(Source : Pixabay)
Dear, Broe
My beloved brother
Broe, aku tahu hatimu seputih salju. Walaupun kulitmu berada dalam kegelapan. Dari semenjak aku mengenalmu, gigimu yang maju tak gentar dan berwarna putih itu mencerminkan kata yang kau ucapkan adalah ungkapan jiwa-jiwa pemberani. Kau tidak pernah bisa kompromi dengan kemunafikan. Dulu, kau bahkan bisa diam membisu kepadaku, abangmu yang terindikasi lalai dan terkadang tak bisa dijadikan teladan. Tahukah kamu betapa tersiksanya aku akan masa-masa itu. Sekarangpun aku merasa kurus dan kecil mungil kalau mengenang masa-masa itu....ah!!
Broe, kau sebenarnya adalah pribadi yang santai. Namun kali ini kau terjebak nostalgia bro. Nostalgia masa-masa di sekolah. Semua sudah usai broe. Fase main hati dan menjaga independensi diri sudah usai. Lihat mereka yang menjadi pelakon politik hari ini. Semuanya sudah move on dari seraknya ToA dan ikat kepala bertuliskan kata LAWAN. Mereka sudah menjelma menjadi siapa sesungguhnya mereka, broe. Sama seperti kita yang telah menjelma seperti kita hari ini. Kita dulu sekedar terlibat dalam politik kampus dimana kita biasa berbuat salah namun tidak biasa berbuat bohong. Namun hari ini ketika diantara kita ada yang menjadi politikus hal yang berbeda akan terjadi, broe. Politikus itu biasa berbuat salah namun biasa pula dia berbuat bohong. Jadi jangan heran kalau mereka seolah-olah ka ise klep.
O ya broe, kamu udah maen steemit belom? Maen steemit lah. Sosmednya gak bikin puyeng...hehehe. ! Terkait BBM naik, ntar juga turun lagi dekat pemilu. Percaya aku deh. Trendnya sih gitu dari dulu. Terkait abu janda dan rekan seperjuangannya, mereka sudah menentukan pilihan bro. Gak perlu saling baperan kalau beda garis keyakinan. Ada mekanisme untuk merebut kekuasaan. Gak lama lagi Pemilu toh. Itu momennya untuk mengganti rezim yg menurut saya juga "ihhh cape' deh ini.
Politik dan politisi zaman now itu memang rada-rada, broe. Tapi yakin aja bahwa Gusti Allah ora sare. Allah tidak tidur. Bangsa ini adalah bangsa yang ramai, broe. Pasar malam aja kalah ama kita. Tapi kalau pasar malam aja bisa asik, masak negara kita gak bisa asik. Jadi asik gak asik harus dibawa asik, broe. Kalau udah gak asik karena saling usik itu udah musti disuguhkan "Ayu Ting-Ting" biar kembali asik. Tapi "Ayu" juga jangan diusik, ntar disambalado kita. Lhaaa jadi kacau saya. Tapi itulah bro, jangan heran dengan abang Faisal Rizal. Setidaknya beliau berani menentukan sikap politik yang jelas. Beliau sudah merintis lama jalan itu. Bagi saya patut diacungi jempol cara beliau mempertahankan pilihannya. Itu memang sudah menjadi tugas beliau selaku partisan yang terlibat didalamnya. Didalam lingkaran kekuasaan yang direbut dengan perjuangan darah dan airmata. Saya lumayan tahulah lika liku politik di negara ini.
Gimana? Masih baper? Aku masih harus prepare ngajar ni. Poko'e broe harus tetap kalem. Ikuti aja mekanisme yang ada. Rezimnya memang sudah begindang mau digimanain lagi. Mudah-mudahan rakyat bisa memilih yang terbaik kedepannya. Ingat pemimpin yang ok lahir dari rakyat yang ok. Begitu juga sebaliknya. Kita harus tetap selow kayak di pulau dan tetep santai kayak di pantai. Berfikir positip aja gak usah saling usik. Beda pemahaman sampai kiamat gak akan ada titik temunya. Lain halnya dengan salah paham yang bisa diusut benang merahnya.
Dengan Cinta
Bob Reza....