Arswendo Atmowiloto benar, mengarang itu gampang. Dua modal utama untuk mengarang sudah ada sejak kecil, yaitu kemampuan membaca dan menulis. Sejak kecil kitapun sering menulis apa saja yang kita mau, dan semua hasilnya diapresiasi.
"Bagus, nak..."
"Duh, kerennya adikku..."
"Wow, ini bagus sekali..."
Demikian apresiasi yang diberikan atas hasil karya yang oleh orang dewasa disebut coretan. Padahal, apapun hasil yang lahir dari "tarian jemari" kita adalah buah dari karya pikir dan rasa kita, dan itu semua memiliki nilainya.
Nilai itu tidak difinitif. Ada yang suka, dan ada juga yang tidak suka, dan diantaranya ada pula yang senang mengapresiasi, sebab ia sadar, hari ini bisa jadi tidak berguna, tapi suatu ketika akan ada arti, nilai dan maknanya.
Jadi, mengarang atau menulis memang gampang, sama sekali tidak sulit, dan apapun hasilnya selalu saja ada orang lain yang memberi nilai.
Jadi, kembalilah mengenang masa kecil, saat dimana kemerdekaan menuangkan apa yang ada di pikiran dan di hati mengelir dengan merdeka melalui gerak jemari, tanpa disertai beban-beban, sekaligus tanpa disertai dengan tekanan, dan juga paksaan, serta pesanan, bahkan imbalan.
Tulis saja apa adanya, mengalir dan dengan senang gembira. Memang, ada banyak karangan dan tulisan yang hadir karena ragam hal, dan umumnya menarik serta juga mengagumkan, bahkan ada banyak karya tulis yang kemudian dibukukan, diedar diseluruh penjuru dunia usai diterjemahkan dalam ragam bahasa.
Tapi, apakah karangan dan tulisan itu menggerakkan? Jika benar menggerakkan maka dunia hari ini bukan lagi dunia yang suram, ruwet, menegangkan, penuh problem, dan makin rumit saja, padahal hasil karya sudah menggunung, plus database informasi yang bila dibuat dalam kotak data maka bisa jadi besarnya sudah berkali-kali ukuran lapangan bola.
Pesan apa dan dari siapa yang mampu menggerakkan? Jawabannya, pesan dari anak kecil. Seorang anak kecil mampu menggerakkan ayahnya yang besar dan kokoh badannya untuk melakukan apapun yang diminta. "Papa..." panggil si kecil dan ayahnya pun mengikuti suara panggilan.
Intinya, bukan pada bagaimana pesan diramu agar memiliki daya menggerakkan, melainkan pada bagaimana diri kita memposisikan diri dalam menyampaikan pesan.
Hubungan adalah kunci paling utama dalam komunikasi yang menggerakkan perubahan. Anak mampu menggerakkan ayahnya, dan sebaliknya. Hubungan kedekatan inilah yang menghasilkan komunikasi yang menggerakkan. Seorang anak kecil belum tentu menggerakkan orang dewasa yang tidak memiliki hubungan, begitu juga sebaliknya.
Di steemit ini, banyak yang memiliki kemampuan menulis, termasuk saya sendiri. Tapi, ketika saya tidak memiliki hubungan spesial dengan pembaca maka tulisan saya yang bagus besar kemungkinan akan menjadi postingan yang lewat begitu saja. Sebaliknya, ada teman penulis lain, yang bisa jadi biasa saja tulisannya, namun karena memiliki hubungan maka postingannya memberi nilai yang menggerakkan.
Dan untuk menghasilkan hubungan sebagaimana anak-anak dengan orang dewasa maka yang diperlukan pendekatan produk, dream, atau akhlak. Karangan yang dilihat sebagai sesuatu yang berguna pasti menggerakkan, karangan yang menjawab mimpi pasti menggerakkan, dan jika keduanya tidak ada maka akhlak penulis juga akan menggerakkan.
Untuk terakhir ini, akhlak sebagai kunci menulis atau mengarang yang menggerakkan, sudah banyak ditinggalkan. Akhirnya, tulisan hebat memang banyak, tapi karangan yang menggerakkan semakin langka, sebab penulisnya kehilangan akhlak dalam menyampaikan pesan. []
image credits by pixabay.com