DI PURNAMA LAUT
Di purnama laut
Ombak menjaring kerlip gemintang
Deburnya memecah di bibir malam
Seorang perempuan menyulam rembulan
Yang ditaburi pasir-pasir puisi
Matahari telah purna senja tadi
Rindu membiru di paruh waktu
Perempuan itu beranjak
Menyusun buih-buih
Sisa perjalanan gelombang
Dan menyimpannya dalam dada
Purnama membuat jalan
Menuju dekap subuh
Pada suatu detik
Angin memainkan senandung penantian
Perempuan itu masuk dalam lautnya sendiri
Menjaring ingatan yang tak ingin diingatnya lagi
Tubuhnya melahirkan anak-anak riak
Sebelum lenyap digulung gejolak
Selepas malam itu
Purnama melautkan kisah-kisah sedih
Angin membawa kabar itu
Hingga ke kota-kota
Seorang seniman biola
Di pinggir jembatan Peunayong
Menampung kabar tersebut
Dan menyimpannya di saku celana
Untuk ia hadiahkan pada kekasihnya
Di pinggir purnama sedang menyulam laut
Setelah rindu menggerogoti waktunya
Setelah bertahun tak pulang pada cintanya.
Ombak masih saja membelah
Setiap kesepian-kesepian yang nyala.
Lhokseumawe, 150818.
PDA.