Kecerdasan hati itu mudah dan bersifat memudahkan sebab ia dekat dengan kedamaian dan keakraban.
Sedangkan kecerdasan pikiran itu mudah terperosok menjadi ego yang sering menyulitkan, sebab ia senang berteman dengan argumentasi logika. Dan semuanya ada alat ukur.
Ini "alat ukur" nya:
Hati senang memahami, ego gemar memperdebatkan
Hati senang menyatukan, ego gemar memisahkan
Hati senang memaafkan, ego gemar mempermasalahkan
Hati senang merasa cukup, ego gemar merasa kurang
Hati senang merasa setara, ego suka terlihat lebih tinggi atau rendah
Hati senang kebersamaan, ego suka menajamkan perbedaan
Hati senang berhati-hati, ego suka tergesa-gesa
Hati senang mengalah untuk menang, ego suka yang penting menang
Hati senang terserah diri, ego suka dengan caranya sendiri
Hati memiliki logika yang tidak mampu dipahami oleh akal
(Blaise Pascal)
Dan ketika kita mengikhlaskan sesuatu menggunakan hati, sudah tentu akan berakibat baik. Seperti kita menjemput rezeki, semakin kita ikhlas dia semakin banyak dalam arti berkah yang melimpah, rezeki bukan dari besar tapi dari kadar berkahnya. Bunyi ikhlas di dada bukan di kepala.