sumber: lagizi.com
/1/ Nasi di Mata Ibuku
Waktu aku kecil dulu, ibu selalu mengingatkan agar tak menyisakan sebutir nasi pun saat makan. Ibu bilang kalau nasi yang di piring tidak habis, ayam peliharaanku akan mati. Kalau ayam-ayam mati, kami sekeluarga tidak bisa lagi makan enak. Ibu tidak terlalu banyak memelihara ayam. Ada seekor jago dan ayam betina yang hampir beberapa bulan sekali bertelur. Anak dari induk ayam itu sering kami beri nama, aku lupa persis namanya. Namun, bagiku ayam kesayanganku tetaplah ayam jago.
Terkadang aku bersusah payah untuk menelan nasi karena perutku sudah penuh. Aku katakan pada ibu aku akan memakan nasiku dengan lahap asal ayam kesayanganku tidak mati. Lalu aku bertanya pada ibu, mengapa ayam bisa mati jika nasi di piring tidak dihabiskan? Ibu bilang itu sudah menjadi hukum alam yang dipercayai banyak orang. Hingga aku duduk di bangku kelas lima SD, aku masih memercayai hal tersebut.
Suatu hari kami makan enak. Ibu memasak ayam kecap. Seperti biasa, aku dan kakak-kakakku sudah tak sabar untuk menikmati ayam-ayam itu. Kupikir ibu memotong anak ayam yang sudah menjadi induk ayam. Tiba-tiba aku bertanya kepada ibu, “Bu, ayamnya enak sekali. Apakah anak ayam yang tumbuh dewasa itu yang ibu potong?”
“Bukan, Nak. Itu daging ayam jago kita,” ucap ibu sembari meletakkan segelas air putih ke meja makan.
Tiba-tiba aku tersedak. Ibu memberikan gelas yang tadi ia letakkan. Entah mengapa selera makanku tiba-tiba hilang. Aku masuk ke kamar meninggalkan piring nasiku dan menangis sejadi-jadinya. Ayam yang kusayangi kulahap sendiri, betapa jahatnya aku, pikirku kala itu. Ibu mencoba mendiamkanku, tetapi hatiku teramat nyeri.
“Ibu bohong, katanya kalau aku menghabiskan nasi-nasiku, ayamku tidak akan mati. Kenyataannya ayam jago kesayanganku mati di tangan ibu dan berakhir di perutku,” ucapku sambil tersedu-sedu.
Ibu meminta maaf. Ibu bilang, bapak ingin sekali makan ayam, namun tak memiliki uang untuk membeli. Ibu tak bisa memotong ayam yang lain karena yang betina kelak akan beranak-pinak. Sementara ayam jantan tidak teralu penting, banyak ayam jantan tetangga berkeliaran bebas yang siap membuahi ayam-ayam betina, sebab ayam-ayam kami dibiarkan bebas saja.
sumber: public domain vectors
“Membeli beras itu pakai uang, Nak. Dan mencari uang itu tidak mudah. Nasi yang dimasak harus dihabiskan, itu namanya menghargai hidup,” tambah ibu. Tiba-tiba aku teringat kisah di dapur. Jika ada beberapa butir nasi yang jatuh ke lantai, ibu akan memungut dan memberikannya kepada ayam. Aku masih menangis dan mengatakan bahwa ibu telah membohongiku. “Tak seharusnya anak kecil dibohongi orang dewasa,” ucapku.
Ibu bilang aku harus bersyukur karena tak diciptakan sebagai ayam, yang nasibnya tak jauh-jauh dari dipotong dan disantap manusia. Kalau aku menjadi ayam, mungkin hidupku tidak akan lama karena berakhir di perut manusia. Ibu benar juga. Akhirnya, sekarang aku tahu alasan yang sesungguhnya. Namun, aku pernah ditertawai teman-temanku bila diajak makan di rumahnya. Sebagian bilang, aku sangat rakus karena tak meninggalkan sedikit pun jejak di piring. Aku tak peduli kata mereka. Seperti yang ibu bilang, membeli nasi itu memakai uang. Selama aku belum bisa mencari uang, aku harus menghargai hidup, salah satu caranya dengan menghabiskan nasi di piringku.
/2/ Riwayat Nasi Menurut Nenekku
Nenekku bernama Sumirah, kami biasa memanggilnya Mbah Mirah, ia adalah ibu dari bapakku. Rumahku sangat berdekatan dengan rumah nenek. Aku dan kakak-kakakku seringkali main ke sana dan disuruhnya ke dapur hanya untuk mencicipi makanannya. Terkadang, aku merasa sebal dengan nenek. Ia sengaja memanggilku hanya untuk menghabiskan makanan semalam. Alasannya, makanannya masih banyak dan tidak ada yang memakan.
sumber: Twitter Nenek Lincah
Aku suka cerita pada ibu kalau aku tidak suka diberikan makanan sisa. Ibu bilang aku harus bersyukur karena masih ada orang yang mau memberi. “Tapi, Bu, makanan itu terkadang rasanya sudah berubah,” ucapku. Ibu bilang aku tetap harus bersyukur. Niat nenek sungguh baik meski terkadang tidak sesuai keinginan. “Ah, ibu payah sekali. Bagaimana cara aku menolak bila hendak dipanggil lagi?” tanyaku.
