.
Atjeh Moorden atau sering disebut pembunuhan gila ala orang Aceh di zaman kolonial dulu tentu tidak sama dengan pembunuhan ulama ala orang gila di zaman sekarang. Dulu orang Aceh akan kambuh kegilaannya ketika harga diri terinjak, kehormatan keluarga terenggut dan tanah air tergadaikan, maka tanpa ba bi bu langsung "tueng bila"(balas dendam) tanpa memperhitungkan nyawa sendiri sebagai taruhan.
Sekarang "kegilaan" endatu kita dulu dimetamorfosis menjadi "gila"materi dan jabatan oleh generasi sekarang, ketika Periuk nasi kita terusik maka tanpa ba bi bu langsung kita geudh'am (kita injak) tanpa memperdulikan dia saudara kita.
Setiap sendi tatanan sosial kita masyarakat Aceh memang penuh kegilaan, maka tak heran banyak politisi kita "terciduk" ketika UAS di undang berceramah di Aceh. Pemimpin suatu kaum adalah cerminan dari kaum tersebut, kata orang bijak.
Ketika posisi pengambil kebijakan diisi oleh orang-orang yang tidak mempersiapkan diri dengan baik untuk posisi tersebut, "ibarat pasir memposisikan diri sebagai semen," tentu daya rekatnya sangat rapuh, oleh karenanya menjadi tanggung jawab kita bersama untuk mengakhiri kegilaan yang tak diharapkan oleh endatu kita dalam kontestasi politik mendatang, atau kita sama-sama nimbrung menjadi gila agar tak dibilang "gila" oleh orang gila.