Saya pernah bertugas sebagai Kepala Puskesmas Buntul Kemumu pada tahun 2009-2011. Kecamatan terpencil di Kabupaten Bener Meriah dulunya terisolir, yang sangat sulit diakses. Satu-satu jalan terbaik, adalah melalui Pondok Baru, kemudian melewati Bener Kelipah, dan melintasi jembatan Kanis yang dianggap seram dan angker.
Dahulu, bertugas di Kecamatan ini sangat menantang sekaligus menyenangkan. Selaku Kapus, waktu itu saya harus berkunjung ke desa-desa, bahkan ke kawasan yang sangat terpencil seperti Rikit Musara atau Kem. Yang menarik adalah cuacanya, sangat dingin, yang membuat kita betah berlama-lama di dalam kamar.
Saya membayangkan, andai Jalan KKA itu dibangun, tentu akan membuka keterisoliran daerah ini. Namun, sampai saya meninggalkan Pukesmas pada Mei 2011 untuk melanjutkan pendidikan Spesialis di Palembang, jalan itu belum kunjung dibangun.
Waktu terus berlalu, dan saya pun telah menyelesaikan pendidikan spesialis. Pada medio 2016 saya kembali mengabdi di Bener Meriah, tepatnya di RSUD Munyang Kute Redelong. Dan pada saat yang hampir bersamaan, saya mendengar sayup-sayup bahwa jalan KKA sudah selesai dibangun dan tembus ke Jalan Medan-Banda Aceh. Seketika saya teringat khayalah saya 5 tahun silam, akhirnya jadi kenyataan.
Dan beberapa minggu kemudian, saya pun menjajal jalan ini. Jalannya sangat mulus, dengan pemandangan alam yang aduhai. Tapi masih sepi, belum ramai pelintas yang menggunakan jalur baru ini. Karena banyak isu tidak menyenangkan, seperti perampokan dan tikungan tajam yang sering menimbulkan kecelakaan lalu lintas.
Namun, seiring berjalannya waktu, jalur ini semakin padat dan dilalui ribuan pelintas setiap harinya. Dan menariknya, banyak bermunculan cafe-cafe sebagai tempat persinggahan sambil menikmati pemandangan elok di kawasan gunung sala(k).
Bahkan, yang terkini, hadirnya cafe mewah bernama Puncak Hill Resto. Satu-satunya resto terbaik di tengah-tengah belantara di daerah perbatasan Kabupaten Aceh Utara dan Bener Meriah.
Saya pun tidak mau ketinggalan, dan telah beberapa kali melepas penat di resto yang diresmikan pada 18 Januari 2018 silam.
Mari saya tunjukkan beberapa foto menarik, dari berbagai sudut resto ini, yang saya abadikan dengan kamera Iphone 7 plus.
Mari kita lihat keadaan eksterior dan interiornya. Cukup bersih, rapi, dan cozy.
Coba perhatikan foto di bawah ini. Itu lesehan gantung, yang melekat pada sebuah tebing, dengan lembah yang curam dan dalam di bawahnya. Bila Anda punya cukup nyali dan tidak mempunyai acrophobia, silahkan lesehan di sini.
Sebatang pohon kering telah menjadi ciri khas Puncak Hill Resto dan seolah-olah pohon ini sebagai brand keberadaan resto yang dibangun di atas sebuah bukit kecil ini.
Mari menikmati sajian khas mereka, terutama kopi. Tersedia juga aneka minuman dan makanan.
Ayo singgah di sini, it’s recommended. Tapi kita harus sabar menunggu datangnya pesanan kita bila sedang ramai pengunjung. Pelayanannya agak lamban, dan siap berdiri lama di antrian panjang di depan meja kasir saat Anda hendak melunasi bill Anda. Selebihnya, adalah kemewahan di tengah rimba.