Jangan sangka ini sebuah protes keras yang sengaja dikemas dengan cara yang lebay. Anggap saja ini sebuah curhatan dari kami para insan seni, yang dalam hati nuraninya masih terpatri sebuah aturan keras, "Berkaryalah dari hati, jangan mencuri". Begitulah bunyi aturannya, dan masih ikhlas kami mengamalkannya.
Kawan, ketika sudah bersinggungan dengan kata "berkarya" berarti sudah berbicara tentang sebuah aturan ketat di sana. Aturan itu tak dapat dilonggarkan dengan alasan apapun. Jika berbicara tentang "berkarya", berarti kita sedang berbicara tentang menciptakan, meghadirkan, mengemas suatu ide menjadi sebuah wujud nyata yang bisa dilihat, disentuh, didengar, dirasakan. Untuk mewujudkan itu semua kami perlu bekerja keras. Kadang kami harus 'mengemis' pada diri sendiri agar dapat datang sebuah ide brilian, gagasan dan inspirasi yang bagus.
Tapi, ketika kriminal mencuri sebuah karya sudah dianggap lazim, dan tak lagi dianggap sebuah kejahatan. Di situ 'kemerdekaan' kami mulai terancam. Untuk itu kami harus menjemput keadilan, meski tidak dengan cara turun ke jalanan. Kami tidak bisa berdiam diri, membiarkan dan mengikhlaskan. Itu karya kawan, buah pikir kami, kerja keras dan harga diri kami. Terkadang ketika malam pun, otak kami ini tak kami bawa tidur ke bantal yang empuk, menompang kepala dengan tangan kiri berganti tangan kanan, hanya untuk menunggu ide-ide datang di keheningan malam. Terkadang kami juga sampai lupa mengurusi urusan perut hanya untuk menyelesaikan sebuah karya bagus.
Lantas ketika karya itu sudah jadi, kemudian datang orang lain 'merenggut' apa yang kami punya, apakah kami harus berdiam diri? Tidak bisa. Karya tetaplah karya, walau kadang nilainya hanya seharga satu gelas kopi pancung. Hak tetaplah hak, dan keadilan harus tetap bekerja sebagaimana mestinya.