Apa kabar, Sahabat Steemian? Semangat Senin. Khusus kali ini, saya menyajikan resensi buku untuk kalian. Oh iya, ini masih edisi melanjutkan Nietzsche. Semangat membaca ya, Guys!
sumber: bukukita.com
Versi bahasa Inggris buku ini berjudul Nietzsche: A Beginner’s Guide, yang terbit pada 2001 di London. Versi bahasa Indonesianya diterbitkan oleh Narasi tahun 2015 dan hanya terdiri 138 halaman saja. Buku yang diterjemahkan oleh Abdul Mukhid ini terdiri atas sembilan bab dan dibuka dengan biografi singkat Nietzsche dari masa kanak-kanaknya hingga perjalanan karier dan pengembaraannya. Juga ada jawaban atas pertanyaan: mengapa karya Nietzsche menjadi sedemikian penting untuk dibaca? Sementara pada delapan bab lainnya membahas pemikiran-pemikiran Nietzsche, ditulis dalam bahasa yang sederhana dan mengena.
Friedrich Nietzsche adalah filsuf asal Jerman yang hidup di antara tahun 1844 – 1900. Pandangan filsafatnya banyak dikenal orang dan menuai banyak kontroversi, yakni “Tuhan telah mati”. Selain itu, Nietzsche masyhur dengan “adimanusia” (dalam bahasa Jerman Ubermensch).
Semenjak ayahnya meninggal, Nietzsche tinggal bersama ibu, adik perempuan, dan juga bibinya. Setelah menamatkan sekolah menengah, Nietzsche melanjutkan ke sekolah teologi dengan harapan dapat meneruskan jejak keluarganya yang rata-rata seorang pendeta. Merasa tidak cocok, ia akhirnya pindah ke studi filologi. Di usia 24 tahun, ia sudah mendapat gelar profesor dengan penemuan-penemuannya, padahal disertasinya saat itu belum selesai. Nietzsche yang seorang ateis mengalami gangguan jiwa pada 1889 hingga akhirnya meninggal tahun 1900.
Di masa-masa awal pembentukan filsafatnya, Nietzsche banyak terpengaruh oleh Wagner dan Schopenhauer. Akibat beberapa hal, Nietzsche akhirnya menjauhkan diri dari Wagner dan Schopenhauer sehingga kemudian ia menemukan pemikiran-pemikirannya sendiri. Buku filsafat pertamanya The Birth of Tragedy. Nietzsche memandang bahwa karya yang sangat dipengaruhi Wagner ini sebagai manifesto perubahan.
Dalam karya Nietzsche lainnya berjudul Human, All Too Human, membahas konsep kehendak untuk kuasa. Ia memandangnya sebagai dorongan yang melatarbelakangi segala sesuatu. Nietzsche mengadopsi pendirian amor fati, yakni keyakinan bahwa kita harus mencintai takdir kita sendiri dan berpegang pada doktrin perulangan abadi yang dibahas dalam Thus Spoke Zarathustra. Tak ketinggalan juga moralitas budak – tuan. Ia menyajikan sebuah genealogi moralitas Kristen, melacak kembali pada masa perbudakan kekaisaran Roma.
Kelebihan buku ini adalah Roy Jackson mampu menguraikan sinopsis buku Nietzsche yang paling banyak dibaca dalam sepanjang sejarah – Sabda Zarathustra/Thus Spoke Zarathustra – dengan bahasa yang sederhana dan mudah dimengerti. Padahal, buku yang mengisahkan perjalanan lelaki bernama Zarathustra termasuk buku bacaan yang berat. Buku ini tidak bisa hanya sekali baca meskipun kita sudah sangat fokus membacanya. Kalau tidak sabar, kita pasti akan meninggalkannya.
Buku yang ditulis Roy Jackson ini cocok untuk pemula yang ingin mempelajari Nietzsche lebih jauh sebab isinya masih berupa pengantar atau masih bersifat permukaan. Sesuai judul aslinya Nietzsche: A Beginner’s Guide ‘Nietzsche: Sebuah Panduan untuk Pemula’.
Akan tetapi, mengapa Abdul Mukhid (penerjemah) memilih judul secara umum saja sehingga berubah menjadi Friedrich Nietzsche? Tentunya penerjemah memiliki alasan sendiri. Bisa jadi, supaya jangkauan pembacanya menjadi lebih luas.
sumber:http://reapisan.blogspot.co.id
Lihat saja novel filsafat Dunia Sophie yang ditulis oleh Jostein Gaarder! Di luar negeri, novel itu dibaca oleh kalangan remaja. Sementara di Indonesia, novel tersebut kebanyakan dibaca oleh orang-orang dewasa. Mengapa demikian? Sebab filsafat di Indonesia barangkali masih menjadi hal yang asing dan stigma masyarakat tentang membaca buku filsafat juga tidak terlalu positif, yakni bahwa buku-buku kategori filsafat tergolong bacaan yang berat.
Faktanya, belajar Nietzsche bukanlah belajar filsafat dasar lagi. Ia tergolong sebagai tokoh filsafat asal Jerman yang sulit dimengerti (barangkali karena saya sering kesulitan membacanya). Nietzsche sendiri justru senang ketika ia banyak disalahpahami orang. Nietzsche justru takut ia dipahami banyak orang.
Bagi Sahabat Steemian yang telah mendalami filsafatnya Nietzsche, buku ini sangat tidak direkomendasikan sebab bisa dipastikan Sahabat Steemian akan kecewa. Penulis buku ini memang sengaja meringkas pemikiran-pemikiran Nietzsche dari berbagai buku secara dasar saja.
Contoh kecil kekurangdetailan buku ini misalnya saja dalam dualisme alam dan seni Nietzsche dalam The Birth of Tragedy. Penulis hanya menjelaskan bahwa Apollo dan Dionysus sebagai dewa Yunani saja. Seharusnya, penulis bisa menjelaskan lebih rinci spesifikasi Dewa Apollo dan Dionysus agar pembaca tidak keliru dan mudah mengimajinasikannya.
Kekurangdetailan lainnya yakni, pada masa itu, Nietzsche hanya dikenal sebagai filolog dan penyair dandy yang agak nyeleneh, tetapi penulis tidak menjelaskan mengenai awal mula Nietzsche diketahui sebagai filsuf. Peran Martin Heidegger tidak dimunculkan di buku ini.
Nietzsche juga mengaku ia sebagai psikolog, jauh sebelum ilmu psikologi itu ada. Pernyataan ini juga tidak dinyatakan dalam buku ini, penulis hanya menarasikannya dengan singkat. Atau nihilisme dan perspektivisme di dalam buku ini yang masih sangat dasar dan singkat.
Pada setiap bab dalam buku ini disertai kutipan-kutipan dari buku Nietzsche yang diduga sebagai aforisme. Pada akhir tiap babnya, diberi ikhtisar singkat agar pembaca mudah memahami. Juga diberi ilustrasi dan beberapa kata kunci guna memperkuat teks.
Bagaimana Sahabat Steemian? Anda tertarik membaca buku ini? Atau Anda ingin sesegera mungkin memiliki bukunya? Semua pilihan ada di tangan Anda.