Malam ini, Komunitas Steemit Indonesia (KSI) Chapter Banda Aceh kumpul bersama di tepi pantai Kuala Cut, Lho'nga, Aceh Besar.
Sebelumnya, rombongan bergerak dari titik kumpul warung kopi Polem. Dengan menggunakan motor sejumlah Steemian menyusuri lekuk kota hingga menuju titik lokasi di kawasan Lho'nga, Aceh Besar.
Aroma kambing guling yang dibakar api bertarung dengan aroma laut yang diterpa angin pantai. Langit siang melepaskan sunset ke pangkuan malam, kelok gunung bak chart cryptocurrency pun menghilang berganti cahaya kedip lampu ditepian pantai.
Alunan lagu diiringi petikan gitar menyelinap di sela-sela perbincangan, kurator Indonesia menjawab dengan ringan pertanyaan seputar Steem dan Steemit. Topik lain juga mengalir, dan bagai ombak laut, topik ringan juga muncul, semua mengalir lepas di celah tawa, senyum dan rayuan kantuk.
KSI Chapter Banda Aceh di bawah koordinasi memang selalu merawat kehangatan dalam berkomunitas. Selain kumpul bersama di warung kopi, juga melakukan perjalanan bersama menikmati kebersamaan, salah satunya seperti malam ini.
Merawat komunitas memang tidak mudah, apalagi jika anggotanya terus tumbuh dan bertambah. Ragam pandangan, sikap, dan keinginan serta kemauan bahkan motif juga hadir dalam lingkaran komunitas, bahkan tak jarang ada juga yang pergi dan melepaskan diri, menjauh dengan ragam alasan yang terkadang tidak cukup bijak untuk dibedah.
Untuk itu, guna merawat komunitas diperlukan lima sikap dasar yang untuk kemudahannya saya namakan rumus LAPAN, yaitu letting go, acceptance, presence, attention dan non-judgement. Mari kita simak sejenak.
Letting go dan Acceptance
Saya mulai dengan letting go karena ketika ada anggota yang pergi dari komunitas kerap memberi guncangan, apalagi jika yang pergi itu diklaim sangat berarti, seperti terguncangnya hati saat kekasih hati menghilang.
Tapi, jika direnungi lebih dalam, tidak semua burung senang berada di dalam kandang, terkadang ada yang lepas lewat celah lengan. Terguncang iya, tapi menempatkan yang telah lepas sebagai bagian dari sejarah, bukan bagian dari takdir jauh lebih bermakna bagi komunitas untuk terus bergerak ke depan.
Setiap kali ada yang pergi itu pertanda telah tiba yang datang, maka untuk yang pergi janganlah dibenci agar tidak tersemat di hati, sedangkan untuk yang datang mesti diterima dengan penerimaan yang tulus. Penerimaan juga membantu berkembangnya perbedaan yang bisa saling memberi warna.
Presence dan Attention
Kita adalah semua bintang bercahaya, dan tidak ada bintang yang sinarnya dilihat sebagai paling terang, sebab semua cahaya sama, hanya posisinya saja yang sedang berada pada porosnya tersendiri. Sebagai sesama bintang hendaknya seluruh anggota saling memberi cahaya agar yang kurang terang tetap memiliki dan hadir dengan cahaya yang memikat.
Non-judgement
Tidak menghakimi adalah kunci komunitas yang tercerahkan. Komunitas yang dipenuhi penilaian otomatis tentang salah vs benar dan baik vs buruk adalah gambaran komunitas yang dikendalikan oleh ego, bukan oleh kesediaan untuk memperhatikan keindahan dari apa yang ada. Misalnya, jika ada yang hadir dengan copypaste jangan langsung menghakimi, dalami dahulu, siapa tahu ia belum tahu cara mengutip yang benar. Jika belum di upvote jangan langsung mengamuk, kadang ia menunggu penuh voting power sehingga lebih maksimal memberi upvote.
Malam makin larut, tapi kehangatan masih mengalir di Steemian chapter Banda Aceh. Jemari Ketua KSI Chapter Banda Aceh yang biasanya rajin menari untuk menghadirkan post kini menari di senar gitar untuk menghibur hati. Kurator Indonesia pun ikut menyanyikan lagu-lagu cinta sedangkan vokalis muda dari Apache,
berganti menikmati sambil bercerita tentang proses kreatif. []