The wave dance that took place after Christmas Day of December 26, 2004 was extinguishing a candle flame along with the deaths of 230,000 people in 14 countries.
Tiga belas tahun lalu, Aceh diguncang gempa besar hingga lautan menari. Geraknya menghentak, melebihi hentakan tari Saman dan Seudati. Daratan Aceh terguncang hebat, bahkan planet bumi ikut bergetar.
Dengan kekuatan gempa mencapai 9,1-9,3 SR dalam waktu 8 - 10 menit, lautan membentuk pola gerak tari tsunami yang liar hingga puncak gelombangnya mencapai 98 kaki. Laut pun kehilangan keseimbangan, setelah surut serentak, lalu bergerak balik, dan mulailah mencengkram daratan.
Tanaman tumbang, rumah-rumah hancur, manusia dan hewan jatuh, berguling-guling, digulung gelombang hitam, suara teriakan manusia digulung deru gelombang. Air mata yang tumpah langsung tersapu, takbir di hati hilang bersama jiwa-jiwa yang melayang. Selebihnya sunyi rebah di bumi ilahi, Serambi Mekkah. Indonesia berduka dan dunia bisu seketika.
Tarian gelombang yang terjadi usai Hari Natal, 26 Desember 2004 itu memadamkan api lilin bersama tewasnya 230.000 orang di 14 negara. Tapi usai lautan tenang, api solidaritas seluruh bangsa menyala-nyala, mereka datang dengan tangan penuh bantuan untuk satu maksud "build back better."
Rakyat Aceh bangkit dan menari lagi. Musibah tidak membuat lelaki Sultan Iskandar Muda patah semangat, tidak membuat perempuan Laksamana Keumalahayati putus asa. Dan, tidak membuat generasi Hamzah Fansuri dan Syiah Kuala berdendam kepada bumi dan samudera.
Bagi rakyat Aceh, lautan adalah tafsir kehidupan, gerak adalah keniscayaan. Kehancuran adalah kebangkitan, kematian adalah kehidupan, bergerak seperti gelombang adalah energi pelayaran. Saman dan Seudati adalah tarian kebangkitan. Terimakasih dunia!
Heal The Wolrd
Kini, Aceh telah menjadi dunia yang lebih baik bagi semua, persis seperti spirit yang terdapat dalam lirik lagu Heal The World dari Michael Jackson. Dunia konflik di Aceh sudah berlalu setelah Tsunami datang. Orang-orang menjadi nyaman untuk datang di Aceh. Kepedulian dunia yang bertolak dari rasa cinta telah memungkinkan kembali Aceh tampil sebagai gampong donja, yang ramah dan aman bagi semua.
Melalui Steemit para Steemian Aceh terus mengabarkan kepada dunia keindahan, keramahan, dan keamanan Aceh. Hampir setiap hari ada saja postingan yang positif tentang Aceh. Para Steemian Aceh tidak tertarik lagi bertengkar dan menghabiskan waktu sia-sia di media sosial. Mereka semakin asyik mengabarkan perkembangan positif Aceh sambil menikmati reward yang membantu kehidupan. Di bawah payung Komunitas Steemit Indonesia, Steemian Aceh juga menyebar Steemit ke berbagai provinsi lainnya, dan jika pada waktunya Indonesia Bersteemit maka benturan sosial di ruang media sosial akan berkurang dengan sendirinya. []