Sumber: my-wall-decall.com
Halo Steemian!
Sebenarnya bukan lah hal yang asing jika kita mendengarkan kata cantik. Dalam kehidupan sehari-hari, tidak jarang kita mendengarkan kata cantik diucapkan berulang-ulang kalinya. "Kamu cantik hari ini," "Apa saya terlihat cantik?," "Dia terlihat cantik dengan make-upnya," "Wah, dia seorang perempuan yang cantik!," dan banyak kalimat lain yang mungkin sering kita dengarkan tentang "cantik" ini.
Lantas saya bertanya-tanya, sebenarnya bagaimanakah yang disebut dengan "cantik" itu? Bagaimana seorang perempuan bisa dikatakan cantik?, dan mengapa ia ingin terlihat cantik?. Pertanyaan yang konyol memang, karena bagi sebagian orang mungkin itu memang sudah keinginan dasar dari seorang perempuan untuk dapat menjadi cantik. Kalau menjadi tampan, bukan perempuan namanya. (Duh!).
Jika kita merujuk pada definisi KBBI, maka kita menemukan definisi "cantik" adalah elok; molek (tentang wajah, muka perempuan); sangat rupawan (tentang orang perempuan); cantik (bagus) sekali (antara bentuk, rupa, dan lainnya tampak serasi);. Dari definisi ini, dapat disimpulkan bahwa makna kecantikan itu tertuju pada seorang perempuan, yang dinilai dari wajah dan rupa fisiknya. Hanya saja, tidak digambarkan secara jelas bagaimana standar baku atau rinci tentang bagaimana konsep tentang cantik itu.
Lantas, bagaimana kehidupan sosial mengonstruksi definisi tentang konsep cantik ini?. Di sini lah letak menariknya.
Dalam kehidupan sosial kita, ada ambiguitas dalam memaknai konsep tentang cantik ini. Banyak sekali tafsiran tentang cantik yang dimaknai secara subjektif oleh setiap orang. Cantik itu relatif. Kata sebagian orang, jika dia pintar maka dia cantik. Kata yang lainnya lagi, jika dia baik dan tersenyum, maka dia cantik, atau ada yang mendefinisikan perempuan itu terlihat cantik jika dia pintar memasak. Nah, loh?
Saya sangat bersyukur jika definisi tentang cantik itu dapat dimaknai secara relatif oleh setiap orang. Tapi alangkah mirisnya, meskipun cantik itu katanya relatif...masih ada juga sebagian dari kita yang memaknai konsep cantik itu dari bentuk fisik seorang perempuan. Benar tidak?
Secara tidak kita sadari, dalam alam fikiran bawah sadar kita, ada legitimasi-legitimasi terhadap kecantikan seorang perempuan. Apa itu? Yaitu legitimasi bahwa perempuan cantik itu adalah yang berkulit mulus, putih, bening, hidung mancung, rambut lurus, berbadan langsing, leher jenjang, bibir ranum, dan sebagainya. Seperti apa yang digambarkan dalam media massa.
Legitimasi tipikal perempuan cantik seperti ini lah yang kemudian dibenarkan oleh sebagian besar masyarakat, atau perempuan, yang ada di dunia ini. Perempuan akan dianggap cantik paripurna jika kriteria-kriteria seperti itu terpenuhi pada dirinya. Lihat lah di iklan, film, foto, atau even-even tertentu yang menampilkan sosok seorang perempuan, maka sosok perempuan yang ditampilkan tentu saja yang memiliki kriteria seperti itu.
Dominasi Maskulinitas di Media
Mengapa ini bisa terjadi? Di sini lah letak peran dari media massa dalam melegitimasi dan mengonstruksi makna cantik bagi seorang perempuan. Dalam hal ini, media massa sangat memegang andil dalam membangun opini, mencitrakan, atau bahkan menghegemoni pikiran khalayaknya. Media massa juga berperan besar dalam melanggengkan budaya yang berkembang dalam masyarakat. Salah satunya adalah budaya maskulinitas atau patriarkisme.
Budaya patriarki ini menempatkan laki-laki pada tempat yang superior dan perempuan di tempat inferior. Ini artinya, pandangan laki-laki adalah yang lebih ditonjolkan dan menafikan kedudukan perempuan. Kesuperioran laki-laki juga memungkinkan nilai-nilai maskulinitas mendominasi aspek-aspek kehidupan sosial. Salah satunya dalam membentuk atau mengonstruksi "imaji perempuan cantik" dalam pikiran masyarakat, sesuai dengan pandangannya atas perempuan.
Tatapan Laki-laki (Male Gaze) di media
Apa itu the male gaze?. Wikipedia menjelaskan bahwa "...the gaze is a concept used for “analysing visual culture… that deals with how an audience views the people presented.” Jadi, jenis-jenis tatapan itu sesungguhnya sangat ditentukan atau dikategorikan berdasarkan "siapa" yang melakukan tatapan itu.
Maka di dalam media yang patriarkat, laki-laki lah yang selalu saja diposisikan sebagai pihak "subjek", pihak penonton, atau penatap. Sehingga media pun menempatkan perempuan sebagai "objek" yang disesuaikan dengan apa yang ingin "ditatap" laki-laki tentang sosok seorang perempuan. Perempuan adalah komoditas yang digunakan oleh pihak-pihak di balik media, untuk menarik perhatian atau menguntungkan penatapnya. Untuk mendukung nilai-nilai bisnis penguasa di balik media.
Di sini lah bagaimana media mencoba menghegemoni imajinasi nilai-nilai kecantikan seorang perempuan. Sebagai suatu komoditas, perempuan dibentuk dan dicitrakan sedemikian rupa sebagai suatu alat penarik perhatian yang layak untuk "dibeli" atau "dijual", atau dianggap seperti itu lah harusnya menjadi perempuan agar dapat memikat laki-laki yang diinginkan.
apa harus jadi kayak bcl dulu supaya laki-laki terpikat? Duh! Ulala~
sumber : google
Coba lah lihat iklan-iklan yang ditampilkan di media, kebanyakan iklan di media cetak atau televisi menampilkan sosok perempuan yang putih, tinggi, langsing, berbodi aduhai yang "dianggap" oleh media sebagai sosok perempuan cantik sesuai dengan yang diharapkan laki-laki. Sedangkan kebanyakan perempuan dengan kriteria sebaliknya seperti bertubuh gembul, hitam, pesek, atau pendek, seringkali dijadikan sebagai ikon perempuan sampingan, yang rentan di-bully, dicemooh, dan dianggap candaan.
Sehingga muncul pengkotak-kotakan perempuan seperti ini-- bahwa perempuan cantik itu harus lah punya fisik seperti barbie. Sehingga ini tentu saja menjadi aneh bagi perempuan yang berada di luar definisi itu. Akan dianggap perempuan seperti apakah mereka? Perempuan jadi-jadian kah?.
Maka jelas lah melalui media massa, nilai-nilai maskulinitas ini kemudian disebar, direproduksi, dan dikonstruksikan dengan permainan simbol dan tanda. Yang kemudian dipaksakan ke dalam pikiran orang, atau perempuan, bahwa untuk menjadi perempuan yang cantik itu adalah menjadi perempuan seperti apa yang digambarkan media atasnya.
to be continued...