“Rezeki yang datang tak sebaiknya ditolak. Intinya kau harus berterima kasih pada Mbah Mirah,” jawab ibu. “Tapi, Bu, kepada cucunya yang lain, Mbah Mirah sering memberi makanan yang rasanya masih enak, sepupuku sendiri yang bilang, mengapa kepada kami berbeda?” tanyaku. Ibu diam saja sembari menjahit baju. Setelah agak lama ibu menajwab, “Dalam keadaan apa pun, kita harus bersyukur dan berpikiran positif. Tak baik berpikir yang buruk-buruk, nanti akan membuat pikiranmu sakit.” Aku pun diam seribu bahasa.
Setiap kali aku makan di rumah nenek, ia pasti akan memberi wejangan tentang sesuatu. “Nasi yang kaumakan harus dihabiskan, jika tidak, nasi itu akan menangis,” ucap Mbah Mirah. Aku menoleh ke arah dua kakakku dan mereka mengangguk seraya memerintahkan agar aku memercayainya. Hal itu terus saja berlangsung hingga aku duduk di bangku SMP. Aku pernah bertanya kepada Mbah Mirah, perihal nasi yang menangis. Mbah Mirah bilang nasi akan bersedih jika tidak dimakan manusia sebab ia diciptakan Tuhan untuk memberi rasa kenyang di perut manusia. Jawaban ini kupikir lebih masuk akal dibanding matinya ayam kesayanganku. Kejadian itu sungguh-sungguh menciderai jantungku.
“Apa Mbah pernah mendengar nasi itu menangis? Apa nasi juga bisa berbicara seperti manusia?” tanyaku dengan penasaran. Saat itu, aku aku masih memakai seragam putih merahku dan belum sempat menggantinya dnegan pakaian biasa.
“Nasi hanya bisa menangis laiknya anak kecil. Ia tidak bisa berbicara,” jawab Mbah Mirah.
Aku yang saat itu penasaran dengan suara tangisan nasi, mulai berpikir sesuatu. Usai makan di rumah, aku menyisakan sedikit nasi, lalu membungkusnya dengan potongan daun pisang yang kuambil di belakang rumah. Lalu, kuletakkan di kebuh karet belakang rumahku. Aku sengaja menungguinya sekitar dua jam hanya untuk mendengarkan suara tangisan itu.
Namun yang kudapati hanya sunyi, tak kudengar suara tangis apa pun sebagaimana yang kubayangkan. Aku pulang dengan langkah gontai. Keesokannya, kukunjungi lagi nasi itu. Baunya sudah menyengat dan takkudapati suara tangis itu. Lalu aku melewati jalan setapak menuju rumahku.
Aku tak pernah menceritakan hal ini kepada siapa pun karena aku sangat malu jika saat itu banyak orang tahu mengapa aku sebegitu percaya pada perkataan orang dewasa. Setelah aku duduk di bangku SMA, aku menyadari bahwa yang dikatakan Mbah Mirah adalah kebohongan. Di balik itu, tetap ada pesan baik yang bisa kuambil bahwa aku tak boleh menyia-nyiakan nasi. Di mata orang dewasa, berbohong demi kebaikan adalah hal biasa. Kini, Mbah Mira sudah meninggal, tapi jiwanya tak benar-benar pergi.
Di warung makan, aku dan suamiku acapkali tak merasa malu bila piring kami tak bersisa nasi sedikit pun. Meski kami lebih sering mendapati beberapa mata yang menatap kami dengan asing. Kami tak lagi peduli. Mereka boleh-boleh saja berpikir bahwa kami sangat kelaparan, itu hak mereka. Hingga kini, terkadang aku merasa sangat menyesal bila menyisakan nasi di piringku. Bagaimana lagi ya? Jika kondisi perut sangat kenyang, mana bisa dipaksa untuk menghabiskannya.
“Nasi, maafkan aku yang tak mampu menghabiskanmu,” ucapku ketika itu sambil menatap sisa-sisa nasi di piringku.
“Lah, kau masih berbicara sendiri? Dasar orang aneh,” ucap suamiku.
“Di awal-awal menikah dulu, kau juga sering mengataiku aneh karena suka berbicara kepada kucing, namun seiring waktu berjalan, kau juga melakukannya. Bukankah kau juga orang aneh?” tanyaku. Ia tersenyum.