Penyakit paru obstruktif kronik (PPOK) merupakan suatu penyakit yang menyerang saluran napas, di mana terjadi obstruksi aliran udara pernafasan yang bersifat progresif. Saat ini, PPOK telah menjadi salah satu masalah kesehatan di dunia, karena angka kejadiannya terus meningkat sepanjang tahun. PPOK paling banyak diderita orang yang berusia di atas 45 tahun yakni berkisar antara 9-10%, sementara pada perokok berat angka kejadiannya akan meningkat 50% lebih tinggi.
Saya sangat sering menangani pasien dengan PPOK, biasanya mereka datang ke rumah sakit dengan keluhan sesak napas, batuk, demam, dan disertai dengan suara mengi ‘ngik ngik’. Suara ini muncul akibat saluran napas yang menyempit, sehingga menyulitkan keluar masuknya aliran udara pernapasan, sehingga menimbulkan rasa sesak.
Umumnya pasien tersebut berusia di atas 50 tahun, dan 100% pasien tersebut merupakan perokok berat sejak lama. Rata-rata mengonsumsi 1-3 bungkus rokok per hari. Sayangnya, mereka baru berhenti merokok saat penyakitnya sudah memberat.
Asap rokok dapat menyebabkan inflamasi (peradangan) paru. Respon inflamasi yang berlangsung lama ini akan menyebabkan kerusakan organ paru, di mana terjadi penyempitan saluran-saluran pernafasan kecil di dalam paru-paru.
Merokok memang banyak mudharatnya, selain menyebabkan penyakit paru dan jantung, dapat pula menyebabkan impotensi. Bila bertemu pasien perokok, sudah pasti saya menganjurkan mereka berhenti merokok atau mengurangi perlahan sampai bisa berhenti total. Tapi apakah mereka akan mengikuti saran saya, sulit ditebak. Hehe..