Peluncuran akun hari ini, Rabu (11/10/2017) sangat berbahaya. Bahaya pertama karena ide peluncuran akun ini berasal dari Aceh. Bahaya kedua, karena akun ini melarang individu untuk melakukan tindakan plagiarisme, penghinaan agama, ujaran kebencian dan pornografi.
Aceh itu diakui sebagai negeri pemberani. Tahun 2005, paska tsunami, sastrawan berpengaruh Pramoedya Ananta Toer mengakui kebaranian orang Aceh. Menurut Pram, Belanda hanya mampu membuat Aceh pasif, bukan menundukkan Aceh.
Aceh memang berani, bukan hanya berani berperang, tapi juga berani berdamai. Bayangkan, setelah melalui periode perang silih berganti, masih tetap berani melakukan lompatan damai. Ini jelas keberanian berlebih. Saya sangat kuatir, jika orang Aceh berani menjadi pasukan perang, maka berani pula menjadi pasukan damai? Ngeri!
Jika di periode perang, Aceh mampu menghadirkan shadow state atau negara bayangan dengan visi smart Aceh-nya yang didasarkan kepada renungan sejarah lampau, maka sangat mungkin keberanian di periode damai ini, Aceh akan menghadirkan shadow state baru yang didasarkan kepada teknologi terkini, yaitu blockchain untuk maksud membuat sejarah di masa depan.
Tugas pertama menghadirkan Smart Aceh dalam cetak biru sejarah lampau Aceh sudah dilakukan oleh berbagai tokoh Aceh, dan terakhir dilakukan oleh Hasan Tiro. Dari Hasan Tiro hadir rumusan kunci yaitu national interest yang bertumpu pada kekuatan kebersamaan, bukan nafsi-nafsi atau peuglah pucoek droe. Maka, dalam spirit community, tugas kedua untuk membuat sejarah masa depan ada dipundak generasi pembuat sejarah, yang kini telah memiliki teknologi blockchain.
Melalui teknologi blokchain yang menghadirkan Steem inilah lahir ragam konten di Steemit. Bayangkan dampak revolusi yang terjadi manakala dari waktu ke waktu hadir konten berkualitas dari kreator konten yang tidak hanya mengejar rewards dollar tapi lebih utama mengejar rewards perubahan, yaitu diri yang lebih baik, agar bisa membuat Aceh yang lebih baik, dan Indonesia yang juga makin baik.
Di sinilah bahaya kedua, ketika akun melarang plagiat, penghinaan agama, ujaran kebencian dan pornografi maka itu namanya usaha sungguh-sungguh untuk menyingkirkan penghalang bagi kemajuan diri, daerah dan negeri. Bahaya kedua ini persis bahaya yang dibawa oleh blockchain, yang sangat mengganggu dunia bisnis dan jasa keuangan, bahkan pelan-pelan mengganggu kenyamaan dunia birokrasi dengan sentralisasinya yang memungkinkan untuk terus melanjutkan budaya korupsi.
Jadi, akun juga akan memberi gangguan kepada siapa saja yang tidak siap menjemput perubahan secara lebih nyata, dan masih ingin terus menikmati tindakan meraih keuntungan melalalui tindakan plagiat, tulisan hoax, dan nafsi-nafsi. Bayangkan, jika akun
bisa menjadi katalisator dan akselerator membentuk rantai steemians perubahan di seluruh Indonesia sambil tetap menikmati reward, ini jelas akun yang sangat mengganggu bagi yang tidak mendukung perubahan. Tapi, terus terang saya menyukai dan mendukungnya. Selamat berkerja. []
foto utama by pixabay.com