan anak pamanmu maupun ibu sepersusuan itu kalau tidak salah, sudah ada Nis yang meneliti. Kalau pernikahan se-darah akan mengakibatkan gangguan dan kelainan genetik pada keturunannya.” ”gitu ya Pak, jadi itu ya Pak kenapa ada ancaman kalau tetap menikah nanti anaknya lahir tidak normal.” Yanis merespon. ”Iya Nis. Sementara kita tafsirkan saja seperti itu.” jawab Pak Am. Yanis kembali bertanya ”Owh ya Pak tapi ada sanksi seperti mengisolasi pasangan yang melanggar pernikahan sesuku, mengorbankan sapi dan sanksi-sanksi lainnya untuk mengampuni pasangan yang melanggar larangan pernikahan sesuku, apa itu bisa mengampuni sang pelanggarnya Pak dan terhindar dari gangguan genetik keturunannya?”. Tanya Yanis. *”Itu merupakan bentuk kepasrahan nenek moyang kita untuk meminta kebijaksanaan alam yang diperintahkan Sang Pencipta agar segala kesalahan tersebut dapat diampuni. Bukannya sejatinya aturan itu hanyalah media saja, tidak sebagai eksekutor. Eksekutornya ya Sang Pencipta Nis. Semua keputusan ada di tangan Sang Pencipta, manusia hanya bisa berusaha namun untuk hasil, manusia tidak akan bisa memastikan sama sekali.
"Disana kita dapat melihat Nis, bahwa Terminologi aturan adat istiadat kita dan sistematikanya berujung pasrah kepada Sang Pencipta.” Pak Am menjelaskan. ”Iya ya Pak. Untung saja saya dapat tugas kesini Pak, selain dapat nasi rendang dapat pencerahan juga” Puji Yanis ke Pak Am. "Hahahaha kau ini gak jauh beda ya sama bapakmu. Pintar beretrorika hahaha” Jawab Pak Am. Setelah itu Pak Am menyodorkan dua Amplop ke Yanis. ” Nis amplop yang ini bantuan Bapak untuk besok hari Raya Anak Yatim, dan satu ini buat kamu beli rokok dan bensin ya” ”Wah gak usah repot-repot Pak”, Yanis basa basi. ”Gak apa apa Nis terima ya Nis, ala kadar saja ini Nis.” minta Pak Am. “Ya Pak kalau begitu saya terima pak, terima kasih ya Pak. Ow ya Pak ini piring kotornya saya cuci saja ya Pak, tidak enak Pak saya menyusahkan Bang Hasbi”. ”Gak apa-apa Nis kamu gak usah repot-repot ya, kalau nyuci piring rusak pula ntar gayamu yang perlente ini Nis haha”Imbuh Pak Am. ”Gak enak Pak saya. Yakin Pak gak apa apa Pak” Yanis basa basi. ”Iya Nis kamu ini kaya apa aja” sambil senyum Pak Am menjawab. ”Terimakasih ya Pak, atas semuanya. Karena udah sore Pak saya ijin pamit ya Pak” ungkap Yanis. ”Iya Nis hati-hati ya kamu di jalan. Kirim salam ke Bapakmu ya”Ungkap Pak Am ”Iya Pak” kata Yanis.
Ketika Yanis hendak menyela motor tuanya lewatlah anak Gadis yang salim saat pas-pasaan dengan Pak Am. Tampak dari kejauhan Pak Am menunjuk Yanis sambil menceritakan sesuatu ke Gadis itu, Gadis itupun menoleh ke Yanis sambil senyum. Sambil membalas senyum si Gadis, Yanis tersadar kalau Gadis itu adalah Tika, Putrinya Pak Am yang mana dulunya mereka sewaktu SD sering main di tepi Sungai Kampar. Melihat perubahan Tika yang telah menjadi remaja dan tumbuh menjadi cantik jelita membuat jantung Yanis Berdebar tidak karuan. Ingin rasanya Yanis menghampirinya namun apa daya rasa cinta telah membuat Yanis malu untuk menghampiri. Dengan grogi Yanis pamit ke Pak Am dan kemudian berujar kepada Tika. “Tika aku pulang dulu ya, nanti pulang kampung ya pas Hari Raya anak Yatim” “Iya bang Yanis Insya Allah pulang Bang, Abang Yanis hati-hati ya di jalan” Jawab Tika. ”Iya Tika” jawab Yanis. Dengan sigap Yanis menunggangi motornya berbalik arah keluar area parkir rumah makan Pak Am. Mengetahui dirinya masih diingat oleh Tika, Yanis senyum-senyum sendiri ketika berkendara pulang ke Desa. “Alah namamu itu masih diingat karena Bapaknya yang bilang kok Nis, jangan Geer dulu lah kau Nis” Ejek sisi lain Yanis. ”Kamu ya memang dari dulu tidak pernah menghibur aku ya”, bantah Yanis. ”Hahaha emosi dia” Sahut sisi Yanis Lainnya.