'Jangan sedih kita dipandang sebelah mata, karena suatu saat kita akan congkel kedua mata mereka'
Setiap pemimpin mempunyai cara tersendiri dalam mempengaruhi bawahannya, salah satunya dengan mempermainkan kata-kata, bagaimana seorang bawahan rela mengorbankan apa saja karena terpengaruh dari ucapan sang pemimpinnya.
.
Seseorang yang pandai memainkan kata bisa dipastikan dia adalah penikmat sastra, kata- kata indah nan bertenaga yang terucap dari bibirnya pasti terinspirasi dari buku-buku sastrawan yang pernah dibacanya. Bagaimana seorang Hitler yang tidak bersungguh-sungguh menaklukkan daratan Inggris pada perang dunia kedua, hanya karena Hitler kagum akan sastrawan-sastrawan Inggris, padahal dia mempunyai kesempatan untuk itu.
.
Seorang Thariq bin Ziyad bisa menaklukkan tanah Andalusia pada tahun 711 Masehi hanya bermodalkan kata-kata penuh heroik, sesudah membakar perahu-perahu yang membawa pasukannya dia berpidato dengan kata-kata yang bertenaga ;
'Demi Allah kita tidak ada jalan pulang,
musuh didepanmu, laut dibelakangmu, taklukkan atau kita mati syahid'
Kata-kata yang bertenaga juga bisa kita temukan dalam sajak perang Sabil di Aceh, sajak yang dikarang Tgk Chik Pante Kulu diatas perahu ketika beliau pulang berhaji berhasil membangkitkan semangat perlawanan terhadap penjajah, ketika sajak-sajak tersebut diserahkan kepada para pemimpin perang, maka sajak tersebut berubah menjadi seribu rencong yang ganas.
.
Dizaman kekinian seorang pemimpin baik kepala daerah, negara maupun institusi lain sangat jarang kita dapatkan pemimpin yang bisa membangkitkan ghirah pengikutnya dengan kekuatan kata-kata, mereka hanya bisa mengumpat dan menyalahin bawahannya ketika menghadapi suatu kegagalan. sehingga kita lihat banyak pemimpin yang kehilangan wibawa dihadapan pengikutnya. Mudah-mudahan ke depan akan terlahir pemimpin-pemimpin seperti Thariq bin Ziyad. Wallahu'alam....