Berlapiskan cangkang yang khas, tipis namun menjadi pelindung sempurna untuk daging yang empuk dan enak dimakan. Adalah udang kekayaan khas perairan yang sering menjadi rebutan oleh orang-orang yang suka menyantap makanan laut atau tambak.
Dengan luasan perairan yang membentang hampir seluruh wilayah, Propinsi Aceh memiliki kawasan yang baik untuk pengembangan dan inportir udang. Udang menjadi salah satu sumber mata pencaharian nelayan, dan tidak heran jika aneka kuliner dari Aceh diolah dari Udang
Tumeh udeung merupakan satu diantara kuliner local yang sangat khas dari propinsi paling barat Indonesia. Dalam Bahasa Indonesia Tumeh udeung dapat diterjemah sebagai Udang tumis kerap menjadi menu utama dalam sajian kuliner Aceh. Misalnya dalam Adat pernikahan Aceh, pada jamuan Besan, Udeung Tumeh hadir mewarnai hidangan yang disusun sedemikian rupa indahnya.
Udang termasuk kedalam kelompok Malacostraca yang terbagi dalam beberapa spesies lainnya. Dalam pembuatan Udang Tumeh, pilihan udang yang bagus tentu akan membuat masakan ini menjadi lebih baik. Perpaduan aneka rempah-rempah seperti bawang merah, bawang putih, cabe rawit, cabe hijau, cabe merah, ketumbar, asam sunti (khas Aceh), jahe dan daun kari, kerap kuliner ini sangat disukai oleh banyak lidah.
Bumbu yang telah diiris kemudian digiling dan dimasak bersamaan dengan udang yang telah dibersihkan. Proses memasak memerlukan waktu sekitar 20-30 menit dan jangan lupa ditambahkan garam secukupnya dan daun kari ketika tumeh udeung ini mau matang.
Rasa harum nan wangi rempah-rempah begitu menyengati hidung, membayangkan enaknya Udang tumeh yang akan menjadi lauk nasi yang dibungkus daun pisang yang disebut Bu kulah (dalam Bahasa Aceh). Penyajian kuliner di Aceh dibuat sedimikian rupa, misalnya berbetuk hidang yang disusun sedemikian rupa, dan* udang tumeh* menjadi kuliner yang wajib hadir dalam prosesi kanduri di Aceh.
Dalam tatanan sosial masyarakat Aceh, Masakan Udeung Tumeh tidak ada perbedaan dari segi ekonomi. Keberadaan udang hampir menjamuri sampai kepelosok negeri, dengan kata lain hampir semua masyarakat Aceh pernah mencicipi Udeung tumeh (kecuali yang alergi ataupung tidak suka). Hal ini juga dipengaruhi dengan mudahya dapat memperoleh bumbu atau rempah yang dibumbui dalam kuliner ini. Tidak harus mengeluarkan biaya yang banyak untuk melahap jenis kuliner enak nan menggoda ini.
Hayuk kawan-kawan terus kita jaga dan lestarikan masakan daerah sebagai warisan budaya. Dan kita berpatut untuk terus bangga sebagai generasi Indonesia yang mencintai kuliner lokal.