Desa dalam literatur Aceh disebut dengan Gampong, merupakan bagian terkecil dari tatanan masyarakat dan pemerintahan untuk terus berproses, mentranferisasi berbagai knowledge dan pengalaman sekaligus menjadikan gampong sebagai laboratorium kecil. Tempat membedah, membongkar dan mengevaluasi diri. Kejelian dan ketelitian untuk dapat melihat dan memanfaatkan potensi gampong adalah salah satu cara dalam mengembangkan suatu gampong.
Nusa sebagai salah satu gampong di kecamatan Lhoknga, Propinsi Aceh yang berproses, belajar, dan terus belajar serta mengembangkan potensi-potensi yang ada demi terwujudnya masyarakat gampong yang mandiri dan berdaulat. Potensi gampong yang ada selain di kembangkan juga dilestarikan bersama sehingga tidak ada lagi kepunahan budaya lokal.
Pengetahuan lokal yang semakin tergerus oleh kemajuan teknologi sehingga nilai-nilai sosial didalam masyarakat juga semakin memudar. Nilai-nilai sosial berwujud menjadi kearifan lokal yang telah dibangun oleh masyarakat dulu yang seharusnya menjadi potensi pengembangan gampong. Misalnya bagaimana mekanisme traditional dance yang terus dibungkus dan dijaga oleh masyarakat Nusa.
Rapai geleng, ranup lampuan, ratoh duk, saman dan lainnya adalah bagian dari tarian tradisional Aceh. Di Gampong Nusa, Transferisasi pengetahuan dan pengalaman dari generasi sebelumnya ke generasi berikutnya terus dilakoni. Para pemain pada fase awal akan menjadi pelatih untuk pemain berikutnya, dan ini dilakukan dengan semangat sukarelawan tanpa ada fee.
Latihan rutin bersama dimalam hari adalah cara para generasi muda di desa Nusa dalam menjaga semangat dan memupuk rasa taggung jawab untuk membangun peradaban dalam masyarakat. Dengan Saling memberi support sesama pelaku seni atau penari di desa Nusa untuk perbaikan dan memupuk saling percaya untuk tetap berkontribusi dalam melestarikan warisan budaya