Tak satu pun dari sekian makhluk yang mampu menahan beratnya rindu padamu, Laila. Tak sepenggal peristiwa alam pula mampu merintangi jalanku, melacak segala makna yang tersirat dalam gurat-gurat penuh rahasia.
Laila, ketika mawar mekar di langit, rinduku pun ikut mengalir menjalari setiap lekuk dan ruas kebajikan. Mencintaimu dalam sunyi seperti malam ini, juga sebagaimana malam-malam sebelumnya, selalu saja menghidupkan kembali kenangan tahun-tahun silam, ketika kita teramat dekat dalam debar dan deru mula kehidupan. Laila, engkaukah itu yang menaburkan mawar di langit tinggi?
Ketika taburan bunga-bunga itu bermekaran di cakrawala, kemilaunya menyeruak ke dalam gugusan kabut yang mengkilap, segalanya berasa meresap dalam cetakan penciptaan. Semuanya seakan kembali lagi pada debar dan gigil rindu semula. Aku pun mendekapmu setulusnya, mendekap sajak-sajakmu yang takkan pernah kulepaskan.