Assalamualaikum sahabat steemit, para steemian yang sejagat raya.
Postingan saya kali ini adalah tentang perjuangan seorang Ibu yang berjuang dalam memenuhi kebutuhan hidup. Cerita ini saya temukan dalam sebuah perjalanan survey lapangan dari kegiatan Seri Pelatihan Perempuan Peduli Leuser di desa Lembah Sabil Kec. Kayee Aceh Kab. Abdiya tepatnya pada tanggal 15 November 2017 lalu.
Dalam kalangan masyarakat yang ekonominya di katagorikan kelas rendah, kerap sekali perempuan hampir menjadi tulang punggung keluarga. Walaupun dalam perencanaan pertama perempuan hanya memposisikan dirinya sebagai penopang ekonomi keluarga. Namun, kerap sekali peran tersebut lama- lama berubah menjadi tulang punggung keluarga.
Demi melanjutkan hidup, seorang Ibu tidak pernah membiarkan waktu luang untuk berleha-leha. Seperti halnya Ibu Ainal, dia adalah protret sosok perempuan yg mengalami hal tersebut. Buruh tani ini, memanfaatkan waktu luangnya sebagai perempuan pemecah batu di Krueng Baro lembah sabil. Pekerjaan berat ini dia lakukan dengan senang hati, hal itu nampak dari wajah cerianya yg tulus dalam sunda guraunya waktu kami menanyai tentang kehidupan dia sehari hari. Kegiatan Live in kami di Lembah Sabil Abdiya, bertepatan dengan acara "tolak bala, atau disebut juga Rabu abeh" di daerah tersebut. Dimana dalam acara ini, hampir semua penduduk berpergian dengan anggota keluatga untuk acata makan - makan di sungai, yang konon katanya sebagai wujud syukur karena mereka mendapatkan syafaat dari sungai tersebut. Namun lain halnya dengan Ibu Ainal, Dia pergi ke sungai bukan untuk acara tersebut, tetapi melakukan pekejaannya, yaitu memecah batu di sunagi. Perempuan paruh usia ini sangat gigih dalam melayangkan palu berukuran sedang, dan menghacurkan batu - batu tersebut, menjadi keping-keping kecil.
Pekerjaan tetapnya adalah sebagai pencacah kebun, milik seorang pejabat di daerahnya. Dalam hal ini, si ibu menjadi ketua kelompok untuk timnya yg berjumlah 8 orang, dan semua adalah perempuan. Kalau tidak mendapatkan tugas dari si "bapak pejabat" nah saya tidak bekerja, tapi Sudah 2 bulan terakhir ini Saya memilih sebagai pemecah batu di sungai, tutur ibu Ainal dengan selingan tawa di akhirnya.
Pekerjaan pemecah batu dilakukan oleh ibu Ainal demi tercukupnya kebutuhan keluarga. Selain ibu Ainal mardiah, banyak ibu - ibu lain yang juga melakukan pekerjaan yang sama seperti dia. Pekerjaan ini mereka lakukan karena ada perbedaan harga jual antara batu kerikil yang di produksi oleh pabrik dengan yang di olah oleh mereka secara manual. Harga batu kerikil di pabrik 200ribu/kubik. Sementara harga dari para pekerja pemecah batu 125ribu/kubik. Ketika Kami menyinggung tentang keterlibatan suaminya dalam membantu memecah batu, ibu Ainal tertawa dan menjelaskan kalau suaminya hanya pekerja serabutan. Karena hal ini lah mendorong Ibu Ainal ikut membantu memenuhi kebutubhan keluarga. Menurut kepala Desa Kaye Aceh, Lembah Sabil Abdiya, Pendapatan yang sangat minim di dapatkan oleh masyarakat di sebabkan beberapa faktor, yaitu seringnya gagal panen pala, sebagai hasil kebun utama lembah sabil, mendorong masyarakat memilih pekerjaan sampingan sebagai pemecah batu. Brlakangan ini, mami hampir tidak lagi merasakan panen pala yang seperti tahun - tahin lalu. Dulu Kami sangat puas dengan hasil pala yang kami panenkan dari kebun, tutur Kadus Alue Trienggadeng, Kaye Aceh. Dikarenakan banyak banyak sekali pemburu burung di hutan, menyebabkan punahnya populasi burung, sehingga pemangsa predator ulat (hama) pun sudah tidak ada, tambah Kadus tersebut.
Sangat disayangkan, jika para pekerja perempuan ini berlarut dalam pekerjaan sampingannya yang tidak berujung perubahan bagi ekonomi keluarganya.
Demikian kisah potret perempuan dari sedikit perjalanan hidup saya, untuk mu Ibu, sesungguhnya jika air laut menjadi permata, sunggu itu belum cukup untuk membalas jasamu.
Terimakasih sudah meluangkan waktu untuk membaca postingan saya, singgahlah pesan anda di kolom komentar.